{"status_code":200,"message":"Success","generated_at":"2026-10-24T02:16:44+07:00","request_id":"6807a236c5b7aa24cc6c86fa91234cdf","data":{"total_records":49,"records":[{"id":15273,"sourceId":"13c325fa8341f9e70c6368eeb2d88a08","url":"https://www.kompas.com/jawa-barat/read/2026/10/21/053000788/prakiraan-cuaca-bmkg-21-oktober-10-wilayah-jabar-berpotensi-hujan","title":"Prakiraan Cuaca BMKG 21 Oktober, 10 Wilayah Jabar Berpotensi Hujan","author":"Ahmad Naufal Dzulfaroh","publisherName":"kompas.com","content":"BANDUNG, KOMPAS.com - Sejumlah wilayah di Jawa Barat berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Rabu (21/10/2026).Namun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, sebagian besar wilayah di Jabar diprakirakan bakal cerah dan berawan sepanjang 24 jam ke depan.Warga Bogor, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sukabumi bersiap menghadapi potensi hujan dengan intensitas sedang pada Rabu.Lantas, mana saja wilayah di Jabar yang berpotensi hujan hari ini?Wilayah Jabar yang berpotensi hujan 21 OktoberBerikut prakiraan cuaca BMKG untuk wilayah Jawa Barat yang berpotensi hujan pada 21 Oktober:Kabupaten Bogor (hujan ringan-sedang)Kota Bogor (hujan ringan-sedang)Kota Depok (hujan ringan)Kabupaten Sukabumi (hujan ringan-sedang)Kota Sukabumi (hujan ringan)Kabupaten Cianjur (hujan ringan)Kabupaten Bandung (hujan sedang)Kabupaten Bandung Barat (hujan ringan)Kabupaten Garut (hujan ringan)Kabupaten Kuningan (hujan ringan)Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia mengatakan, potensi hujan ini akibat kondisi atmosfer yang masih mendukung pertumbuhan awan konvenktif.Menurutnya, kondisi ini masih bisa terjadi meski sedang berada pada fase El Nino.\"Pada skala global, dinamika atmosfer menunjukkan indeks ENSO terpantau pada nilai +2.72 yang mengindikasikan kondisi El Nino sangat kuat,\" ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Senin (5/10/2026).Kondisi ini ditambah dengan adanya fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan tren menguatnya Monsun Australia yang berpotensi membatasi suplai uap air.Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan ancaman bencana hidrometeorologi.Bencana tersebut antara lain hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara dengan memantau kanal resmi. ","publishedDateTime":"2026-10-21T05:30:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T05:30:00+07:00","createdAt":"2026-10-21T06:30:23.352997+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"cuaca","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-6.8608353082466,"longitude":107.79875904885,"shortDescription":"Potensi hujan di beberapa wilayah Jawa Barat disebabkan oleh kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif, meskipun sedang dalam fase El Nino yang kuat.","description":"BMKG memprakirakan cuaca di sebagian besar wilayah Jawa Barat pada Rabu, 21 Oktober 2026, akan cerah dan berawan. Namun, beberapa wilayah seperti Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bandung berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Prakiraan ini disebabkan oleh kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif, meskipun sedang dalam fase El Nino yang kuat.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15274,"sourceId":"e49f05748908a3e2e8927832cbdec801","url":"https://nasional.kompas.com/read/2026/10/21/06514191/bertemu-prabowo-dewan-ekonomi-bahas-kesiapsiagaan-hadapi-iklim-ekstrem","title":"Bertemu Prabowo, Dewan Ekonomi Bahas Kesiapsiagaan Hadapi Iklim Ekstrem hingga Karhutla","author":"Rahel Narda Chaterine, Bilal Ramadhan","publisherName":"kompas.com","content":" JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Marie Elka Pangestu meminta pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi perubahan iklim ekstrem. Sebab, ia mengatakan fenomena El Nino diperkirakan dapat berlangsung hingga kuartal pertama 2027 dan berpotensi disusul La Nina pada pertengahan tahun depan. Marie menyarankan langkah antisipasi yang terukur dengan mengoptimalkan pemanfaatan data dan prakiraan cuaca untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berisiko mengalami kekeringan, banjir, maupun bencana lainnya. \"Kita menyarankan menggunakan data dengan baik untuk mengidentifikasi titik-titik yang akan mengalami kekeringan dan di situ harus ada antisipasi dari segi pompa, penggunaan pompa yang tepat, kapan harus tanam, mungkin harus ditunda misalnya karena kekeringan dan juga mengantisipasi banjir dan kemungkinan dampak bencana,\" ungkap Marie usai bertemu Presiden RI Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Selasa (20/10/2026).  Dalam kesempatan ini, DEN turut memberikan perhatian terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya dampak kabut asap. Sebab, kabut asap karhutla sangat mengancam kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dalam rapat yang dipimpin Prabowo itu, Marie mengungkapkan, ada pembahasan soal langkah-langkah penanganan kebakaran hutan yang telah terjadi, termasuk upaya pengairan lahan gambut. \"Tapi kita juga memberi saran untuk melakukan pelayanan kesehatan di tempat-tempat yang paling terkena yaitu tiga provinsi di Kalimantan, Sumsel, Jambi, dan Riau,\" ungkap Marie.  Dia menyebut terdapat enam wilayah yang menjadi perhatian karena mengalami dampak cukup berat akibat asap kebakaran hutan, yakni tiga provinsi di Kalimantan serta Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau. DEN juga memandang perlunya langkah perlindungan kesehatan secara khusus bagi masyarakat di wilayah tersebut. \"Itu enam titik yang memang sangat terkena oleh asap dari kebakaran hutan. Bagaimana pemerintah juga memberi pelayanan kesehatan yang khusus kepada mereka-mereka. Termasuk pembagian masker dan seterusnya,\" jelasnya.  Selain kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, DEN juga menekankan soal ketahanan pangan. Dia menyoroti perlunya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional. DEN mendorong pemerintah memastikan kecukupan stok cadangan pangan, khususnya beras, sekaligus memperkuat distribusi untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan. \"Dan terutama mengenai pangan, ini sangat penting untuk menjaga harga pangan dan kesediaan pangan dengan menjaga stok cadangan pangan, terutama beras,\" kata Marie.  Lebih lanjut, DEN juga menyarankan agar pemerintah menyiapkan langkah intervensi pasar apabila terjadi gejolak harga pangan di tengah fenomena El Nino. \"Dan melakukan distribusi yang tepat dan melakukan operasi pasar bila mana diperlukan. Karena hampir semua insiden El Nino itu pasti dibarengi dengan kenaikan harga pangan. Dan ini sesuatu yang harus benar-benar kita antisipasi,\" tegasnya.","publishedDateTime":"2026-10-21T06:51:41+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T06:51:41+07:00","createdAt":"2026-10-21T07:30:20.33575+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Perubahan iklim ekstrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ketahanan pangan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Istana, Jakarta","province":"DKI Jakarta","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-6.2005227060502,"longitude":106.83670799657,"shortDescription":"Pemerintah diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim ekstrem dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) dengan mengoptimalkan pemanfaatan data dan prakiraan cuaca, serta memastikan ketahanan pangan.","description":"Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Marie Elka Pangestu meminta pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi perubahan iklim ekstrem, termasuk fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027 dan berpotensi disusul La Nina pada pertengahan tahun depan. DEN juga memberikan perhatian terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya dampak kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, serta menekankan pentingnya ketahanan pangan dengan menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15275,"sourceId":"62f59840adb77c2d03658a85f83b0857","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/07331671/serba-serbi-demo-di-jakarta-simbol-tiga-jari-hingga-keranda-dibakar","title":"Serba-serbi Demo di Jakarta: Simbol Tiga Jari hingga Keranda Dibakar","author":"Muhammad Isa Bustomi","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah aksi mewarnai demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, serta Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. Aksi tersebut diwarnai berbagai bentuk protes, mulai dari mengangkat tiga jari, membawa keranda bambu, hingga mencoba menerobos pembatas jalan menuju Istana Negara. Tiga Jari Simbol Perlawanan Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Sadar (Seruan Kedaulatan Rakyat) memulai aksi di kawasan Tugu Tani sekitar pukul 15.20 WIB. Massa memadati pekarangan Monumen Patung Pahlawan atau Tugu Tani. Mereka membentuk barisan setengah melingkar, sementara sejumlah perwakilan bergantian menyampaikan orasi.  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) turut hadir dalam aksi tersebut. Para mahasiswa tampak tidak mengenakan jas almamater kampus mereka. Dalam orasinya, Koordinator Sosial dan Politik BEM UI Hafidz Hernanda menginstruksikan peserta aksi mengangkat tiga jari sebagai bentuk protes. \"Tiga jari ini adalah lambang kemarahan kita dan kekecewaan kita, lambang perlawanan masyarakat atas pemimpin yang gagal!\" seru Hafidz. Massa juga membentangkan sejumlah spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah. Salah satu spanduk bertuliskan, \"Hentikan Peran Militer dalam Program MBG, KDMP, Satgas PKH, PT Agrinas \u0026 Proyek Strategis Lainnya\". Sementara itu, poster lainnya memuat tulisan, \"Mimpiku Ga Muluk-muluk: Bisa Bernapas Lega, Hutanku Terjaga\". Keranda Kemanusiaan Di lokasi berbeda, massa aksi dari Universitas Jayabaya tiba di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepatnya di depan Gedung BSI Tower dan Monumen Nasional, sekitar pukul 16.30 WIB. Massa yang mengenakan jas almamater berwarna oranye dan abu-abu itu datang menggunakan angkutan kota (angkot) dan sepeda motor dari arah Tugu Tani. Mereka dipimpin satu mobil komando.  Selain membawa spanduk dan atribut demonstrasi, mahasiswa membawa keranda bambu berwarna hijau bertuliskan \"Kemanusiaan\". \"Hari ini kami bawa oleh-oleh untuk pemerintahan Prabowo-Gibran,\" ucap salah satu peserta aksi dari atas mobil komando. Aksi tersebut membuat sebagian akses Jalan Medan Merdeka Selatan ditutup total. Kendaraan dari arah Patung Kuda untuk sementara tidak dapat melintas di jalan tersebut. Sementara itu, kendaraan dari arah Tugu Tani masih dapat melintas di Jalan Medan Merdeka, tetapi hanya bisa berbelok ke Jalan H. Agus Salim dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke arah Patung Kuda. Massa Coba Terobos Pembatas Ketegangan terjadi ketika massa mahasiswa Universitas Jayabaya mencoba menerobos pembatas jalan atau barrier untuk menuju Istana Negara. Berdasarkan pantauan Kompas.com, massa tiba-tiba merangsek ke arah pembatas sambil meneriakkan seruan reformasi. \"Reformasi, reformasi, reformasi,\" teriak massa aksi. Mereka kemudian mendorong, menendang, dan memukul pembatas beton tersebut. Pembatas itu sempat goyah dan miring akibat terus didorong massa. Kapolsek Metro Gambir AKBP Agus Ady Wijaya bersama sejumlah polisi yang berjaga langsung menghampiri mahasiswa yang berusaha menerobos. \"Sabar, mas. Mohon tenang, maaf,\" ucap Agus kepada para massa aksi.  Ketegangan berlanjut ketika massa membakar keranda bambu yang mereka bawa. Upaya pembakaran tersebut berujung cekcok setelah sejumlah polisi menghampiri titik pembakaran. Saat cekcok berlangsung, pihak kepolisian menyemprotkan alat pemadam api ringan (APAR) berisi foam ke arah kerumunan.  Spanduk Tuntutan di Tugu Tani Sementara itu, di kawasan Tugu Tani, sejumlah mahasiswa memanjat Patung Pahlawan untuk membentangkan spanduk tuntutan pada Selasa malam. Berdasarkan pantauan Kompas.com, aksi memanjat patung dimulai sekitar pukul 18.00 WIB. Sekitar lima orang bergotong royong agar dua orang di antaranya bisa naik ke atas patung. Setelah berhasil naik, massa dari bawah melemparkan spanduk dan tali untuk dibentangkan. Salah satu peserta kemudian memanjat tubuh patung petani perempuan untuk mengikat spanduk. Keberhasilan pembentangan spanduk itu disambut riuh dan tepuk tangan massa lainnya. \"Revolusi! Revolusi! Revolusi!\" seru massa dari bawah. Massa juga menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang bersama-sama. Spanduk tersebut memuat lima tuntutan utama, yakni menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana banjir sebagai bencana nasional.  Tuntutan kedua, menjamin dan memulihkan kesehatan warga serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang bertanggung jawab dalam krisis tersebut. Ketiga, memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan pasar; menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat. Keempat memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik sekaligus memberikan akses yang merata bagi seluruh rakyat. Perwakilan mahasiswa kemudian membacakan pernyataan sikap mengenai kondisi bangsa yang dinilai tengah dilanda krisis dan bencana. Mereka menegaskan bahwa aksi tersebut bukan akhir perjuangan dan berencana kembali menggelar demonstrasi yang lebih besar pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. \"Kami nyatakan, pada hari ini belum akan memjadi akhir perjuangan. Kami akan kembali dengan eskalasi yang lebih besar pada tanggal 28 Oktober, kami pastikan kami akan berlipat ganda,\" seru salah satu perwakilan massa. Setelah pernyataan sikap selesai dibacakan dan massa hendak membubarkan diri, polisi datang dan menurunkan spanduk tersebut sekitar pukul 18.35 WIB. Massa sempat menyoraki polisi, tetapi tidak terjadi keributan lanjutan. Mereka kemudian membubarkan diri dari lokasi aksi. (Reporter: Ridho Danu Prasetyo, Omarali Dharmakrisna Soedirman)","publishedDateTime":"2026-10-21T07:33:16+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T07:33:16+07:00","createdAt":"2026-10-21T08:00:23.072534+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Konflik Sosial","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Monumen Patung Pahlawan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Pusat","district":"Menteng","village":"Menteng"},"latitude":-6.2037198815055,"longitude":106.84475221487,"shortDescription":"Demonstrasi dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat sipil sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dianggap gagal.","description":"Pada Selasa (20/10/2026), mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar demonstrasi di Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Aksi dimulai sekitar pukul 15.20 WIB dengan massa memadati Monumen Patung Pahlawan, mengangkat tiga jari sebagai simbol perlawanan dan kekecewaan terhadap pemerintah, serta membentangkan spanduk kritik. Aksi ini merupakan bagian dari serangkaian protes yang juga terjadi di lokasi lain di Jakarta.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15279,"sourceId":"6e8fca8a0075ab291bc0c9b02604c387","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/07331671/serba-serbi-demo-2-tahun-prabowo-gibran-di-jakarta-simbol-tiga-jari","title":"Serba-serbi Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran di Jakarta: Simbol Tiga Jari hingga Keranda Dibakar","author":"Muhammad Isa Bustomi","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah aksi mewarnai demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, serta Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. Aksi tersebut diwarnai berbagai bentuk protes, mulai dari mengangkat tiga jari, membawa keranda bambu, hingga mencoba menerobos pembatas jalan menuju Istana Negara. Tiga Jari Simbol Perlawanan Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Sadar (Seruan Kedaulatan Rakyat) memulai aksi di kawasan Tugu Tani sekitar pukul 15.20 WIB. Massa memadati pekarangan Monumen Patung Pahlawan atau Tugu Tani. Mereka membentuk barisan setengah melingkar, sementara sejumlah perwakilan bergantian menyampaikan orasi.  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) turut hadir dalam aksi tersebut. Para mahasiswa tampak tidak mengenakan jas almamater kampus mereka. Dalam orasinya, Koordinator Sosial dan Politik BEM UI Hafidz Hernanda menginstruksikan peserta aksi mengangkat tiga jari sebagai bentuk protes. \"Tiga jari ini adalah lambang kemarahan kita dan kekecewaan kita, lambang perlawanan masyarakat atas pemimpin yang gagal!\" seru Hafidz. Massa juga membentangkan sejumlah spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah. Salah satu spanduk bertuliskan, \"Hentikan Peran Militer dalam Program MBG, KDMP, Satgas PKH, PT Agrinas \u0026 Proyek Strategis Lainnya\". Sementara itu, poster lainnya memuat tulisan, \"Mimpiku Ga Muluk-muluk: Bisa Bernapas Lega, Hutanku Terjaga\". Keranda Kemanusiaan Di lokasi berbeda, massa aksi dari Universitas Jayabaya tiba di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepatnya di depan Gedung BSI Tower dan Monumen Nasional, sekitar pukul 16.30 WIB. Massa yang mengenakan jas almamater berwarna oranye dan abu-abu itu datang menggunakan angkutan kota (angkot) dan sepeda motor dari arah Tugu Tani. Mereka dipimpin satu mobil komando.  Selain membawa spanduk dan atribut demonstrasi, mahasiswa membawa keranda bambu berwarna hijau bertuliskan \"Kemanusiaan\". \"Hari ini kami bawa oleh-oleh untuk pemerintahan Prabowo-Gibran,\" ucap salah satu peserta aksi dari atas mobil komando. Aksi tersebut membuat sebagian akses Jalan Medan Merdeka Selatan ditutup total. Kendaraan dari arah Patung Kuda untuk sementara tidak dapat melintas di jalan tersebut. Sementara itu, kendaraan dari arah Tugu Tani masih dapat melintas di Jalan Medan Merdeka, tetapi hanya bisa berbelok ke Jalan H. Agus Salim dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke arah Patung Kuda. Massa Coba Terobos Pembatas Ketegangan terjadi ketika massa mahasiswa Universitas Jayabaya mencoba menerobos pembatas jalan atau barrier untuk menuju Istana Negara. Berdasarkan pantauan Kompas.com, massa tiba-tiba merangsek ke arah pembatas sambil meneriakkan seruan reformasi. \"Reformasi, reformasi, reformasi,\" teriak massa aksi. Mereka kemudian mendorong, menendang, dan memukul pembatas beton tersebut. Pembatas itu sempat goyah dan miring akibat terus didorong massa. Kapolsek Metro Gambir AKBP Agus Ady Wijaya bersama sejumlah polisi yang berjaga langsung menghampiri mahasiswa yang berusaha menerobos. \"Sabar, mas. Mohon tenang, maaf,\" ucap Agus kepada para massa aksi.  Ketegangan berlanjut ketika massa membakar keranda bambu yang mereka bawa. Upaya pembakaran tersebut berujung cekcok setelah sejumlah polisi menghampiri titik pembakaran. Saat cekcok berlangsung, pihak kepolisian menyemprotkan alat pemadam api ringan (APAR) berisi foam ke arah kerumunan.  Spanduk Tuntutan di Tugu Tani Sementara itu, di kawasan Tugu Tani, sejumlah mahasiswa memanjat Patung Pahlawan untuk membentangkan spanduk tuntutan pada Selasa malam. Berdasarkan pantauan Kompas.com, aksi memanjat patung dimulai sekitar pukul 18.00 WIB. Sekitar lima orang bergotong royong agar dua orang di antaranya bisa naik ke atas patung. Setelah berhasil naik, massa dari bawah melemparkan spanduk dan tali untuk dibentangkan. Salah satu peserta kemudian memanjat tubuh patung petani perempuan untuk mengikat spanduk. Keberhasilan pembentangan spanduk itu disambut riuh dan tepuk tangan massa lainnya. \"Revolusi! Revolusi! Revolusi!\" seru massa dari bawah. Massa juga menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang bersama-sama. Spanduk tersebut memuat lima tuntutan utama, yakni menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana banjir sebagai bencana nasional.  Tuntutan kedua, menjamin dan memulihkan kesehatan warga serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang bertanggung jawab dalam krisis tersebut. Ketiga, memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan pasar; menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat. Keempat memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik sekaligus memberikan akses yang merata bagi seluruh rakyat. Perwakilan mahasiswa kemudian membacakan pernyataan sikap mengenai kondisi bangsa yang dinilai tengah dilanda krisis dan bencana. Mereka menegaskan bahwa aksi tersebut bukan akhir perjuangan dan berencana kembali menggelar demonstrasi yang lebih besar pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. \"Kami nyatakan, pada hari ini belum akan memjadi akhir perjuangan. Kami akan kembali dengan eskalasi yang lebih besar pada tanggal 28 Oktober, kami pastikan kami akan berlipat ganda,\" seru salah satu perwakilan massa. Setelah pernyataan sikap selesai dibacakan dan massa hendak membubarkan diri, polisi datang dan menurunkan spanduk tersebut sekitar pukul 18.35 WIB. Massa sempat menyoraki polisi, tetapi tidak terjadi keributan lanjutan. Mereka kemudian membubarkan diri dari lokasi aksi. (Reporter: Ridho Danu Prasetyo, Omarali Dharmakrisna Soedirman)","publishedDateTime":"2026-10-21T07:33:16+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T07:33:16+07:00","createdAt":"2026-10-21T08:30:26.61603+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Konflik Sosial","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Istana Negara, Patung Pahlawan (Tugu Tani)","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Pusat","district":"Menteng","village":"Menteng"},"latitude":-6.2037198815055,"longitude":106.84475221487,"shortDescription":"Demonstrasi dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat sipil sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang dianggap gagal.","description":"Demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran digelar di Jakarta pada Selasa (20/10/2026). Aksi mahasiswa dan masyarakat sipil di Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, dimulai sekitar pukul 15.20 WIB, diwarnai orasi dan pembentangan spanduk kritik. Di lokasi berbeda, di Jalan Medan Merdeka Selatan, massa dari Universitas Jayabaya menggelar aksi serupa sekitar pukul 16.30 WIB, membawa keranda bambu dan mencoba menerobos pembatas jalan menuju Istana Negara, yang berujung pada pembakaran keranda dan penyemprotan APAR oleh kepolisian.","affectedPaths":["Jalan Medan Merdeka Selatan"],"affectedPublicTransport":["angkot"],"alternativeRoutes":[]},{"id":15278,"sourceId":"3f35333f33592872027372d7944b5883","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/07385941/aksi-dan-jeritan-dalam-demo-2-tahun-prabowo-gibran-di-tugu-tani","title":"Aksi dan Jeritan dalam Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran di Tugu Tani...","author":"Ridho Danu Prasetyo, Abdul Haris Maulana","publisherName":"kompas.com","content":" JAKARTA, KOMPAS.com - Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Sadar (Seruan Kedaulatan Rakyat) menggelar demo di Monumen Patung Pahlawan atau Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Aksi yang dimulai sejak sore hari itu merupakan bentuk protes sekaligus evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Berbagai momen mewarnai jalannya aksi, mulai dari massa yang tidak mengenakan atribut kampus, penggunaan simbol tiga jari, pemblokiran jalan, hingga kesaksian mahasiswa asal Kalimantan mengenai penderitaan warga akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).  Tak kenakan almamater Berbeda dengan demo mahasiswa pada umumnya, massa yang didominasi oleh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan gabungan kampus lainnya ini sengaja turun ke jalan tanpa mengenakan jas almamater kampusnya. Koordinator Sosial dan Politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Hafidz Hernanda, menyebut langkah ini diambil untuk meleburkan diri dengan masyarakat sipil. \"Kali ini kawan-kawan dari BEM UI akan mengadakan aksi tidak menggunakan almamater sama sekali bersama dengan teman-teman mahasiswa agar kita bisa lebih inklusif dan bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil,\" ujar Hafidz di lokasi aksi, Selasa. Hafidz merasa mitos mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan harus ditanggalkan, karena semua rakyat berhak menyuarakan pendapatnya. Sementara itu, Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, menjelaskan alasan pemilihan Tugu Tani sebagai lokasi demo, bukan sekitaran Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada beberapa demo sebelumnya. Ia menilai, Bundaran HI memiliki simbolisme sebagai pusat bisnis, sedangkan tuntutan mahasiswa kali ini lebih menyoroti penderitaan masyarakat kelas bawah. \"Kita merasa bahwa Tugu Tani ini punya simbol yang paling sempurna untuk ini, karena yang kita tuntut hal-hal yang betul-betul dirasakan oleh rakyat sebenarnya secara langsung gitu,\" jelas Fathimah. Simbol Tiga Jari Di tengah jalannya aksi, massa menggunakan simbol tiga jari yang diangkat tinggi-tinggi sebagai bentuk solidaritas dan perlawanan.  \"Tiga jari ini adalah lambang kemarahan kita dan kekecewaan kita, lambang perlawanan masyarakat atas pemimpin yang gagal!\" seru Hafidz. Sejak awal hingga akhir aksi, berkali-kali massa menyerukan yel-yel yang membakar semangat dan nyanyian lagu perjuangan sambil mengangkat tinggi jari tangannya. Eskalasi massa sempat meningkat ketika sebuah mobil komando tiba di lokasi. Orator dari atas mobil mengajak massa yang semula beraksi di pekarangan monumen untuk turun mengokupasi badan jalan. Massa kemudian bergerak memblokade sebagian lajur di Jalan Menteng Raya yang mengarah dari Cikini menuju Monas. Imbasnya, arus lalu lintas tersendat dan kendaraan hanya bisa melintas pelan di dua lajur paling kiri. Jeritan Korban Bencana Karhutla Aksi ini tak hanya dihadiri mahasiswa Jabodetabek, tetapi juga perwakilan mahasiswa daerah.  Plt Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Satria Bima Agata, mengaku sengaja terbang dari Kalimantan Selatan ke Jakarta untuk menyuarakan derita warga yang dikepung kabut asap akibat karhutla. \"Untuk kabut asap di sana sangat terasa dan sudah berjalan sangat lama, yaitu sudah berjalan selama empat bulan, kami sesak napas selama empat bulan penuh dengan asap,\" ungkap Satria. Ia menceritakan bahwa selamat empat bulan, roda perekonomian dan kegiatan pendidikan sangat terbatas akibat asap pekat dengan jarak pandang hanya 5 meter. \"Bagaimana sampai akhirnya ada guru yang meninggal dan ada balita yang meninggal, dan sangat banyak yang terkena ISPA, ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah,\" ujarnya. Satria pun mengkritik keras pejabat pemerintah pusat yang kerap berkunjung ke lokasi, namun tak memberikan solusi nyata karena hutan masih terbakar sampai saat ini. \"Bagaimana mau presiden, mau wakil presiden, mau menteri yang sering ke sana, tapi per hari ini pun tidak ada perubahan sama sekali,\" keluhnya. Desakan Bencana Nasional Sementara itu, Yusril (24), salah satu massa aksi menuntut pemerintah untuk segera menetapkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sebagai bencana nasional. \"Sudah saatnya, atau bahkan sebenarnya sudah lewat sejak kemarin seharusnya dijadikan bencana nasional. karena pemerintah yang berkali-kali bilang sanggup, sampai saat ini tidak padam juga dan malah makin parah,\" ujar Yusril.  Ia juga meminta agar pemerintah tidak melihat jatuhnya korban jiwa hanya sebagai angka, tetapi menganggap serius dampak kebakaran hutan terhadap nyawa rakyatnya. \"Nyatanya sampai hari ini, sudah berapa orang yang meninggal karena asap. Karena jalan tertutup asap, ataupun secara langsung karena menghirup asap beracun,\" tuturnya. Panjat Patung dan Bentangkan Spanduk Saat hari mulai gelap sekitar pukul 18.00 WIB, massa aksi melakukan tindakan nekat dengan memanjat Patung Pahlawan di Tugu Tani. Lima orang bergotong royong dan saling menggendong menjadikan pundak rekan mereka sebagai tumpuan untuk mencapai puncak patung. Massa pun menyambut dengan riuh sorakan dan teriakan ketika spanduk itu berhasil terpasang. \"Revolusi! Revolusi! Revolusi!\" seru massa dari bawah. Namun, aksi pembentangan spanduk di atas patung ini tak berlangsung lama. Tepat setelah massa membacakan pernyataan sikap dan hendak membubarkan diri, polisi langsung menurunkan spanduk tersebut pada pukul 18.35 WIB, yang sempat diwarnai sorakan kekecewaan dari para demonstran.  Polisi yang hendak menyampaikan pesan melalui pengeras suara justru dikepung dan disoraki oleh massa aksi sebelum akhirnya membubarkan diri. Demo Lagi saat Sumpah Pemuda 28 Oktober Menutup rangkaian aksi pada Selasa malam, Ketua BEM UI, Yatalathof Imawan, menegaskan mahasiswa akan kembali menggelar demo dengan eskalasi yang lebih besar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 mendatang. \"Akan kami sampaikan bahwasanya pada tanggal 28 Oktober di Jakarta, akan kita adakan aksi nasional untuk menggugat kembali kedaulatan rakyat Indonesia!\" ucap Athof. Athof menyatakan pesan para massa aksi tak lagi ditujukan kepada elit politik, tetapi ditujukan kepada sesama masyarakat untuk sadar dan ikut berpartisipasi dalam demonstrasi. \"Pernyataan sikap ini kami sampaikan bukan kepada Istana, bukan kepada DPR, karena mereka semua telah tuli oleh kekuasaan dan bisu oleh kemunafikan. Pernyataan sikap ini untuk kita yang sejatinya menjerit, menderita, tapi tidak pernah didengar oleh penguasa!\" tuturnya. Ia juga menyinggung kondisi miris pendidikan dan masalah ketimpangan sosial yang tak kunjung bisa ditangani pemerintah. \"Dan sadarlah generasi muda Indonesia, bahwa hak kita adalah untuk memperjuangkan masa depan kita yang tidak dipedulikan oleh generasi masa kini,\" tutupnya. Adapun dalam demo ini, mahasiswa membawa lima tuntutan utama, yaitu sebagai berikut:  Menetapkan Karhutla dan Bencana Banjir sebagai bencana nasional, menjamin dan memulihkan kesehatan warga, serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang bertanggung jawab. Memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan pasar. Menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat. Memberantas maraknya praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik yang mahal, serta memberikan akses yang merata bagi seluruh rakyat. ","publishedDateTime":"2026-10-21T07:38:59+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T07:38:59+07:00","createdAt":"2026-10-21T08:00:23.072534+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Konflik Sosial","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Monumen Patung Pahlawan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Pusat","district":"Menteng","village":"Menteng"},"latitude":-6.2037198815055,"longitude":106.84475221487,"shortDescription":"Aksi demo mahasiswa dan masyarakat sipil sebagai bentuk protes dan evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, serta menyuarakan penderitaan korban karhutla.","description":"Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi demo di Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) sore untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Aksi ini diwarnai dengan massa yang tidak mengenakan atribut kampus, penggunaan simbol tiga jari, pemblokiran jalan, dan orasi yang menyuarakan penderitaan warga akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Puncak aksi terjadi saat massa memanjat patung dan membentangkan spanduk, yang kemudian diturunkan oleh polisi.","affectedPaths":["Jalan Menteng Raya (sebagian lajur yang mengarah dari Cikini menuju Monas)"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15282,"sourceId":"887618a83c620e33f709c923cbe943f6","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/21/083447478/pemulihan-287-hektare-sawah-rusak-akibat-banjir-di-pidie-aceh-capai-90","title":"Pemulihan 287 Hektare Sawah Rusak akibat Banjir di Pidie Aceh Capai 90 Persen","author":"Zuhri Noviandi, Eris Eka Jaya","publisherName":"kompas.com","content":"  PIDIE, KOMPAS.com - Pengerjaan program Optimasi Lahan (Opla) untuk pemulihan 287 hektare sawah rusak ringan akibat banjir di Kabupaten Pidie, Aceh, telah mencapai progres 90 persen hingga pertengahan Oktober 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) yang dipimpin Laksamana Pertama TNI Nouldy Tangka. Dia juga turut meninjau lahan sawah di Krueng Tiro untuk Kecamatan Kembang Tanjung, Kabupaten Pidie, Selasa (20/10/2026). \"Upaya pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Pidie pascabencana terus menunjukkan tren yang sangat positif,\" kata Nouldy. Nouldy menyebutkan, kolaborasi lintas instansi telah berhasil mengakselerasi pemulihan lahan persawahan warga. Dia memastikan urat nadi ekonomi petani Pidie kembali berdenyut.  Kabar baik datang dari program Opla terhadap lahan sawah kategori rusak ringan. Hingga pertengahan Oktober 2026, pengerjaan Opla seluas 287 hektare di Kabupaten Pidie telah menyentuh angka progres 90 persen. Berkat intervensi cepat dan desain terarah yang melibatkan tim akademisi Universitas Malikussaleh (Unimal), sebagian petak sawah tersebut kini bahkan telah mulai memasuki masa panen. \"Keberhasilan pemulihan 90 persen lahan Opla ini adalah bukti nyata kehadiran negara. Instruksi dari pusat melalui Satgas PRR langsung kami eksekusi di lapangan agar dapur petani kembali mengepul dan ketahanan pangan daerah terjaga,\" ujarnya. Pemulihan Sawah Rusak Berat Juga Dikebut Tidak hanya fokus pada kerusakan ringan, sebut Nouldy, Satgas PRR bersama Satgas Swasembada Pangan Kementerian Pertanian juga tengah mengerahkan alat berat secara masif untuk pilot project pemulihan 95 hektare sawah kategori rusak berat. Pengerjaan intensif ini difokuskan di lumbung-lumbung pangan strategis, seperti Desa Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong, Desa Pante Beunot, Kecamatan Tiro, dan Desa Blang Pandak di Kecamatan Tangse. Menyikapi adanya kendala administratif di lapangan, Satgas PRR menunjukkan fleksibilitas kebijakan yang berpihak pada rakyat. Seperti hamparan sawah di Gampong Baruh Yaman, Kecamatan Mutiara, yang sebelumnya terkunci pada status klasifikasi Rusak Berat (RB), tim teknis Satgas dan akademisi langsung turun tangan melakukan pemetaan koordinat per petak sawah. Langkah proaktif ini memungkinkan terbitnya Berita Acara Reklasifikasi teknis yang mengubah status lahan bersedimen tipis menjadi Rusak Sedang (RS).  \"Kebijakan adaptif ini secara langsung membuka kunci pencairan dana rehabilitasi dari Kementerian Pertanian senilai Rp3,225 miliar untuk 215 hektare lahan di Pidie,\" tuturnya. Perbaikan Irigasi Dikebut Jelang Musim Tanam Di sisi lain, negara juga hadir mengapresiasi inisiatif warga. Bagi petani yang sebelumnya telah bergotong-royong membersihkan lumpur secara mandiri, Satgas sedang merampungkan pemberkasan agar biaya pembersihan tersebut dapat diganti melalui skema swakelola. Selain itu, menyadari pentingnya ketersediaan air untuk musim tanam padi rendengan pada Oktober-Desember 2026 nanti, perbaikan infrastruktur pengairan juga turut dikebut. Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I berkoordinasi intensif dengan Dinas PUPR Pidie untuk penanganan darurat Bendungan Lhok Adan yang terdampak banjir. Sebagai dukungan tambahan, dialokasikan pula program irigasi perpompaan sebanyak 68 unit dengan nilai Rp 10,82 miliar serta paket irigasi lumbung pangan senilai Rp 35 miliar. \"Dengan sinergi solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, pemulihan persawahan di Kabupaten Pidie diyakini akan tuntas tepat waktu, mengembalikan senyum para petani untuk menyambut musim panen raya mendatang,\" pungkasnya.","publishedDateTime":"2026-10-21T08:34:47+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T08:34:47+07:00","createdAt":"2026-10-21T09:00:10.477281+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"sawah","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kabupaten Pidie, Aceh","province":"Aceh","regency":"Pidie","district":"Pidie","village":""},"latitude":5.36969185001955,"longitude":95.93531846660849,"shortDescription":"Banjir menyebabkan kerusakan pada lahan persawahan di Kabupaten Pidie, Aceh. Upaya pemulihan sedang dilakukan melalui program Optimasi Lahan dan perbaikan infrastruktur pengairan.","description":"Banjir yang melanda Kabupaten Pidie, Aceh, telah menyebabkan kerusakan pada 287 hektare sawah. Hingga pertengahan Oktober 2026, program Optimasi Lahan (Opla) untuk pemulihan sawah yang rusak ringan telah mencapai 90 persen progres. Upaya pemulihan ini melibatkan kolaborasi lintas instansi dan akademisi, serta pengerjaan intensif untuk sawah yang rusak berat di beberapa desa strategis. Selain itu, perbaikan infrastruktur pengairan juga dikebut untuk mendukung musim tanam mendatang.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15283,"sourceId":"dfa79e2c59eebe9c3a690186788e16a0","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/10094601/antisipasi-banjir-jelang-musim-hujan-dinas-pupr-depok-normalisasi-saluran","title":"Antisipasi Banjir Jelang Musim Hujan, Dinas PUPR Depok Normalisasi Saluran Air di 6 Titik","author":"Isna Rifka Sri Rahayu, Abdul Haris Maulana","publisherName":"kompas.com","content":" DEPOK, KOMPAS.com - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok mempercepat normalisasi saluran air di enam titik wilayah Depok, Jawa Barat, untuk mengantisipasi potensi genangan dan banjir menjelang musim hujan. Kepala DPUPR Kota Depok Yodi Joko Bintoro mengatakan, puluhan personel satuan tugas (satgas) dikerahkan untuk menangani saluran, kali, dan situ yang membutuhkan normalisasi. “Kami melibatkan puluhan satgas untuk melakukan kegiatan normalisasi di enam titik. Di antaranya Kali Cabang Timur Pancoran Mas, Situ Pengarengan Kecamatan Sukmajaya dan saluran di Jalan Raya Pendowo Kecamatan Limo,” ujar Yodi saat dikonfimasi, Rabu (21/10/2026).  Selain tiga lokasi tersebut, normalisasi dilakukan di saluran Jalan Tole Iskandar, Kecamatan Sukmajaya; Jalan Curug Agung, Kecamatan Beji; serta Jalan Pekapuran, Kecamatan Tapos. Yodi menjelaskan, penanganan di setiap lokasi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Pengerjaan dilakukan secara manual maupun menggunakan alat berat, di antaranya amphibi PC 210, truxor, spider R65, mini spider, dan amphibi PC200. Penggunaan alat berat tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung pengerjaan normalisasi di lokasi yang membutuhkan penanganan khusus. Melalui kegiatan ini, DPUPR Depok berupaya mengantisipasi potensi genangan dan banjir saat curah hujan meningkat pada musim hujan. Selain mengandalkan penanganan saluran, Yodi juga mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah ke kali maupun situ.  Sebab, sampah yang dibuang ke badan air dapat menghambat aliran air sehingga berpotensi meningkatkan risiko genangan. “Kesadaran masyarakat sangat penting. Mudah-mudahan kita bisa saling menghargai, baik menghargai sesama maupun lingkungan dengan tidak membuang sampah, terutama sampah plastik yang sulit terurai,” tuturnya.","publishedDateTime":"2026-10-21T10:09:46+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T10:09:46+07:00","createdAt":"2026-10-21T11:00:26.558111+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Saluran air, kali, dan situ","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Depok, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Depok","district":"Pancoran Mas","village":"Depok"},"latitude":-6.4032066853335,"longitude":106.81913022022,"shortDescription":"DPUPR Kota Depok melakukan normalisasi saluran air di enam titik untuk mengantisipasi banjir menjelang musim hujan.","description":"Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok mempercepat normalisasi saluran air di enam titik wilayah Depok, Jawa Barat, untuk mengantisipasi potensi genangan dan banjir menjelang musim hujan. Puluhan personel satuan tugas (satgas) dikerahkan untuk menangani saluran, kali, dan situ yang membutuhkan normalisasi, menggunakan pengerjaan manual maupun alat berat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi genangan dan banjir saat curah hujan meningkat.","affectedPaths":["Kali Cabang Timur Pancoran Mas","Situ Pengarengan","Jalan Raya Pendowo","Jalan Tole Iskandar","Jalan Curug Agung","Jalan Pekapuran"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15284,"sourceId":"274a3a3172eee57b0e49ef0eeb961a16","url":"https://nasional.kompas.com/read/2026/10/21/10200061/spanduk-greenpeace-suara-kecemasan-rakyat","title":"Spanduk Greenpeace Suara Kecemasan Rakyat","author":"Moh Samsul Arifin, Sandro Gatra","publisherName":"kompas.com","content":" DI ANTARA \"seabrek\" aksi bertepatan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, 20 Oktober 2026, spanduk Greenpeace yang paling merampas perhatian publik nasional. Spanduk itu dibentangkan di Monumen Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Spanduk dengan warna dominan kuning dan teks berwarna hitam itu membungkus dua sisi patung. Di sana terpacak kalimat \"Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?\" Satu lagi berbunyi \"Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup\". Aktivis Greenpeace melakukan aksi pasang spanduk ini dengan amat rapi dan terlatih. Setiap hal dipikirkan: Ukuran (panjang x lebar) kain, warna, waktu, jumlah orang, hingga materi teks yang ditulis dalam spanduk. Hasilnya, aktivis Greenpeace sukses mencuri perhatian khalayak. Mereka beraksi hanya sekian jam, tidak menguasai Bundaran HI sepanjang hari. Beberapa jam itu sudah cukup untuk mengirim pesan kepada publik serta pemerintah Indonesia. Bundaran HI adalah pusat keramaian. Aksi aktivis Greenpeace itu mengundang kamera hingga drone dari banyak orang yang lewat atau sengaja datang. Aksi itu lalu diunggah di media sosial dan media massa---menciptakan resonansi, gema, diskursus. Dari pembicaraan di dunia maya hingga obrolan ngalor-ngidul di warung kopi atau \"starling\" (pedagang kopi dan teh keliling menggunakan sepeda).  Hari Selasa itu, Monumen Patung Selamat Datang Indonesia 'dicuri' oleh aktivis Greenpeace. Kaki penyanggah monumen itu tiba-tiba bersalin rupa, berubah menjadi berbusana yang bisa 'bicara'. Para aktivis Greenpeace tak perlu berpidato untuk menyampaikan pesan. Spanduklah yang dipilih untuk mengutarakan pesan. Kalimatnya ringkas, padat, tangkas, milik umum. Publik terhubung, terkoneksi, dan terwakili oleh kalimat-kalimat yang dibubuhkan di spanduk tersebut. Mari selidiki. Di spanduk ditulis \"Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?\" Kalimat pernyataan sekaligus gugatan apa yang terjadi di Indonesia hari ini, tentang kebakaran hutan dan lahan, yang memunculkan kabut asap di sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan. Perlu bicara apa lagi untuk mengatakan bencana kabut asap itu telah darurat? Sementara pemerintah pusat emoh menetapkannya sebagai bencana nasional. Padahal, kasus ISPA telah hampir menembus 300.000 kasus. Hidup di lokasi bencana asap sangat tidak sehat, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Sudah sekitar empat bulan masyarakat di lokasi bencana berjibaku dengan api dan asap kebakaran. Tidak ada tanda-tanda bencana itu sanggup diatasi secara cepat. Namun, pemerintah pusat dengan enteng mengatakan \"masih mampu menangani Karhutla, meski sejumlah negara menawarkan diri\". Pola pikir semacam ini sudah ditempuh sejak bencana banjir bandang menerjang tiga provinsi di Sumatera pada November 2025 lalu, seolah menerima bantuan dari negara asing adalah tabu. Dan publik bertanya-tanya, adakah ini berkaitan dengan kedaulatan atau menyembunyikan fakta yang menyelubungi bencana yang disebut merupakan ulah tangan manusia (baca: korporasi jahat) itu? Mahkamah Konstitusi telah melonggarkan cara penetapan status bencana nasional dan daerah. Indikator yang harus dicermati antara lain jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah yang terkena bencana, hingga dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan. Dalam putusan nomor 261/PUU-XXIII/2025, MK menegaskan bahwa penetapan status dan tingkat bencana nasional sekurang-kurangnya harus memenuhi tiga indikator. Indikator utamanya jumlah korban. Apa yang disebut jumlah korban tak harus menunggu warga di lokasi bencana sekarat. Fakta bahwa kasus ISPA melonjak menunjukkan skala kegawatan yang harus dicerna. Bila pemerintah daerah tak sanggup atau dianggap tidak memiliki sumberdaya untuk mengatasi keadaan, pemerintah pusat perlu cepat-cepat turun tangan.  Ingat tragedi kematian korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur? Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban yang meninggal akibat gempa dengan magnitudo 7,7 mencapai 156 orang. Sebanyak 108 orang meninggal di pengungsian. Ini noktah hitam yang menggugat kehadiran negara---dari daerah hingga pusat. Menurut MK, Pasal 7 ayat 2 UU 24/2007 tentang penanggulangan bencana layak dicermati. Pasal ini adalah wujud perlindungan hukum atas hak hidup warga negara, di mana suatu peristiwa yang bersifat luar biasa dapat ditetapkan sebagai bencana. Konsekuensinya negara hadir melalui pemerintah pusat atau pemerintah daerah---melakukan tindakan penanganan untuk menanggulangi bencana dan dampaknya secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan. Publik bertanya: Apakah tuntutan keadaan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kurang valid untuk mengakui keadaan telah darurat? Tindakan lebih sigap lewat status bencana nasional belum relevan? Saudara kita di lokasi bencana adalah manusia. Mereka bukan 'kelinci percobaan'. Demikian juga dengan satwa yang hidup di hutan--rumah asli mereka beranak-pinak dan menjaga kelangsungan spesies. Sangat masygul kalau untuk urusan segenting itu negara kurang hadir, terlebih jika cuma bergantung terhadap turunnya hujan. Spanduk Greenpeace adalah suara kecemasan kita. Alarm tanda bahaya dan gugatan agar Jakarta mengerahkan segala yang negara ini punya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Untuk mengetahui kedaruratannya, jika perlu, presiden, wakil presiden, dan anggota kabinet terkait sebaiknya berkantor di provinsi yang terkurung kabut asap atau jerebu. Selain menyuarakan \"Bencana Makin Parah\", aktivis Greenpeace juga meneriakkan \"Hidup Makin Susah\". Spanduk itu seperti suara lirih atas situasi ekonomi rakyat yang kian sulit. Pekerjaan susah, penghasilan tak menentu, alhasil daya beli masyarakat rontok. Dua tahun belakangan ini adalah perjuangan untuk survive. Seorang aktivis Greenpeace yang naik hingga di atas Patung Selamat Datang, melambaikan poster bersuara lirih lainnya. \"Elite berpesta, rakyat menderita\". Siapa dan apa yang disasar kalimat tersebut? Tidak sulit mencarinya. Ia hadir dan eksis di sekitar kita. Dalam artikel \"Wantimpres dan Jomplangnya Kehidupan\", saya memaparkan derita rakyat kecil di tiga kota atau kabupaten. Ada tujuh orang yang tercekik situasi ekonomi yang tidak ramah. Mereka bukan orang malas, tapi kalah akibat struktur ekonomi yang timpang. Sementara itu, elite seperti obral jabatan---gonta-ganti menteri, wakil menteri, menteri koordinator hingga terakhir mengangkat 26 orang sebagai Dewan Pertimbangan Presiden. Yang terakhir ini digaji dengan banderol fantastis. Mengabadikan kesenjangan antara elite di Jakarta dan orang-orang kecil yang terpaksa hidup dalam ekonomi subsisten. Paradoks Indonesia tetap kekal karena kontradiksi dipelihara justru oleh pemerintah pusat.  Jika disederhanakan, aksi Greenpeace pada 20 Oktober 2026, adalah gugatan atas keadilan ekonomi dan keadilan ekologis yang makin jauh. Greenpeace mewakili suara cemas, menggenggam kecemasan orang banyak yang belum sempat dirumuskan lewat kata-kata. Menurut Greenpeace, berbagai bencana yang dipicu krisis iklim mewarnai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Jutaan warga Indonesia harus berjuang menghadapi dampak krisis iklim yang kian nyata, sementara biaya hidup terus meningkat. Riset teranyar Greenpeace Indonesia, “Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah,” mengungkap bahwa krisis iklim bukan hanya menghancurkan lingkungan, tapi juga menggerus penghasilan dan daya beli pekerja. Nelayan dan pekerja gig–seperti pengemudi ojek daring dan pekerja lepas–merupakan kelompok pekerja yang paling terdampak (Greenpeace.org, 20/10/2026). Aksi membentangkan spanduk di Bundaran HI, Jakarta, telah berlalu. Namun, pesan dari Greenpeace itu bakal abadi---direplikasi secara eksponensial di berbagai platform media sosial. Kalau pesan itu tidak menggetarkan kekuasaan, berarti ada yang keliru dalam tata kelola komunikasi di pemerintahan ini. Rakyat di lokasi bencana, terutama yang terpapar kabut asap nanpekat cemas berlipat: Cemas karena biaya hidup tinggi dan cemas terhadap keselamatan jiwa. Sementara di banyak lokasi lain, rakyat cemas karena harga-harga kebutuhan pokok makin tidak sanggup dibeli dengan dompet yang cekak akibat penghasilan pas-pasan. Dua spanduk dan sekian poster yang dibentangkan oleh Greenpeace bukan teriakan keras ala orasi demonstrasi mahasiswa. Bukan pula seperti pidato menggugat milik Sukarno (Indonesia Menggugat) atau Mohammad Hatta (Indonesia Merdeka) dekade 1930-an. Spanduk itu mewakili suara publik yang cemas dan celakanya kerap kali dibiarkan sendiri menghadapi krisis ekologis dan kesemrawutan ekonomi. Spanduk itu lebih dari cukup untuk mengingatkan.","publishedDateTime":"2026-10-21T10:20:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T10:20:00+07:00","createdAt":"2026-10-21T11:00:26.558111+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Monumen Patung Selamat Datang","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Monumen Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta","province":"DKI Jakarta","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-6.2005227060502,"longitude":106.83670799657,"shortDescription":"Aktivis Greenpeace melakukan aksi unjuk rasa dengan membentangkan spanduk di Bundaran HI, Jakarta, untuk menyuarakan keprihatinan terhadap penanganan krisis iklim dan kesulitan ekonomi yang dihadapi rakyat.","description":"Pada 20 Oktober 2026, aktivis Greenpeace membentangkan spanduk di Monumen Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, sebagai bentuk protes terhadap penanganan krisis iklim dan kondisi ekonomi rakyat yang semakin sulit. Aksi ini bertujuan untuk menarik perhatian publik dan pemerintah terhadap isu-isu tersebut, dengan pesan seperti \"Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?\" dan \"Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup\". Aksi berlangsung beberapa jam dan menjadi viral di media sosial.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15285,"sourceId":"27d1fc062d9c75d55f56aac16889fb88","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/11000031/jakarta-punya-1.457-taman-berapa-anggaran-untuk-merawatnya-","title":"Jakarta Punya 1.457 Taman, Berapa Anggaran untuk Merawatnya?","author":"Ruby Rachmadina, Muhammad Isa Bustomi","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan penataan terhadap 49 ruang terbuka hijau (RTH) sepanjang 2026. Selain memperbaiki fasilitas yang sudah ada, pemerintah juga menyiapkan anggaran ratusan miliar rupiah untuk memastikan taman dan ruang hijau di Ibu Kota tetap terawat dan dapat dimanfaatkan masyarakat. Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta Fajar Sauri mengatakan, penataan dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan fungsi RTH sesuai dengan kebutuhan setiap lokasi. \"Pada prinsipnya Dinas Pertamanan dan Hutan Kota terus berkomitmen untuk menjaga, memelihara kualitas RTH yang dikelola, dan melalui kegiatan penataan dilakukan peningkatan kualitas dan optimalisasi fungsi RTH sesuai dengan kebutuhan,\" kata Fajar, Senin (5/10/2026). Menurut Fajar, penataan tidak selalu berarti membangun fasilitas baru. Pemerintah juga melakukan perbaikan terhadap sarana dan prasarana yang sudah tersedia, menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing lokasi. \"Baik dalam bentuk perbaikan fasilitas maupun penambahan sarana prasarana,\" ujar dia. Penataan tersebut mencakup berbagai jenis RTH yang dikelola Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, mulai dari taman, makam, hutan kota, hingga jalur hijau. \"Di sepanjang tahun 2026 terdapat 49 lokasi RTH yang dilakukan penataan, baik RTH Taman, Makam, Hutan, dan Jalur Hijau,\" kata Fajar.  Anggaran Pemeliharaan RTH Capai Rp 471 Miliar Selain penataan, Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sekitar Rp 471 miliar untuk pemeliharaan RTH sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 378 miliar dialokasikan untuk membiayai petugas penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) yang bertugas di lapangan. Sementara itu, sekitar Rp 93 miliar digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan dan perlengkapan kerja. “Sedangkan untuk PJLP (penyedia jasa lainnya perorangan) lapangan sekitar Rp 378 miliar untuk pemeliharaan RTH,” ujar Fajar. Ia menjelaskan, pemeliharaan diperlukan untuk menjaga kondisi taman dan ruang hijau yang sudah tersedia agar tetap aman, bersih, nyaman, dan berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, kebutuhan anggaran pemeliharaan setiap taman tidak sama. Perhitungannya disesuaikan dengan luas dan karakteristik taman, kondisi tanaman, ketersediaan sarana dan prasarana, tingkat penggunaan, serta kebutuhan perbaikan dan kemampuan anggaran. \"Prinsipnya, anggaran pemeliharaan diarahkan agar menghasilkan kondisi taman yang aman, bersih, nyaman, fungsional, dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan,\" kata Fajar.   Besarnya anggaran pemeliharaan tersebut sejalan dengan banyaknya taman yang harus dirawat Pemprov DKI Jakarta. Saat ini, pemerintah mengelola 1.457 taman dengan luas total sekitar 4,43 juta meter persegi atau sekitar 443 hektare. Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan jumlah taman terbanyak, yakni 534 taman dengan luas sekitar 1,46 juta meter persegi. Berikutnya, Jakarta Timur memiliki 293 taman dengan luas sekitar 1,20 juta meter persegi. Jakarta Barat memiliki 285 taman dengan luas sekitar 570.597 meter persegi, sedangkan Jakarta Utara memiliki 241 taman dengan luas sekitar 852.066 meter persegi. Adapun Jakarta Pusat memiliki 104 taman dengan luas sekitar 345.038 meter persegi. Meski jumlah taman di Jakarta cukup banyak, Fajar menegaskan bahwa keberadaan RTH tidak bisa dinilai hanya berdasarkan jumlah maupun tingkat kunjungan masyarakat. RTH memiliki beragam bentuk dan fungsi. Tidak semuanya dirancang sebagai ruang publik yang dapat digunakan warga untuk beraktivitas secara langsung. \"Tidak seluruh RTH memiliki fungsi yang sama sebagai ruang publik yang dapat digunakan masyarakat secara langsung,\" ujar Fajar. Karena itu, keberhasilan pengelolaan RTH juga perlu dilihat dari fungsi ekologis, kemudahan akses, kondisi tanaman, keamanan, kebersihan, serta kelengkapan fasilitas yang tersedia. \"Tingkat kunjungan tidak semata-mata menjadi ukuran keberhasilan sebuah taman,\" ujar Fajar.  DKI Bangun RTH di Lebih dari 200 Lokasi Di samping merawat dan menata ruang hijau yang sudah ada, Pemprov DKI Jakarta juga terus membangun RTH baru. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota mencatat, sejak 2018 hingga 2026, pembangunan RTH telah dilakukan di lebih dari 200 lokasi. Pembangunan tersebut mencakup taman, hutan kota, makam, jalur hijau, hingga tempat pembibitan tanaman. Khusus pada 2026, pemerintah merencanakan pembangunan tujuh lokasi RTH taman, dua lokasi RTH hutan, dan satu tempat pembibitan tanaman. Menurut Fajar, pembangunan tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp 40 miliar, dengan lokasi tersebar di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. Total luas RTH yang dibangun diperkirakan mencapai 3,63 hektare. Sementara itu, penataan 49 lokasi RTH pada tahun yang sama membutuhkan anggaran sekitar Rp 94 miliar. Dengan demikian, upaya Pemprov DKI tidak hanya berfokus pada penambahan ruang hijau baru, tetapi juga peningkatan kualitas ruang hijau yang telah tersedia. Dalam lima tahun ke depan, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota berencana memperbaiki RTH yang sudah ada, memanfaatkan lahan yang tersedia, menghubungkan ruang-ruang hijau, serta memperluas akses masyarakat terhadap RTH. Wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan keterbatasan lahan menjadi salah satu prioritas dalam menentukan lokasi penambahan maupun perbaikan RTH.   Pengamat: RTH Idealnya Ada di Setiap RT atau RW Pengamat tata kota Trubus Rahadiansyah menilai, pembangunan RTH perlu diimbangi dengan pemeliharaan yang berkelanjutan. Menurut dia, pemerintah juga harus memastikan ruang hijau tersedia di lingkungan permukiman padat, bukan hanya di kawasan tertentu. \"Kalau saya, ruang terbuka hijau (RTH) itu idealnya ada di setiap RT atau RW. Selama ini kawasan permukiman kita sangat padat, dan kepadatan itu membutuhkan ruang terbuka hijau,\" kata Trubus. Ia menilai, keberadaan RTH yang dekat dengan permukiman akan memudahkan warga mengakses ruang terbuka tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Selain membantu mengurangi panas dan polusi, RTH juga memiliki fungsi sosial yang penting, terutama dalam situasi darurat. Menurut Trubus, ruang terbuka dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul warga ketika terjadi bencana, seperti banjir atau kebakaran. \"Ketika masyarakat harus dievakuasi, mereka punya tempat untuk berkumpul dan menyelamatkan diri,\" ujarnya. Karena itu, pembangunan RTH perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di sekitar lokasi, termasuk kemudahan akses dan manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Dengan anggaran pemeliharaan sekitar Rp 471 miliar, penataan di 49 lokasi, serta rencana pembangunan RTH baru sepanjang 2026, tantangan Pemprov DKI Jakarta tidak hanya terletak pada penambahan jumlah dan luas ruang hijau. Pemerintah juga perlu memastikan setiap RTH dikelola dengan baik, memiliki fungsi yang jelas, dan dapat memberikan manfaat nyata bagi warga. Terlebih di kawasan permukiman padat, keberadaan ruang terbuka yang mudah dijangkau tidak hanya mendukung kualitas lingkungan, tetapi juga menyediakan ruang interaksi sosial dan tempat berkumpul saat terjadi keadaan darurat. ","publishedDateTime":"2026-10-21T11:00:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T11:00:00+07:00","createdAt":"2026-10-21T11:30:18.064946+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Ruang Terbuka Hijau (RTH), taman, makam, hutan kota, jalur hijau","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"DKI Jakarta","province":"DKI Jakarta","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-6.2005227060502,"longitude":106.83670799657,"shortDescription":"Penataan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH) di DKI Jakarta dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan fungsi RTH, didukung oleh alokasi anggaran yang signifikan untuk pemeliharaan dan pembangunan RTH baru.","description":"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penataan terhadap 49 ruang terbuka hijau (RTH) sepanjang tahun 2026, termasuk taman, makam, hutan kota, dan jalur hijau. Penataan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan fungsi RTH sesuai kebutuhan lokasi, baik melalui perbaikan fasilitas yang ada maupun penambahan sarana prasarana. Selain itu, dialokasikan anggaran sekitar Rp 471 miliar untuk pemeliharaan RTH, yang mencakup Rp 378 miliar untuk petugas lapangan dan Rp 93 miliar untuk peralatan. Pemprov DKI Jakarta juga berencana membangun RTH baru di lebih dari 200 lokasi sejak 2018 hingga 2026, dengan fokus pada peningkatan kualitas dan perluasan akses masyarakat terhadap RTH.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15286,"sourceId":"a39efa0e4327ad012917be308c534c97","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/12112601/waduk-rawabadung-dibersihkan-tiap-hari-tapi-sampah-selalu-muncul-lagi","title":"Waduk Rawabadung Dibersihkan Tiap Hari, Tapi Sampah Selalu Muncul Lagi","author":"Muhammad Wildan Alghofari, Muhammad Isa Bustomi","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com - Waduk Rawa Badung di Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur, yang dibangun untuk menampung limpahan air hujan dan mengendalikan banjir, kini menghadapi persoalan sampah dan limbah rumah tangga. Mengutip laman resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pembangunan dan pengerukan Waduk Rawa Badung selesai pada tahun 2016. Namun, saat ini kondisi waduk yang semestinya membantu mengendalikan banjir itu malah harus berhadapan dengan masalah lingkungan. Mulai dari sampah yang terus berdatangan hingga air keruh dan bau yang mengganggu warga sekitar.  Petugas Bersihkan Waduk Setiap Hari, Sampah Tetap Berdatangan Petugas dari Pengelola Kebersihan Badan Air, Sayadir (53) datang setiap hari untuk membersihkan waduk. Namun, waduk selalu kembali kotor keesokan harinya, meski rutin dibersihkan. “Udah bersih, nanti kadang-kadang kita pulang sore, besok pagi udah ada (sampah) lagi,” kata Sayadir saat ditemui Kompas.com di Waduk Rawa Badung, Cakung, Jakarta Timur. Sayadir mengatakan, dirinya bersama seorang petugas lain rutin membersihkan waduk setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB.Mereka menyusuri permukaan waduk menggunakan perahu rakit untuk mengangkut sampah yang mengapung maupun terkumpul di sejumlah sisi perairan.Sampah yang paling banyak ditemukan berupa plastik dan styrofoam, dengan volume yang diangkut berkisar 0,5 hingga satu meter kubik per hari.Menurut dia, sampah yang masuk ke waduk meningkat saat hujan karena terbawa aliran air dari permukiman sekitar.“Kalau musim hujan ini sampah banyak banget ikut mengalir dari permukiman warga kebawa ke sini (waduk),” ujar Sayadir.Meski demikian, sampah masih ditemukan ketika musim kemarau karena sebagian warga tetap membuang sampah ke waduk.Usai dibersihkan, sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke tempat penampungan sementara di kawasan Klender. Sayadir mengaku petugas berupaya menjaga agar kegiatan pembersihan tidak terhenti, termasuk dengan mengatur jadwal libur secara bergantian.“Kalau kita libur, kadang-kadang banyak sampah. Tapi kan kita jarang libur. Biasanya kalau mau libur itu gantian,” kata Sayadir.Selain sampah padat, waduk juga menerima aliran air buangan dari permukiman, termasuk air bekas mandi warga.Sayadir menyebut kondisi air memang keruh, meski menurutnya pembersihan rutin membuat lumut yang sebelumnya kerap muncul di permukaan kini tidak lagi terlihat.  Bau Waduk dan Luapan Air Mengganggu Warga Bantaran  Persoalan lingkungan di Waduk Rawa Badung turut dirasakan Riri (40), warga yang tinggal di Gang Manunggal 5 di sekitar waduk.Ia menilai air waduk terlihat sangat keruh dan sampah masih terus muncul meskipun petugas kebersihan rutin melakukan pembersihan.“Air waduknya kan kelihatan keruh banget ya. Terus sampah tuh ada terus, padahal sebenarnya petugas kebersihan juga suka datang buat bersihkan,” kata Riri.Menurut Riri, keterbatasan tempat penampungan sementara di lingkungan permukiman membuat pengelolaan sampah menjadi persoalan tersendiri.Ia menduga kondisi tersebut turut mendorong sampah dibuang sembarangan atau terbawa aliran air hingga masuk ke waduk.Selain sampah yang terlihat di sekitar perairan, bau menyengat dari arah waduk juga mengganggu aktivitas warga sehari-hari.Riri mengatakan, persoalan semakin terasa ketika gorong-gorong ditutup atau tersumbat sehingga air waduk meluap ke belakang rumahnya.“Pas airnya surut, sampah-sampah yang sisa dari waduk itu pada ketinggalan di halaman belakang rumah. Jadi kotor banget dan kerjaan kita tambah banyak buat ngebersihin sisa-sisa sampahnya,” ujar Riri.Ia berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan petugas untuk membersihkan waduk, tetapi juga menyediakan tempat penampungan sampah yang layak di sekitar permukiman.Menurut Riri, perbaikan gorong-gorong dan aliran air juga diperlukan agar luapan tidak kembali mengotori rumah warga.  Sampah dan Limbah Mengancam Fungsi Waduk Pengamat lingkungan sekaligus dosen ilmu lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menjelaskan bahwa sampah dan limbah rumah tangga dapat menurunkan fungsi waduk sebagai infrastruktur pengendali banjir sekaligus ekosistem perkotaan. Sampah padat dapat menyumbat saluran masuk dan keluar air serta mempercepat pengendapan, sedangkan limbah cair menambah beban pencemar di perairan. Mahawan menjelaskan bahwa pembersihan hanya dengan menyisir dan memungut sampah tak cukup untuk mengatasi persoalan limbah di waduk. “Jadi membersihkan waduk tanpa memperbaiki sanitasi, wastewater, drainase dan persampahan di hulunya hanya menangani gejala,” kata Mahawan saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Jumat (2/10/2026). Limbah rumah tangga yang terus masuk juga dapat membawa bahan organik, deterjen, fosfat, nitrogen, serta mikroorganisme patogen.Penumpukan bahan pencemar tersebut berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut dan memicu eutrofikasi.Ketika perairan menerima zat kimia berlebihan maka pertumbuhan alga atau tumbuhan bisa air meningkat.Mahawan menambahkan, air keruh, bau menyengat, serta pertumbuhan tanaman air berlebihan dapat menjadi indikasi awal masalah kualitas air.Tetapi, status pencemaran tetap harus dipastikan melalui pengujian laboratorium.Hal yang perlu diperiksa antara lain oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biologis dan kimiawi, tingkat kekeruhan, kandungan nitrogen dan fosfor, serta keberadaan bakteri indikator pencemaran.Dalam jangka panjang, pencemaran dapat mengganggu ekosistem, mengurangi kapasitas efektif waduk akibat penumpukan sampah, serta risiko kesehatan yang mengintai. “Sanitasi buruk diketahui berkaitan dengan penyakit diare, disentri, tifoid dan berbagai penyakit berbasis air. Risiko ekologis, berupa masifnya alga atau gulma air dan kematian ikan. Risiko hidrologis dan sosial-ekonomi, karena sedimentasi, sampah dan tanaman air dapat mengurangi kapasitas efektif waduk serta mengganggu pengendalian banjir,” kata Mahawan. Pantauan Kompas.com di Waduk Rawa Badung menunjukkan air berwarna keruh dengan bau sampah yang tercium di sekitar lokasi.Sampah kering masih terlihat menumpuk di sejumlah sisi waduk, termasuk area yang berbatasan dengan Jalan Dr. KRT Radjiman Widyodiningrat.Di lokasi, petugas terlihat menyusuri waduk menggunakan perahu untuk mengangkut sampah, sementara sejumlah warga masih memanfaatkan perairan untuk memancing.Papan imbauan yang melarang aktivitas berenang, memancing, dan membuang sampah juga terlihat rusak serta dipenuhi coretan vandalisme.Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembersihan rutin belum cukup untuk menyelesaikan persoalan lingkungan di Waduk Rawa Badung.Kompas.com telah berupaya menghubungi Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur, Abdul Rauf Gafar untuk meminta keterangan terkait area waduk yang menjadi tempat bermuara limbah rumah tangga. Namun, hingga berita ini ditayangkan, Rauf masih belum memberikan jawaban.Penanganan sampah dari permukiman, perbaikan sistem drainase, serta pengelolaan limbah rumah tangga menjadi bagian penting agar waduk dapat menjalankan kembali fungsinya secara optimal. ","publishedDateTime":"2026-10-21T12:11:26+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T12:11:26+07:00","createdAt":"2026-10-21T12:30:16.388032+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Waduk Rawa Badung","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Waduk Rawa Badung, Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Timur","district":"Jatinegara","village":""},"latitude":-6.2246843451083,"longitude":106.87184125377,"shortDescription":"Sampah dan limbah rumah tangga terus dibuang ke Waduk Rawa Badung dari permukiman sekitar, menyebabkan waduk kotor dan berbau meskipun dibersihkan setiap hari.","description":"Waduk Rawa Badung di Jakarta Timur menghadapi masalah sampah dan limbah rumah tangga yang terus-menerus meskipun dibersihkan setiap hari oleh petugas. Sampah plastik dan styrofoam mendominasi, dengan volume mencapai 0,5 hingga 1 meter kubik per hari, yang meningkat saat hujan karena terbawa aliran dari permukiman. Kondisi ini tidak hanya mengganggu warga sekitar akibat bau menyengat dan luapan air, tetapi juga mengancam fungsi waduk sebagai pengendali banjir dan ekosistem perkotaan karena penyumbatan saluran dan pencemaran air.","affectedPaths":["Jalan Dr. KRT Radjiman Widyodiningrat"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15287,"sourceId":"04d519633d699c8e8e43e26db8e8b52c","url":"https://www.kompas.com/global/read/2026/10/21/125456770/el-nino-picu-cuaca-ekstrem-di-dunia-indonesia-alami-karhutla-terburuk","title":"El Nino Picu Cuaca Ekstrem di Dunia, Indonesia Alami Karhutla Terburuk sejak 2015","author":"Tri Indriawati","publisherName":"kompas.com","content":"  LONDON, KOMPAS.com - Fenomena El Nino yang terus menguat sepanjang 2026 mulai memberikan dampak besar terhadap pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, India, Amerika Serikat, China, dan Jepang, mengalami perubahan cuaca yang ditandai dengan kekeringan, kebakaran hutan, hingga meningkatnya aktivitas badai. El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat daripada kondisi normal. Perubahan suhu laut tersebut dapat memengaruhi pola angin dan distribusi hujan di berbagai wilayah dunia. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan El Nino akan terus menguat dan bertahan setidaknya hingga awal 2027.  Fenomena tersebut juga diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026. Dilansir dari BBC, Selasa (20/10/2026), dampak El Nino sudah terlihat di sejumlah kawasan, meskipun pengaruhnya berbeda-beda bergantung pada kondisi geografis dan pola cuaca setempat. Di sebagian wilayah, El Nino menyebabkan kondisi lebih panas dan kering, sedangkan wilayah lain mengalami peningkatan aktivitas badai tropis. Berikut lima dampak El Nino yang tengah dirasakan di berbagai negara. 1. Indonesia mengalami musim karhutla terburuk sejak 2015 Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami dampak besar El Nino pada 2026. Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut BBC, Indonesia tengah menghadapi musim kebakaran hutan terburuk sejak 2015. Sejak Januari 2026, sedikitnya 895.657 hektare lahan telah terbakar. Luas tersebut hampir enam kali lipat wilayah Greater London dan lebih dari dua kali luas lahan yang terbakar sepanjang tahun sebelumnya, ketika tidak ada pengaruh El Nino. Kebakaran tersebut menyebabkan kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jutaan penduduk dilaporkan terpapar kabut asap yang mengandung polutan berbahaya. Kondisi tersebut juga mengganggu kegiatan masyarakat, termasuk menyebabkan penutupan sekolah dan peningkatan jumlah pasien di rumah sakit. Sekitar 175.000 orang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap. Dari jumlah tersebut, lebih dari 40.000 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Gangguan kesehatan yang dilaporkan bervariasi, mulai dari batuk, bronkitis, hingga penyakit yang lebih serius seperti pneumonia. Kondisi kering akibat El Nino menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran dan penyebaran api. Namun, El Nino bukan berarti menjadi penyebab langsung seluruh kebakaran, karena kebakaran hutan dan lahan juga berkaitan dengan sumber penyulut api serta kondisi pengelolaan lahan.  2. Aktivitas badai di Pasifik timur meningkat tajam Berbeda dengan Indonesia yang mengalami kondisi lebih kering, kawasan Samudra Pasifik bagian timur justru mencatat peningkatan aktivitas badai. Menurut BBC, musim badai tahun ini sudah menghasilkan 22 badai yang diberi nama. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 berkembang menjadi hurikan, termasuk 10 hurikan besar. Angka tersebut telah melampaui jumlah badai yang biasanya terbentuk sepanjang satu musim rata-rata, meskipun masih tersisa sekitar dua bulan sebelum musim badai berakhir. El Nino dapat memperkuat pembentukan badai di Pasifik timur karena meningkatkan suhu permukaan laut dan mengurangi kekuatan angin di lapisan atmosfer atas. Kondisi tersebut memungkinkan badai tropis memperoleh energi lebih besar dan berkembang menjadi lebih kuat. Salah satu contohnya adalah Hurikan Polo yang mengalami penguatan sangat cepat. Badai tersebut menghasilkan hembusan angin hingga 285 kilometer per jam. Polo juga pernah terbentuk bersamaan dengan dua hurikan lainnya, yakni Odalys dan Nolo, di kawasan samudra yang sama. Fenomena tiga hurikan yang aktif secara bersamaan bahkan terjadi dua kali hanya dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Pada September 2026, tiga hurikan lain, yakni Lowell, Karina, dan Marie, juga tercatat aktif secara bersamaan di Pasifik tengah dan timur. Sebelum tahun ini, kejadian terakhir tiga hurikan yang aktif bersamaan di Pasifik tercatat pada 2015.  3. Musim badai Atlantik justru lebih tenang Pengaruh El Nino terhadap aktivitas badai tidak selalu sama di setiap wilayah. Ketika Samudra Pasifik timur mengalami peningkatan jumlah hurikan, kondisi di Samudra Atlantik justru relatif lebih tenang. Hal tersebut berkaitan dengan perubahan pola angin akibat El Nino. Di Atlantik utara, El Nino cenderung meningkatkan geseran angin vertikal atau wind shear. Geseran angin merupakan perubahan kecepatan atau arah angin pada ketinggian yang berbeda. Kondisi ini dapat mengganggu struktur badai tropis sehingga menghambat pembentukan dan penguatannya. Menurut BBC, hanya satu hurikan yang tercatat mencapai daratan pada musim ini, yakni Isaias. Hurikan tersebut menghantam kawasan Florida Panhandle dan Alabama, Amerika Serikat. Isaias juga tercatat sebagai hurikan yang terbentuk paling lambat dalam musim badai Atlantik sejak pengamatan satelit dimulai pada 1960-an. Sebelumnya, rekor pembentukan hurikan paling lambat terjadi pada 11 September, masing-masing pada 2002 dan 2013. Pada musim rata-rata, kawasan Atlantik biasanya sudah mengalami sekitar 10 badai bernama, lima hurikan, dan dua hurikan besar pada periode ini. Namun, aktivitas badai Atlantik pada 2026 berada di bawah kondisi rata-rata tersebut. Delapan badai tropis yang disebutkan dalam laporan BBC adalah Arthur, Bertha, Cristobal, Dolly, Edouard, Fay, Gonzalo, dan Hanna. Perbedaan kondisi antara Pasifik timur dan Atlantik menunjukkan bahwa El Nino dapat memperkuat aktivitas badai di satu wilayah sekaligus menghambatnya di wilayah lain. 4. Kekeringan di India mengancam sektor pertanian India juga menghadapi perubahan pola hujan yang berkaitan dengan El Nino. Negara tersebut mengalami musim monsun dengan jumlah curah hujan lebih rendah daripada rata-rata. Menurut BBC, curah hujan monsun India pada 2026 berada sekitar 13 persen di bawah kondisi normal. Departemen Meteorologi India atau India Meteorological Department (IMD) masih mengategorikan penurunan tersebut dalam kisaran normal. Namun, angka rata-rata nasional tidak menggambarkan perbedaan kondisi hujan di seluruh wilayah India. Kawasan India tengah menerima curah hujan yang relatif mendekati normal. Sebaliknya, wilayah timur dan timur laut mengalami curah hujan sekitar 26 persen di bawah rata-rata sehingga menghadapi kondisi kekeringan yang sangat parah. Negara-negara bagian di India selatan juga mencatat curah hujan sekitar 24 persen lebih rendah daripada rata-rata. Selain berkurangnya jumlah hujan, pola kedatangannya juga mengalami perubahan. Di sejumlah wilayah, hujan tidak turun secara berkelanjutan seperti yang biasanya terjadi selama musim monsun. Sebaliknya, periode kering berlangsung cukup panjang sebelum diselingi hujan dengan intensitas ekstrem. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor pertanian karena tanaman membutuhkan ketersediaan air yang relatif stabil selama masa pertumbuhan. Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa El Nino bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi musim monsun India. Terdapat sejumlah pola cuaca dan iklim lain yang turut menentukan jumlah serta distribusi hujan di negara tersebut. 5. Topan kuat melanda China timur dan Jepang Dampak El Nino juga terlihat pada aktivitas topan di Samudra Pasifik bagian barat. China timur dan Jepang menghadapi musim badai aktif yang menyebabkan banjir serta tanah longsor di sejumlah wilayah. Badai Maysak dan Dujuan termasuk di antara topan yang baru-baru ini membawa hujan lebat dan memicu bencana tersebut. Menurut Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA), sebanyak 10 siklon tropis terbentuk di Pasifik barat sepanjang musim ini. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu musim sejak 1966, berdasarkan laporan BBC. El Nino memengaruhi aktivitas topan di Pasifik barat melalui perubahan suhu laut dan pola angin. Ketika El Nino berlangsung, siklon tropis cenderung terbentuk lebih jauh ke arah timur, menjauhi Jepang dan China timur. Namun, lokasi pembentukan yang lebih jauh tersebut memberikan kesempatan bagi badai untuk bergerak lebih lama di atas perairan hangat. Selama bergerak di atas laut, badai dapat memperoleh tambahan energi dan berkembang menjadi topan yang lebih kuat sebelum mencapai daratan. Para ilmuwan memperkirakan masih ada kemungkinan terbentuknya topan tambahan sepanjang sisa tahun 2026. Topan tersebut juga berpotensi kembali memengaruhi Jepang maupun kawasan China timur. Meski demikian, belum dapat dipastikan wilayah mana yang akan terdampak maupun seberapa kuat badai yang akan terbentuk. El Nino diperkirakan berlanjut hingga 2027 WMO memperingatkan bahwa El Nino yang sangat kuat dapat mengubah pola suhu, curah hujan, dan pergerakan atmosfer di berbagai wilayah dunia. Fenomena tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kekeringan, gelombang panas, hujan ekstrem, dan badai di kawasan tertentu. Namun, besarnya pengaruh El Nino tidak selalu sama di setiap negara.  Kondisi geografis, musim, serta fenomena iklim lain dapat memperkuat atau mengurangi dampaknya. Dalam pembaruan yang diterbitkan pada September 2026, WMO menyatakan peluang El Nino bertahan hingga Februari 2027 mendekati 100 persen. Dampaknya terhadap pola cuaca global juga diperkirakan dapat berlanjut sepanjang 2027. Karena itu, pemantauan perkembangan El Nino dan sistem peringatan dini menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana akibat cuaca ekstrem.","publishedDateTime":"2026-10-21T12:54:56+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T12:54:56+07:00","createdAt":"2026-10-21T13:30:20.313179+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Kebakaran","severity":"Tinggi","eventStatus":"selesai","damagedObject":"hutan dan lahan","victim":"175.000 orang mengalami gangguan pernapasan, lebih dari 40.000 kasus pada anak di bawah lima tahun","location":{"full_address":"Indonesia, Sumatera, Kalimantan","province":"Kalimantan Barat","regency":"Sambas","district":"Paloh","village":"Kalimantan"},"latitude":1.6090086468223,"longitude":109.18211934597,"shortDescription":"El Nino memicu kondisi cuaca yang lebih panas dan kering di Indonesia, meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.","description":"Fenomena El Nino yang menguat sepanjang 2026 menyebabkan cuaca ekstrem di berbagai negara, termasuk Indonesia yang mengalami musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terburuk sejak 2015. Sejak Januari 2026, sedikitnya 895.657 hektare lahan terbakar, menyebabkan kabut asap tebal yang menyelimuti Sumatera dan Kalimantan. Jutaan penduduk terpapar kabut asap berbahaya, mengakibatkan gangguan pernapasan pada sekitar 175.000 orang, termasuk lebih dari 40.000 anak-anak. Kondisi kering akibat El Nino memperbesar risiko kebakaran, meskipun bukan satu-satunya penyebab.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15288,"sourceId":"533d054bbd85c158ae5d667e11a02ed4","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/13030081/tiap-hari-saya-mancing-di-sini-saat-larangan-di-waduk-tak-dihiraukan","title":"Tiap Hari Saya Mancing di Sini, Saat Larangan di Waduk Tak Dihiraukan","author":"Muhammad Wildan Alghofari, Muhammad Isa Bustomi","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com - Papan larangan memancing masih berdiri di kawasan Waduk Rawa Badung, Jatinegara, Jakarta Timur, meskipun kondisinya rusak dan dipenuhi coretan.Imbauan dilarang berenang, memancing, dan membuang sampah sembarangan di papan itu masih terbaca.Namun, berdasar pantauan Kompas.com di lokasi pada Rabu (30/9/2026), tampak sejumlah warga tetap memanfaatkan tepian waduk untuk memancing. Papan imbauan yang seharusnya menjadi pengingat, justru tak diindahkan. Di balik air waduk yang terlihat keruh dan bau sampah yang sesekali menyengat, aktivitas warga itu tetap berlangsung.Salah satunya Asri (65), salah seorang warga yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di tepian Rawa Badung.Bagi Asri, memancing di Rawa Badung bukan sekadar mencari ikan, tetapi juga menjadi cara mengisi hari setelah pensiun dari pekerjaannya di bidang farmasi.Ia datang hampir setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB dan biasanya pulang menjelang siang.“Betul. Saya setiap hari mancing di sini, dari jam 8 (pagi) sampai jam 12 (siang),” kata Asri saat ditemui Kompas.com di Waduk Rawa Badung, Rabu. Asri mengatakan ikan yang biasa ia dapatkan antara lain lele, gabus, dan patin, meski hasil tangkapan tidak selalu bisa dibawa pulang.Pada hari Kompas.com menemuinya, beberapa joran telah dipasang tetapi belum ada ikan yang berhasil didapat.Jika mendapat ikan, Asri biasanya membawanya pulang untuk dikonsumsi sendiri.Kegiatan itu sekaligus menjadi hiburan baginya karena ia bisa menghabiskan waktu di luar rumah.“Pertama hiburan hobi, kedua saya memang udah kena usia. Daripada saya tidur pagi banyak penyakit gitu, di sini kan kita bisa berjemur juga,” ujar Asri.  Waduk Rawa Badung Lebih Baik daripada Sebelumnya, meski Banyak Sampah Menurut Asri, kondisi Rawa Badung saat ini justru jauh lebih mudah digunakan untuk memancing dibandingkan beberapa tahun lalu.Menurutnya, dulu kawasan tersebut masih berupa rawa yang dipenuhi tanaman liar sehingga warga harus membuka jalan terlebih dahulu sebelum bisa beraktivitas. Perubahan mulai terasa setelah kawasan tersebut mendapat perawatan rutin dari petugas.Asri menyebut aktivitas memancing kini juga tidak hanya dilakukan oleh dirinya, karena warga lain datang untuk memancing hingga menjala ikan.Ia bahkan melihat sejumlah warga membawa keluarga untuk menghabiskan waktu di sekitar waduk.“Memang tempat hiburan rakyat juga termasuknya ya. Yang hobi mancing khususnya. Kadang orang juga di sini pada bawa keluarga,” kata Asri.Meski begitu, Asri mengakui keberadaan sampah tetap mengganggu aktivitas warga yang memancing.Menurut dia, pemancing biasanya menunggu petugas menyelesaikan pembersihan sebelum kembali memasang joran di titik yang dituju.  Petugas Menyisir Sampah Setiap Hari  Aktivitas warga tersebut berjalan berdampingan dengan pekerjaan petugas Unit Pengelola Kebersihan Badan Air yang setiap hari menyisir permukaan waduk menggunakan perahu palka.Salah satu petugas, Sayadir (53), mengatakan dirinya bertugas membersihkan sampah di Rawa Badung bersama seorang rekannya, Abdul Rahim.Keduanya bekerja sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 15.30 WIB.“Kalau di sini cuma berdua, tiap pagi mulai jam 8 terus jaga aja di sini nanti jam setengah empat (sore) sisir (waduk) lagi,” ujar Sayadir.Sampah yang paling banyak ditemukan, berupa plastik dan styrofoam yang terbawa aliran air dari kawasan permukiman.Dalam kondisi normal, sampah yang berhasil dikumpulkan bisa mencapai sekitar setengah meter kubik dalam sehari.Namun, jumlahnya dapat meningkat hingga sekitar satu meter kubik ketika sampah dari kawasan permukiman terbawa air saat hujan.“Kalau musim hujan ini sampah banyak banget dah pokoknya,” kata Sayadir.Sampah yang telah dikumpulkan tidak langsung dibiarkan di sekitar waduk, melainkan dipindahkan terlebih dahulu sebelum diangkut menuju TPS sementara di kawasan Klender, Jakarta Timur.Persoalannya, sampah baru selalu kembali muncul tidak lama setelah petugas meninggalkan lokasi.Sayadir mengatakan masih ada warga yang membuang sampah ke waduk meski permukaannya baru saja dibersihkan.“Udah bersih, nanti kadang-kadang kita pulang sore, besok pagi udah ada lagi,” ujar Sayadir.Kondisi itu membuat petugas harus menjaga agar tidak terjadi kekosongan personel di lapangan.Mereka juga memilih mengambil waktu libur secara bergantian sehingga setidaknya selalu ada petugas yang melakukan pembersihan.Menurut Sayadir, kondisi waduk juga berkaitan dengan aliran air dari permukiman yang membawa limbah rumah tangga menuju Rawa Badung.Air buangan tersebut membuat air waduk terlihat keruh, sementara sampah domestik ikut terbawa masuk melalui saluran air.Di musim kemarau, Sayadir mengatakan permukaan waduk sebelumnya juga kerap dipenuhi lumut dan kotoran berwarna hitam yang muncul dari bagian bawah.Kondisi itu kini lebih jarang terlihat karena pembersihan dilakukan secara rutin.Selain sampah, eceng gondok juga pernah menjadi persoalan di Rawa Badung.Sayadir menjelaskan tanaman tersebut sebelumnya sempat dimanfaatkan warga untuk kegiatan budidaya ikan, tetapi pertumbuhannya yang cepat membuat jumlahnya sulit dikendalikan.“Kalau tumbuhnya (eceng gondok) itu cepat. Jangka setengah bulan aja dia banyak. Kalau masalah cepat membusuknya itu dia paling seminggu juga. Seminggu kita angkat, seminggu udah busuk dia,” kata Sayadir.Meski saat ini eceng gondok tidak terlihat memenuhi permukaan waduk seperti sebelumnya, keberadaan tanaman tersebut tetap perlu dikendalikan karena pertumbuhannya relatif cepat.Sayadir juga menyebut Rawa Badung tidak pernah benar-benar kering meski sedang musim kemarau.Sebaliknya, persoalan muncul ketika hujan deras dan aliran air dari permukiman membawa debit air serta sampah dalam jumlah lebih besar.Sebelum dilakukan pembersihan secara rutin, Sayadir mengatakan air waduk bahkan kerap meluap hingga menyebabkan banjir di sekitar kawasan.  Air Meluap, Sampah Masuk ke Halaman Rumah Masalah lingkungan Rawa Badung tidak hanya dirasakan oleh orang yang beraktivitas di waduk, tetapi juga warga yang tinggal di bantaran.Riri (40), warga Gang Manunggal 5, Jatinegara, Jakarta Timur, mengatakan air waduk sehari-hari terlihat keruh dan sampah masih kerap ditemukan meski petugas rutin melakukan pembersihan.Menurut Riri, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya pembersihan.Tetapi juga karena belum tersedianya tempat pembuangan sementara yang memadai di sekitar permukiman.“Sepertinya sih karena di kawasan pemukiman kita ini memang belum ada Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang memadai. Jadi warga bingung buang sampahnya ke mana, akhirnya ya ada aja yang kebuang atau mengalir sampai ke waduk ini,” ujar Riri.Bau dari sampah menjadi salah satu gangguan yang paling sering dirasakan warga.Namun, persoalan yang lebih mengkhawatirkan muncul ketika saluran atau gorong-gorong tersumbat.Riri mengatakan air waduk dapat meluap hingga masuk ke bagian belakang rumahnya.Ketika air surut, sampah yang terbawa aliran air tertinggal di halaman sehingga warga harus kembali membersihkan area rumah.“Jadi pas airnya surut, sampah-sampah yang sisa dari waduk itu pada ketinggalan di halaman belakang rumah. Jadi kotor banget dan kerjaan kita tambah buat ngebersihin sisa-sisa sampahnya,” kata Riri.Kondisi tersebut menunjukkan persoalan Rawa Badung tidak berhenti pada tampilan permukaan waduk.Saluran air, sampah rumah tangga, hingga kondisi permukiman di sekitarnya turut menentukan bagaimana waduk menjalankan fungsinya sebagai tempat penampungan air.Kompas.com telah berupaya menghubungi Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur, Abdul Rauf Gafar untuk meminta keterangan terkait area waduk yang menjadi tempat bermuara limbah rumah tangga dan terkait larangan memancing apakah masih berlaku di waduk Rawa Badung. Namun, hingga berita ini ditayangkan Abdul Rauf Gafar masih belum memberikan jawaban.Waduk Rawa Badung pun kini berada pada dua kondisi sekaligus, tetap menjalankan fungsi sebagai penampung limpasan air.Tetapi juga menjadi ruang aktivitas warga dan tempat masuknya limbah dan sampah dari lingkungan sekitar. ","publishedDateTime":"2026-10-21T13:03:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T13:03:00+07:00","createdAt":"2026-10-21T14:00:22.225808+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Waduk Rawa Badung","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Waduk Rawa Badung, Jatinegara, Jakarta Timur","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Timur","district":"Jatinegara","village":""},"latitude":-6.2246843451083,"longitude":106.87184125377,"shortDescription":"Warga tetap memancing di Waduk Rawa Badung meskipun ada larangan, karena waduk tersebut menjadi sarana hiburan dan pengisi waktu luang bagi mereka.","description":"Pada Rabu, 30 September 2026, sejumlah warga tetap memancing di Waduk Rawa Badung, Jatinegara, Jakarta Timur, meskipun terdapat papan larangan yang rusak dan dipenuhi coretan. Aktivitas memancing ini berlangsung sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB hingga menjelang siang, di mana warga seperti Asri (65) memanfaatkan waduk sebagai sarana hiburan dan mengisi waktu luang. Kondisi waduk yang terlihat keruh dan berbau sampah tidak menyurutkan niat mereka untuk memancing.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15289,"sourceId":"22a8913def03bdd2f0c595be72b0a116","url":"https://bandung.kompas.com/read/2026/10/21/131707078/farhan-akui-kekeringan-ganggu-pasokan-air-pdam-bandung-minta-distribusi","title":"Farhan Akui Kekeringan Ganggu Pasokan Air PDAM Bandung, Minta Distribusi Tangki","author":"Putra Prima Perdana, Eris Eka Jaya","publisherName":"kompas.com","content":"BANDUNG, KOMPAS.com - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membenarkan Kota Bandung saat ini tengah menghadapi kekeringan yang menyebabkan pasokan air PDAM berkurang ke pelanggan.Untuk mengatasi hal tersebut, Farhan meminta Perumda Tirtawening Kota Bandung untuk menambah kapasitas air bersih baku dari sumber-sumber lainnya.\"Kami sekarang memang sangat berjuang, tetapi kerja sama kami dengan beberapa titik sumber air, baik di daerah Kabupaten Bandung maupun Kabupaten Bandung Barat, berjalan dengan sangat baik. Juga dengan bantuan dari pihak provinsi, saat ini pengadaan air cadangan masih tersedia dengan sangat baik, terutama di tempat-tempat penampungan air,\" ujar Farhan di Simpang Lima, Kota Bandung, Rabu (21/10/2026).Minta PDAM Rutin Kirim Air TangkiFarhan juga membenarkan banyak pelanggan PDAM Tirtawening yang tidak teraliri akibat pasokan air bersih berkurang.Untuk itu, Perumda Tirtawening diminta untuk rutin mendistribusikan air bersih ke pelanggan dan warga Kota Bandung yang membutuhkan air bersih menggunakan truk tangki.\"Disuntik air dulu dengan menggunakan tangki. Ini bagian dari upaya kami untuk memenuhi kebutuhan air,\" tuturnya.Farhan pun mewajarkan banyak pelanggan PDAM yang merasa kecewa dengan kondisi kekeringan saat ini hingga pasokan air bersih ke rumah-rumah menjadi terhambat.\"Nah, tagihannya nanti saya coba tanya secara detail ke direktur (Dirut) PDAM. Apakah pelayanannya tetap dihitung atau tidak,\" ucapnya.Prediksi Hujan dan Risiko BanjirMenurut informasi yang didapat dari BMKG, Farhan mengatakan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Indonesia bakal memasuki musim hujan.\"Kekeringan ini memang satu hal yang sudah diperingatkan. Dalam pertemuan antara para wali kota se-Banten, se-Jawa Barat, dan se-Jawa Tengah di Kota Bogor, Kepala BMKG sudah memperingatkan bahwa musim hujan yang sekarang adalah musim hujan El Nino,\" ujarnya.\"Terakhir El Nino terjadi di Indonesia tahun '97. Karakteristiknya adalah musim hujan yang pendek, hanya 3 bulan, tetapi apabila turun di titik-titik tertentu intensitasnya sama dengan hujan 6 bulan. Nah, jadi sementara itu tetap akan terjadi kekeringan. Tapi, sekalinya hujan, ada risiko banjir,\" ujarnya.","publishedDateTime":"2026-10-21T13:17:07+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T13:17:07+07:00","createdAt":"2026-10-21T14:00:22.225808+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Pasokan air PDAM","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Bandung","district":"","village":""},"latitude":-6.9207879219102,"longitude":107.61999814672,"shortDescription":"Kekeringan yang melanda Kota Bandung menyebabkan pasokan air PDAM berkurang. BMKG memprediksi musim hujan mendatang akan berkarakteristik El Nino.","description":"Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membenarkan Kota Bandung sedang menghadapi kekeringan yang menyebabkan pasokan air PDAM berkurang. Untuk mengatasi hal ini, Perumda Tirtawening Kota Bandung diminta untuk menambah kapasitas air bersih baku dari sumber-sumber lain dan rutin mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki ke pelanggan yang membutuhkan. BMKG memprediksi musim hujan mendatang akan menjadi musim hujan El Nino yang pendek namun berpotensi intensitas tinggi, sehingga sementara kekeringan masih terjadi, ada risiko banjir saat hujan turun.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15290,"sourceId":"873b5aa47a0f22203d8c1dcfb37bd8c1","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/21/13583291/anggaran-ketahanan-bencana-jakarta-baru-terserap-26-persen-bagaimana","title":"Anggaran Ketahanan Bencana Jakarta Baru Terserap 26 Persen, Bagaimana Persiapan Hadapi Banjir?","author":"Ruby Rachmadina, Andi Muttya Keteng Pangerang","publisherName":"kompas.com","content":" JAKARTA, KOMPAS.com - Anggaran program penguatan ketahanan kota terhadap risiko bencana di DKI Jakarta baru terserap Rp 1,26 triliun atau 26,07 persen dari total anggaran Rp 4,84 triliun hingga triwulan III 2026. Anggaran tersebut mencakup sejumlah program, di antaranya pembangunan tanggul pengaman pantai dan pengembangan sistem drainase untuk mengantisipasi risiko banjir di Jakarta. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta Michael Rolandi menjelaskan, salah satu kendala pembangunan tanggul pengaman pantai adalah pembebasan lahan.  \"Untuk yang tanggul, tadi menurut penjelasan teman-teman di Sumber Daya Air, memang salah satu kendalanya adalah selama ini pembebasan lahan,\" ujar Michael dalam konferensi pers realisasi APBD triwulan III 2026 di Balai Kota Jakarta, Rabu (21/10/2026). Ia mengatakan, Pemprov DKI Jakarta tengah mempercepat proses pembebasan lahan agar realisasi anggaran pembangunan tanggul dapat meningkat pada triwulan IV 2026. \"Ini juga kita sedang lakukan percepatan ke sana agar pada saat nanti di triwulan keempat itu bisa direalisasikan sesuai dengan target,\" katanya.  Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Atika Nur Rahmania menjelaskan, anggaran pembangunan tanggul pengaman pantai merupakan anggaran tahun jamak atau multiyears. Karena itu, penyelesaian pembangunan tanggul tidak hanya dilakukan dalam satu tahun anggaran. \"Anggaran untuk pembangunan tanggul itu merupakan anggaran multiyears. Jadi, kita akan speed up untuk bisa menyelesaikan di 2027, dimulai dari tahun 2025 awalnya untuk kegiatan tersebut,\" ujar Atika. Pembangunan tanggul pengaman pantai merupakan salah satu program dalam penguatan ketahanan kota terhadap risiko bencana di Jakarta.  Selain tanggul, program tersebut mencakup pengembangan sistem drainase, penetapan zona konservasi air tanah, pemeliharaan hidran kota dan alat bantu pernapasan, serta pelatihan dan simulasi pencegahan kebakaran. Pemprov DKI juga mengalokasikan anggaran untuk persediaan logistik, peralatan perlindungan bencana, dan operasi modifikasi cuaca. Hingga triwulan III 2026, realisasi anggaran program tersebut baru mencapai Rp 1,26 triliun dari total Rp 4,84 triliun.  Michael mengatakan, realisasi belanja pemerintah daerah biasanya meningkat pada triwulan IV karena banyak pembayaran kegiatan dilakukan menjelang akhir tahun. Ia mencontohkan, realisasi belanja pada triwulan III di sejumlah tahun sebelumnya meningkat pada akhir tahun anggaran. Menurut Michael, Pemprov DKI kini berupaya mempercepat pelaksanaan kegiatan agar realisasi anggaran dapat memenuhi target yang telah ditetapkan. Meski demikian, percepatan realisasi anggaran program ketahanan bencana menjadi perhatian, terutama karena pembangunan infrastruktur pengendalian banjir membutuhkan waktu dan persiapan.","publishedDateTime":"2026-10-21T13:58:32+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T13:58:32+07:00","createdAt":"2026-10-21T14:30:15.551695+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Anggaran program penguatan ketahanan kota terhadap risiko bencana, pembangunan tanggul pengaman pantai, sistem drainase","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"DKI Jakarta","province":"DKI Jakarta","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-6.2005227060502,"longitude":106.83670799657,"shortDescription":"Realisasi anggaran program ketahanan bencana di DKI Jakarta baru mencapai 26,07 persen karena kendala pembebasan lahan untuk pembangunan tanggul pengaman pantai.","description":"Anggaran program penguatan ketahanan kota terhadap risiko bencana di DKI Jakarta baru terserap 26,07 persen dari total anggaran Rp 4,84 triliun hingga triwulan III 2026. Anggaran tersebut mencakup pembangunan tanggul pengaman pantai dan pengembangan sistem drainase untuk mengantisipasi risiko banjir. Salah satu kendala pembangunan tanggul adalah pembebasan lahan, yang sedang dipercepat oleh Pemprov DKI Jakarta agar realisasi anggaran pembangunan tanggul dapat meningkat pada triwulan IV 2026. Pembangunan tanggul pengaman pantai merupakan anggaran tahun jamak yang ditargetkan selesai pada 2027.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15291,"sourceId":"28ab2b92a2e6261e6ffef6be4eb540f2","url":"https://medan.kompas.com/read/2026/10/21/165617378/bmkg-peringatkan-potensi-banjir-rob-di-medan-utara-23-31-oktober-2026","title":"BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Medan Utara 23-31 Oktober 2026","author":"Wahyu Wachid Anshory ","publisherName":"kompas.com","content":"  MEDAN, KOMPAS.com - Masyarakat di wilayah Medan Utara, Sumatera Utara, diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir pesisir atau banjir rob pada 23 hingga 31 Oktober 2026. Fenomena pasang air laut diperkirakan memengaruhi sejumlah kawasan pesisir dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, hingga kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Peringatan tersebut disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan.   Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, Nur Auliakhansa, mengatakan potensi banjir rob diperkirakan terjadi di tiga kecamatan di wilayah Medan Utara, yakni Medan Belawan, Medan Labuhan, dan Medan Marelan. BMKG memprakirakan ketinggian pasang air laut dapat mencapai 2,3 meter hingga 2,7 meter. Periode pasang yang perlu diwaspadai diperkirakan berlangsung pada dini hari, ketika aktivitas pasang air laut dapat memengaruhi kawasan pesisir yang rentan terhadap genangan. \"Pasang diatas 2,3 meter pada pukul 00.00 hingga 04.00 WIB dengan pasang tertinggi mencapai 2,7 m. Ketinggian diukur dari titik surut terendah (Lowest Astronomical Tides),\" ucap Nur Auliakhansa, Rabu (21/10/2026).  BMKG mengingatkan bahwa pasang air laut berpotensi mengganggu transportasi di sekitar pelabuhan dan kawasan pesisir. Selain itu, genangan juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat serta kegiatan bongkar muat barang. Bagi warga, banjir rob dapat menyebabkan akses jalan tergenang sehingga perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, pasar, atau fasilitas pelayanan umum menjadi lebih sulit. Genangan yang terjadi pada dini hari juga berpotensi mengganggu aktivitas warga yang harus bepergian atau bekerja pada jam tersebut. Sementara itu, di kawasan pelabuhan, kenaikan air laut dapat memengaruhi kegiatan operasional dan mobilitas pekerja maupun kendaraan. Pelaku usaha yang bergantung pada aktivitas kepelabuhanan perlu memperhatikan perkembangan kondisi cuaca maritim agar dapat mengantisipasi kemungkinan gangguan. Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul BMKG Prediksi Banjir Rob di Tiga Kecamatan Medan 23-31 Oktober, Pasang Tertinggi Terjadi Dini Hari.","publishedDateTime":"2026-10-21T16:56:17+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T16:56:17+07:00","createdAt":"2026-10-21T17:30:24.14134+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir Rob","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"kawasan pesisir, pelabuhan, akses jalan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Medan Utara, Sumatera Utara","province":"Sumatera Utara","regency":"Kota Medan","district":"","village":""},"latitude":3.5794586477337,"longitude":98.668161040583,"shortDescription":"Potensi banjir rob di Medan Utara disebabkan oleh fenomena pasang air laut yang diperkirakan mencapai ketinggian 2,3 hingga 2,7 meter.","description":"BMKG memprediksi potensi banjir rob di wilayah Medan Utara, Sumatera Utara, pada tanggal 23 hingga 31 Oktober 2026, dengan ketinggian pasang air laut diperkirakan mencapai 2,3 hingga 2,7 meter. Fenomena ini diperkirakan terjadi pada dini hari dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":["transportasi di sekitar pelabuhan","transportasi di kawasan pesisir"],"alternativeRoutes":[]},{"id":15292,"sourceId":"1747ddf756c928cd6352e80e74199123","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/21/183655078/anggaran-rp-93-m-dialokasikan-untuk-perbaiki-24-jalan-dan-17-jembatan-tahan","title":"Anggaran Rp 93 M Dialokasikan untuk Perbaiki 24 Jalan dan 17 Jembatan Tahan Bencana di Agam","author":"Dharma Harisa, Icha Rastika","publisherName":"kompas.com","content":" AGAM, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat menyiapkan anggaran Rp 93 miliar untuk memperbaiki jalan dan jembatan terdampak bencana. Pembangunan kembali tersebut diarahkan agar infrastruktur lebih tahan terhadap ancaman banjir bandang atau galodo dan tanah longsor. Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Agam, Widodo Budiyanto, mengatakan, anggaran itu bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Bencana 2026 dan sisa Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kebencanaan 2025 dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Dari tambahan TKD 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 87,8 miliar, terdiri dari Rp 54,4 miliar untuk jalan dan Rp 33,4 miliar untuk jembatan. Dana tersebut mencakup penanganan 24 ruas jalan sepanjang sekitar 17 kilometer dan pembangunan 17 unit jembatan.  Sementara itu, sisa BKK Kebencanaan 2025 sebesar sekitar Rp 5,2 miliar digunakan untuk empat paket pekerjaan jalan dan satu jembatan permanen. Dengan demikian, total anggaran dari kedua sumber pendanaan mencapai sekitar Rp 93 miliar. \"Untuk pekerjaan yang masuk dalam skema rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana ini terbagi dari dua sumber dana,\" kata Widodo, Rabu (21/10/2026). Delapan Ruas Jalan Dialihkan Trasenya Widodo menyampaikan, pekerjaan jalan yang dibiayai tambahan TKD 2026 mencakup 24 ruas di 12 kecamatan. Dari jumlah tersebut, delapan ruas ditangani melalui pengalihan trase atau pemindahan jalur, sedangkan 16 ruas lainnya mendapat perbaikan sedang. Pekerjaan tersebar di Kecamatan Malalak, Tanjung Raya, Palembayan, Matur, IV Koto, Canduang, Ampek Nagari, Baso, Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, Tilatang Kamang, dan Palupuh. Sejumlah ruas yang ditangani antara lain Koto Alam-Pasar Batu Kambing, Malalak-Ulu Banda, serta Simpang Canduang-Simpang Bukik Batabuah. Pengalihan trase dilakukan pada lokasi tertentu dengan mempertimbangkan kondisi medan dan kebutuhan biaya. Pada ruas yang berada di tebing atau jurang dalam, pembangunan dinding penahan badan jalan membutuhkan biaya besar sehingga pemindahan jalur menjadi salah satu pilihan penanganan.  Sementara itu, sisa BKK Kebencanaan 2025 digunakan untuk empat paket pekerjaan jalan. Pekerjaan tersebut didominasi pengedaman atau pembangunan dinding penahan badan jalan yang amblas dan terban di Kecamatan Tanjung Raya, IV Koto, dan Palupuh. Pertimbangkan Risiko Galodo Untuk pekerjaan jembatan yang dibiayai tambahan TKD 2026, terdapat 18 paket pekerjaan yang disiapkan. Namun, satu paket tidak jadi dilaksanakan karena jembatan bailey di lokasi tersebut telah dibangun oleh TNI. Dengan demikian, sebanyak 17 unit jembatan dikerjakan melalui skema TKD tambahan. Rinciannya, 14 jembatan permanen, dua jembatan bailey, dan satu jembatan gantung. Pembangunan tersebar di sejumlah kecamatan, termasuk Malalak, Tanjung Raya, Canduang, Palembayan, Lubuk Basung, Tilatang Kamang, dan IV Koto. Melalui sisa BKK Kebencanaan 2025, pemerintah juga membangun satu jembatan permanen di Kecamatan IV Koto.  Widodo mengatakan, penanganan jembatan disesuaikan dengan kondisi lokasi dan kebutuhan teknis. Pada sejumlah titik, bentang jembatan diperlebar dan elevasinya ditinggikan untuk mengurangi risiko kerusakan akibat gerusan arus sungai. Namun, pada beberapa lokasi, pekerjaan hanya memungkinkan peninggian elevasi.  Keterbatasan anggaran dan lahan menjadi pertimbangan dalam menentukan desain yang dapat diterapkan. Pada ruas jalan yang rawan longsor, pemerintah juga menggunakan dinding penahan beton atau retaining wall concrete (RWC), bronjong, pasangan batu, serta perbaikan drainase. Penanganan tersebut ditujukan untuk memperkuat badan jalan dan mengurangi risiko kerusakan berulang. Jembatan Bukik Batabuah Rampung Desember Salah satu proyek yang menerapkan pendekatan mitigasi bencana adalah pembangunan Jembatan Bukik Batabuah (J.106), Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Jembatan tersebut dibangun menggunakan anggaran TKD Bencana sebesar Rp 3,537 miliar. Pekerjaan dilaksanakan CV Midya Karya dengan pengawasan teknis CV Bina Citra Consultant. Berdasarkan kontrak bernomor 2.2.34/JBT.TKD-P.III/DPUTR-AG/VII.2026, pekerjaan dimulai pada 5 Agustus 2026 dan ditargetkan selesai 13 Desember 2026. Hingga pertengahan Oktober 2026, progres fisik pembangunan mencapai 55 persen. Abutment 1 telah selesai 100 persen, sedangkan pekerjaan Abutment 2 masih berlangsung.  Dua unit ekskavator dikerahkan untuk mengeruk material batu berukuran besar atau boulder di dasar sungai. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari persiapan pembangunan struktur jembatan permanen.  Bupati Agam Benny Warlis mengatakan, desain baru Jembatan Bukik Batabuah tidak lagi menggunakan pilar di tengah sungai. Langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan kerusakan jembatan lama saat bencana galodo pada 2024. \"Kita belajar dari bencana 2024 lalu. Jembatan lama hancur karena pilar di tengah sungai menahan material kayu dan batu,\" kata Benny. Menurut dia, jembatan baru dirancang dengan dua tumpuan tanpa pilar tengah, bentang lebih lebar, dan elevasi lebih tinggi. Desain tersebut diharapkan mengurangi risiko penumpukan material dan kerusakan akibat arus sungai. Benny mengatakan, pembangunan jembatan juga berkaitan dengan pemulihan ekonomi warga. Jembatan Bukik Batabuah merupakan jalur alternatif penghubung Sumatera Barat dengan Riau, sekaligus akses bagi masyarakat yang mengangkut hasil pertanian. \"Kami tidak ingin warga harus memutar tiga kilometer hanya untuk mengangkut hasil bumi,\" ujarnya. Progres 90 Persen Widodo mengatakan, seluruh paket pekerjaan Bidang Bina Marga Dinas PUTR telah menyelesaikan proses lelang. Pekerjaan saat ini berlangsung di lapangan dan belum ada yang menjalani serah terima pertama atau provisional hand over (PHO). Hingga Oktober 2026, sebagian pekerjaan telah mencapai progres fisik sekitar 90 persen. Masa kontrak pekerjaan berlangsung hingga Desember 2026, sedangkan realisasi keuangan masih sebatas pembayaran uang muka. Pemkab Agam memprioritaskan pengerjaan lima jembatan, yakni Jembatan Bukik Batabuah, Pandan Banyak, MTSN Balingka, Tigo Kampuang, dan Sungai Asam. Kelima jembatan tersebut dinilai penting bagi mobilitas masyarakat, termasuk akses menuju sekolah, fasilitas kesehatan, dan sentra pertanian. Meski pekerjaan terus berjalan, kontraktor masih menghadapi kendala cuaca dan akses material.  Hujan yang berlangsung satu hingga dua hari penuh dapat meningkatkan debit sungai dan menghentikan pekerjaan konstruksi. Selain itu, akses sempit di sejumlah lokasi membuat material harus diangkut berulang kali menggunakan mobil kecil, bahkan sepeda motor. Kondisi tersebut memengaruhi kelancaran pekerjaan di lapangan. Benny meminta kontraktor memaksimalkan masa kerja yang tersedia tanpa mengorbankan kualitas konstruksi. Ia juga meminta Dinas PUTR mengawasi setiap tahapan pekerjaan hingga selesai. Jalur Evakuasi Marapi Diperkuat Di luar pembangunan jalan dan jembatan pascabencana, Pemkab Agam masih mendorong penguatan jalur mitigasi bencana di kawasan Gunung Marapi. Salah satu kebutuhan yang diperjuangkan adalah pengaspalan jalur evakuasi dan penanganan DAM Tebing pada akses Cumantiang. Jalur tersebut menjadi akses mobilitas bagi sekitar 973 jiwa di kawasan yang disebut berada dalam zona evakuasi wajib berstatus Siaga Level III. Dari total kebutuhan pengaspalan sepanjang 3,5 kilometer, realisasi tahun ini baru mencapai 390 meter. Pemkab Agam masih mendorong kelanjutan pekerjaan agar akses evakuasi lebih memadai. Infrastruktur jalan di kawasan rawan bencana dinilai penting untuk mendukung pergerakan masyarakat ketika proses evakuasi diperlukan.  Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) Tito Karnavian mengatakan, pemulihan konektivitas menjadi salah satu prioritas pemerintah. Tahap berikutnya adalah meningkatkan kondisi jalan dan jembatan dari fungsional menjadi permanen. \"Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kondisi jalan dan jembatan dari fungsional menjadi permanen,\" kata Tito. Tito juga meminta pemerintah daerah memanfaatkan tambahan TKD untuk rehabilitasi, mitigasi, antisipasi bencana, dan perbaikan infrastruktur rusak. Penggunaan anggaran harus berkaitan dengan penanganan bencana dan percepatan pemulihan masyarakat. Benny mengatakan, pemulihan infrastruktur membutuhkan kerja sama pemerintah daerah, TNI/Polri, pemerintah pusat, dan masyarakat. Ia berharap, seluruh pekerjaan selesai sesuai jadwal agar akses warga kembali normal dengan infrastruktur yang lebih aman.","publishedDateTime":"2026-10-21T18:36:55+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T18:36:55+07:00","createdAt":"2026-10-21T19:30:26.561154+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Jalan dan jembatan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kabupaten Agam, Sumatera Barat","province":"Sumatera Barat","regency":"Agam","district":"","village":""},"latitude":-0.276,"longitude":100.31290938235,"shortDescription":"Anggaran Rp 93 miliar dialokasikan untuk perbaikan dan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Agam agar lebih tahan bencana.","description":"Pemerintah Kabupaten Agam mengalokasikan anggaran Rp 93 miliar untuk memperbaiki 24 ruas jalan dan 17 unit jembatan yang terdampak bencana, dengan tujuan agar infrastruktur lebih tahan terhadap banjir bandang dan tanah longsor. Anggaran ini bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Bencana 2026 dan sisa Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kebencanaan 2025. Pekerjaan meliputi perbaikan sedang, pengalihan trase, pembangunan dinding penahan, serta pembangunan jembatan permanen, bailey, dan gantung yang tersebar di berbagai kecamatan.","affectedPaths":["Koto Alam-Pasar Batu Kambing","Malalak-Ulu Banda","Simpang Canduang-Simpang Bukik Batabuah"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15293,"sourceId":"848d7f118da6f2f5feb1112047ae7fb9","url":"https://lestari.kompas.com/read/2026/10/21/191000486/menjaga-mangrove-tetap-hidup-bukan-sekadar-menanam","title":"Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam","author":"Dr. Budi Heru Santosa, Sandro Gatra","publisherName":"kompas.com","content":" INDONESIA menyimpan sekitar 23 persen mangrove dunia. Selama ini, mangrove dipuji sebagai benteng alami pesisir tropis. Akarnya yang rumit meredam gelombang, menjebak sedimen, menahan erosi, sekaligus menjadi rumah bagi beragam biota. Tak heran, setiap kali abrasi dan banjir rob melanda, gerakan menanam mangrove segera digaungkan. Pertanyaannya, apakah mangrove benar-benar mampu melindungi pesisir dari segala ancaman? Secara ilmiah jawabannya: ya, tetapi dengan batas yang jelas. Harapan yang berlebihan justru bisa berujung kekecewaan, terutama jika restorasi hanya diartikan sebagai menanam sebanyak-banyaknya. Ada lima batas yang perlu dipahami. Pertama, mangrove sangat baik meredam gelombang pendek. Namun, kemampuannya terbatas saat menghadapi storm surge, yaitu naiknya muka air laut dalam waktu lama akibat badai. Penurunan tinggi surge yang berarti, sekitar 5-50 sentimeter per kilometer, hanya terjadi pada hutan yang lebar, menyambung, dan minim saluran. Sabuk mangrove yang tipis tidak bisa diandalkan. Kedua, mangrove bergantung pada pasokan sedimen. Ia hampir tidak menghasilkan sedimen sendiri, sehingga peran sebagai \"pembangun lahan\" hanya berjalan bila sungai masih mengantarkan lumpur ke pesisir. Ketika pasokan berkurang akibat bendungan, penambangan pasir, atau perubahan tata guna lahan di hulu, sabuk mangrove yang lebar pun akan mundur. Studi di Delta Mekong menunjukkan, setelah sedimen sungai menyusut, laju erosi tak lagi ditentukan oleh lebar mangrove. Persoalan pesisir ternyata bisa bermula dari hulu. Ketiga, mangrove juga bisa rusak. Pohon yang tajuknya menjulang di atas muka air rentan terhadap terpaan angin badai, dan pemulihannya memakan waktu beberapa tahun. Dan selama itu, fungsi perlindungannya hilang. Keempat, ada fenomena coastal squeeze. Tambak, permukiman, dan tanggul di sisi darat menghalangi mangrove bergeser ke daratan saat muka air laut naik. Akibatnya, mangrove terjepit di antara laut dan bangunan buatan manusia. Kelima, dan ini sering luput dari perhatian, kapasitas proteksi mangrove dunia menurun sekitar 25 persen pada 2007-2019 (Xu et al., 2024). Angka itu jauh lebih besar daripada penyusutan luasnya yang hanya sekitar 2 persen. Artinya, mangrove yang tampak hijau belum tentu sekuat dulu, sebab tinggi dan biomassanya, terutama di pantai terbuka, telah berkurang. Tanam Banyak, Belum Tentu Berhasil Fakta lain yang patut diketahui, tingkat kegagalan restorasi mangrove lewat penanaman massal sering kali hanya mencapai 50-80 persen. Penyebabnya antara lain: lokasi tidak sesuai, jenis yang tidak tepat, hidrologi yang rusak, hingga minimnya pendampingan masyarakat dalam jangka panjang. Karena itu, pendekatan yang kini dianjurkan adalah restorasi mangrove berbasis ekologi (Ecological Mangrove Restoration/EMR). Intinya, pulihkan dahulu kondisi habitatnya, yakni elevasi, pasang surut, salinitas, dan aliran air, agar alam sendiri yang menumbuhkan kembali mangrove. Penanaman hanyalah pelengkap, bukan andalan. Indonesia sebenarnya sudah punya banyak pelajaran berharga. Di Desa Tiwoho, Sulawesi Utara, pemulihan hidrologi dengan membuka kembali saluran air berhasil memulihkan sekitar 65 hektare mangrove bekas tambak. Bibit alami masuk dengan sendirinya, jenisnya lebih beragam dibanding penanaman monokultur, dan warga merasakan banjir rob berkurang. Di pesisir Demak, Jawa Tengah, struktur permeabel dari bambu dan ranting dipasang untuk meredam gelombang dan memerangkap sedimen. Pertambahan sedimen tercatat 5-15 sentimeter per tahun di belakang struktur tersebut. Model Building with Nature ini memungkinkan mangrove tumbuh di lokasi yang semula terlalu keras bagi akarnya. Di Kalimantan Utara dan Timur, sistem wanamina (silvofishery) memadukan budidaya udang dan ikan dengan vegetasi mangrove. Petambak tetap berproduksi, kualitas air membaik, dan tingkat hidup mangrove mencapai 61-87 persen di beberapa lokasi. Di Desa Liagu, Kalimantan Utara, saluran berkelok dibuat pada tambak terbengkalai untuk meniru aliran alami, sehingga mangrove tumbuh kembali tanpa penanaman massal. Dari semua contoh itu, benang merahnya sama: keberhasilan jangka panjang bergantung pada keterlibatan masyarakat. Kelompok tani hutan yang dilibatkan sejak perencanaan hingga pengelolaan manfaat ekonomi, misalnya ekowisata dan produk olahan mangrove, terbukti lebih lestari dibandingkan program yang dijalankan dari atas ke bawah. Pelajaran terpentingnya, mangrove paling efektif bila menjadi bagian dari sistem terpadu. Ia perlu dipadukan dengan struktur lunak, pengelolaan sedimen dari hulu, dan tata ruang yang menyisakan ruang bagi mangrove untuk bergeser seiring naiknya muka air laut. Dengan begitu, ukuran keberhasilan pun semestinya berubah. Bukan lagi seberapa banyak batang yang ditanam, melainkan seberapa pulih fungsi ekosistem dan seberapa sejahtera masyarakat pesisirnya. Prinsip itu mulai diuji di lapangan. Pertengah Oktober 2026, Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menggelar demonstration plot di Desa Timbulsloko, Demak. Demplot ini menjadi ruang belajar bersama untuk melihat langsung bagaimana pemulihan pesisir dijalankan, tidak sekadar dibicarakan di ruang rapat. Semoga menjadi awal yang baik. Mangrove adalah aset strategis bagi ketahanan pesisir Indonesia, tetapi ia bukan tembok ajaib. Mari kita pahami batasnya, pulihkan habitatnya, libatkan masyarakat, dan benahi hulu hingga hilir. Salam lestari.","publishedDateTime":"2026-10-21T19:10:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T19:10:00+07:00","createdAt":"2026-10-21T20:00:25.139279+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir Rob","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Mangrove, Pesisir, Ekosistem","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Pesisir Indonesia, Desa Tiwoho (Sulawesi Utara), Pesisir Demak (Jawa Tengah), Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Desa Liagu (Kalimantan Utara), Desa Timbulsloko (Demak)","province":"Kalimantan Utara","regency":"Bulungan","district":"Sekatak","village":"Liagu"},"latitude":3.3215308654992,"longitude":117.38157679046,"shortDescription":"Mangrove adalah benteng alami pesisir yang efektif meredam gelombang dan erosi, namun memiliki batas kemampuan dan rentan terhadap perubahan lingkungan. Restorasi mangrove yang berhasil memerlukan pendekatan ekologis yang memulihkan habitat dan melibatkan masyarakat, bukan sekadar penanaman massal.","description":"Artikel ini membahas tentang pentingnya menjaga kelestarian mangrove sebagai benteng alami pesisir tropis Indonesia yang menyimpan sekitar 23 persen mangrove dunia. Mangrove memiliki kemampuan meredam gelombang pendek, menjebak sedimen, menahan erosi, dan menjadi rumah bagi biota. Namun, kemampuannya memiliki batas, terutama dalam menghadapi storm surge, ketergantungan pada pasokan sedimen dari hulu, kerentanan terhadap badai, fenomena coastal squeeze, dan penurunan kapasitas proteksi. Tingkat kegagalan restorasi mangrove melalui penanaman massal cukup tinggi, sehingga pendekatan restorasi mangrove berbasis ekologi (EMR) yang memulihkan habitatnya lebih dianjurkan. Berbagai contoh keberhasilan restorasi mangrove di Indonesia, seperti di Desa Tiwoho, Pesisir Demak, Kalimantan Utara, dan Timur, serta Desa Liagu, menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dan pendekatan sistem terpadu.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15294,"sourceId":"c3136ace95a1386dc1a1b1216837ecd9","url":"https://nasional.kompas.com/read/2026/10/21/19190081/kasatgas-prr-dorong-percepatan-anggaran-pemulihan-sumatera-2027","title":"Kasatgas PRR Dorong Percepatan Anggaran Pemulihan Sumatera 2027","author":"Jalaludin S, DWN","publisherName":"kompas.com","content":" KOMPAS.com - Pemerintah mempercepat penyiapan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi (PRR) pascabencana Sumatera untuk 2027 agar pekerjaan fisik dapat berlanjut sejak awal tahun.Langkah itu diperlukan untuk menjaga kesinambungan pemulihan yang masih menjadi kebutuhan mendesak masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian meminta kementerian dan lembaga (K/L) segera menyiapkan pengajuan anggaran bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu).Penyelesaian dokumen dan persetujuan anggaran lebih awal diharapkan dapat mempercepat proses pengadaan sehingga masyarakat tidak perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan manfaat dari program pemulihan.“Kalau seandainya baru diajukan Januari, kemudian di-approve-nya bulan April, Januari sampai April itu akan terjadi kekosongan, kevakuman,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (21/10/2026).Hal itu disampaikan Tito usai mengikuti rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu.“Ini yang kami tidak harapkan karena masyarakat membutuhkan kecepatan untuk pemulihan,” katanya.Dalam Rencana Induk PRR, kebutuhan anggaran untuk 2026 ditetapkan sebesar Rp 39,1 triliun. Sementara itu, anggaran yang diterima dari Kemenkeu mencapai Rp 29,9 triliun.Sejumlah K/L pun menyesuaikan pengajuan kegiatan dengan mempertimbangkan sisa waktu pelaksanaan hingga akhir tahun.Tito menyampaikan, selisih antara kebutuhan dan anggaran yang diterima pada 2026, yakni sekitar Rp 9 triliun, direncanakan untuk dilaksanakan bersama rencana anggaran 2027 sebesar Rp 32,94 triliun.Dengan demikian, dukungan anggaran yang disiapkan untuk melanjutkan pemulihan pada tahun depan mencapai sekitar Rp 42 triliun.Tito berharap, anggaran yang telah dirinci untuk berbagai program pemulihan tidak sampai hangus. Pasalnya, peruntukan dana tersebut sudah jelas, mulai dari pemulihan jalan, rumah, tambak, hingga sawah.“Kalau dihanguskan, maka programnya hangus, tidak ada yang mengerjakan lagi, problemnya ada di lapangan,” ujarnya.Perencanaan pemulihan perlu dipercepatTito mengatakan, pemenuhan dokumen, pembahasan persyaratan teknis, dan proses lelang membutuhkan waktu yang perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.Oleh karena itu, kegiatan yang memerlukan waktu pengerjaan lebih panjang perlu dipersiapkan lebih awal agar pelaksanaannya pada 2027 berjalan sesuai jadwal.Dengan persetujuan anggaran yang tepat waktu, proses lelang diharapkan dapat dimulai pada Januari, sehingga pekerjaan fisik bisa mulai berjalan pada Januari-Februari 2027.Bersamaan dengan persiapan tersebut, pemerintah daerah (pemda) didorong memaksimalkan sisa waktu pelaksanaan pada 2026 untuk mempercepat program menggunakan anggaran yang telah tersedia.Kesinambungan pekerjaan semakin penting karena proses pemulihan masih menghadapi tantangan berupa bencana susulan.Di tengah rehabilitasi dan rekonstruksi, banjir serta longsor kembali melanda sejumlah wilayah, antara lain Kota Padang, Kabupaten Solok, Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya.Di beberapa lokasi, infrastruktur yang telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan. Jembatan terdampak arus sungai, jalan kembali tertimbun longsor, dan material lumpur menumpuk di kawasan yang sebelumnya telah dibersihkan.Kondisi tersebut menambah kebutuhan penanganan ketika masyarakat masih berupaya memulihkan kehidupan dan sumber penghidupan mereka.“Bencana susulannya jalan terus dan memang ini agak sedikit ironis. Di daerah-daerah bagian barat Sumatra, banjirnya tinggi, curah hujan tinggi sekali, sementara di bagian timur Sumatra kekurangan air dan mengalami kebakaran hutan serta lahan,” tutur Tito.","publishedDateTime":"2026-10-21T19:19:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T19:19:00+07:00","createdAt":"2026-10-21T20:00:25.139279+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Tinggi","eventStatus":"on going","damagedObject":"infrastruktur (jalan, rumah, tambak, sawah, jembatan)","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kota Padang, Kabupaten Solok, Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, Aceh Tamiang, Pidie Jaya","province":"Sumatera Barat","regency":"Kota Padang","district":"","village":""},"latitude":-0.9438311653765701,"longitude":100.37987839152001,"shortDescription":"Pemerintah mempercepat penyiapan anggaran pemulihan pascabencana Sumatera untuk 2027 guna menjaga kesinambungan pekerjaan fisik dan pemulihan masyarakat. Bencana susulan seperti banjir dan longsor kembali melanda beberapa wilayah, menyebabkan kerusakan infrastruktur yang telah diperbaiki.","description":"Pemerintah mempercepat penyiapan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi (PRR) pascabencana Sumatera untuk 2027 agar pekerjaan fisik dapat berlanjut sejak awal tahun. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kesinambungan pemulihan yang masih menjadi kebutuhan mendesak masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian meminta kementerian dan lembaga (K/L) segera menyiapkan pengajuan anggaran bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Penyelesaian dokumen dan persetujuan anggaran lebih awal diharapkan dapat mempercepat proses pengadaan sehingga masyarakat tidak perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan manfaat dari program pemulihan. Di tengah rehabilitasi dan rekonstruksi, banjir serta longsor kembali melanda sejumlah wilayah, antara lain Kota Padang, Kabupaten Solok, Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya, menyebabkan infrastruktur yang telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15295,"sourceId":"b050e7168340ac6da3755b342d5cda1f","url":"https://lestari.kompas.com/read/2026/10/21/200406086/bank-global-kucurkan-rp-1069-kuadriliun-ke-perusahaan-terkait-deforestasi","title":"Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi","author":"Monika Novena, Andika Aditia","publisherName":"kompas.com","content":"KOMPAS.com - Riset terbaru dari Forests \u0026 Finance mengungkapkan bank-bank dunia telah menggelontorkan pembiayaan hampir 600 miliar dolar AS (sekitar Rp 10,78 kuadriliun) kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam deforestasi di hutan tropis dan perusakan ekosistem sejak tahun 2020.Temuan ini mengungkap meningkatnya risiko keuangan pada industri yang berkaitan dengan hilangnya hutan, degradasi lahan, dan penurunan keanekaragaman hayati.Hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai manajemen risiko lingkungan oleh bank, di saat pemerintah bersiap menilai kemajuan komitmen konservasi global.Melansir ESG News, Senin (19/10/2026) koalisi Forests \u0026 Finance mempublikasikan temuan ini dalam laporan tahunan mereka yang bertajuk Banking on Biodiversity Collapse.Antara tahun 2020 dan 2025, bank-bank telah menyalurkan kredit senilai 351 miliar dolar AS (sekitar Rp6,31 kuadriliun) kepada perusahaan komoditas pertanian berisiko tinggi dan 244 miliar dolar AS (sekitar Rp4,39 kuadriliun) kepada perusahaan tambang.\"Sektor-sektor ini adalah pendorong utama deforestasi, degradasi lahan, dan konflik masyarakat di cekungan hutan tropis Amerika Selatan, Asia Tenggara, serta Afrika Tengah dan Barat,\" ungkap koalisi tersebut.Pembiayaan yang berisiko bagi hutan terus naikMeskipun komitmen keberlanjutan perusahaan terus diperluas, pembiayaan untuk industri yang terkait dengan perusakan hutan tropis justru meningkat secara drastis dalam dekade terakhir.Pemberian pinjaman dan penjaminan tahunan untuk perusahaan tambang yang beroperasi di negara-negara kaya hutan tropis melonjak sebesar 55 persen antara tahun 2016 dan 2025.Pembiayaan tersebut meningkat dari 23,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 426,1 triliun) menjadi 36,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 659,9 triliun), dengan litium dan nikel sebagai penyumbang kenaikan terbesar.Kedua mineral tersebut merupakan bahan penting untuk kendaraan listrik, baterai, dan infrastruktur energi bersih.Kebutuhan pendanaan yang terus meningkat ini menciptakan tantangan bagi lembaga keuangan yang ingin mendukung dekarbonisasi sekaligus melindungi keanekaragaman hayati.Proyek pertambangan dapat menimbulkan risiko lingkungan melalui pembukaan lahan, fragmentasi habitat, dan tekanan terhadap masyarakat lokal.Lebih lanjut, pembiayaan untuk komoditas pertanian berkembang bahkan lebih cepat.Pembiayaan tahunan yang berisiko terhadap hutan meningkat 71 persen sejak tahun 2016, naik dari 37,9 miliar dolar AS menjadi 64,7 miliar dolar AS. Dari peningkatan tersebut, pembiayaan untuk produksi daging sapi naik lebih dari 50 persen.Pembiayaan untuk kedelai melonjak 137 persen, sementara pinjaman bagi perusahaan bubur kertas dan kertas meningkat 157 persen. Industri-industri ini tetap menjadi sumber tekanan utama terhadap hutan tropis, terutama di wilayah di mana ekspansi pertanian beririsan dengan lemahnya penegakan hukum tata guna lahan.Indonesia hadapi risiko lingkungan dan finansial yang makin besarIndonesia menggambarkan dampak nyata dari terus mengalirnya pembiayaan untuk industri yang padat pemanfaatan hutan.Menurut koalisi tersebut, bank-bank menggelontorkan dana sebesar 67,1 miliar dolar AS untuk sektor kelapa sawit dan pulp and paper di Indonesia antara tahun 2020 dan 2025.Laporan ini mengaitkan berbagai kegiatan tersebut dengan deforestasi dan pengeringan lahan gambut, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra.Lahan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Mengeringkannya akan meningkatkan emisi gas rumah kaca dan membuat kawasan sekitarnya menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.Degradasi hutan juga dapat memperparah banjir karena berkurangnya kemampuan alam dalam menyerap curah hujan.Indonesia sedang mengalami musim kebakaran hutan terparah yang dipicu oleh fenomena El Niño dalam 11 tahun terakhir.Asap dari kebakaran tersebut telah memperburuk kualitas udara di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.Kabut asap yang ditimbulkannya telah memicu peningkatan kasus penyakit pernapasan dan menunjukkan dampak lintas batas dari kerusakan hutan.Bagi pihak bank, perkembangan ini menciptakan potensi risiko fisik akibat perubahan iklim, intervensi regulasi, serta kerusakan reputasi.Bank hadapi sorotan terkait perlindungan keanekaragaman hayatiKoalisi tersebut berpendapat bahwa kebijakan lingkungan yang ada saat ini gagal mengimbangi laju aktivitas pembiayaan.Bank-bank yang mengeluarkan kredit berisiko tinggi terbanyak masih belum memiliki langkah pengamanan yang memadai untuk memitigasi risiko kerusakan lingkungan dan sosial yang serius.Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai cara bank menilai dampak keanekaragaman hayati dalam portofolio pinjaman korporasi mereka.Bagi lembaga keuangan, uji tuntas yang lebih ketat dapat mencakup peninjauan paparan terhadap deforestasi, praktik penggunaan lahan, dan kepatuhan lingkungan sebelum menyetujui kredit.Para investor juga menghadapi tekanan yang kian besar untuk memeriksa apakah komitmen keberlanjutan benar-benar diwujudkan dalam bentuk pembatasan pembiayaan yang efektif.Perbedaan ini menjadi sangat penting seiring dengan semakin masuknya isu hilangnya keanekaragaman hayati ke dalam penilaian risiko keuangan, sejajar dengan risiko yang berkaitan dengan iklim.Lebih lanjut, bagi bank dan investor institusional, tantangan utamanya kini tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga finansial.Pemberian pinjaman yang terus berlanjut ke industri yang berisiko merusak hutan dapat membuat portofolio keuangan mereka terpapar oleh pengetatan regulasi, gangguan rantai pasok, serta kerugian akibat kerusakan ekosistem yang terus meningkat.Temuan ini juga menyoroti sebuah kontradiksi yang lebih besar dalam keuangan berkelanjutan di mana modal yang mendukung pembangunan ekonomi dan transisi energi dapat secara bersamaan mempercepat hilangnya alam.Cara lembaga keuangan dalam mengatasi ketegangan tersebut akan sangat menentukan dampak terhadap keanekaragaman hayati di berbagai wilayah hutan tropis serta kredibilitas dari komitmen konservasi global.","publishedDateTime":"2026-10-21T20:04:06+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T20:04:06+07:00","createdAt":"2026-10-21T21:30:10.623403+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Tinggi","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Perusahaan terkait deforestasi, industri komoditas pertanian, industri pertambangan, sektor kelapa sawit, pulp and paper, lahan gambut","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Hutan tropis di Amerika Selatan, Asia Tenggara, serta Afrika Tengah dan Barat, termasuk Indonesia (Kalimantan dan Sumatra)","province":"Gorontalo","regency":"Kota Gorontalo","district":"Kota Selatan","village":""},"latitude":0.54069721643769,"longitude":123.05536818457,"shortDescription":"Bank-bank global terus menyalurkan dana besar ke perusahaan yang terlibat deforestasi, meningkatkan risiko lingkungan dan finansial, meskipun ada komitmen keberlanjutan.","description":"Riset terbaru dari Forests \u0026 Finance mengungkapkan bahwa bank-bank dunia telah menyalurkan pembiayaan hampir 600 miliar dolar AS kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam deforestasi di hutan tropis dan perusakan ekosistem sejak tahun 2020. Pembiayaan ini meningkat secara drastis, terutama untuk sektor komoditas pertanian dan pertambangan, yang menjadi pendorong utama deforestasi, degradasi lahan, dan konflik masyarakat. Di Indonesia, dana sebesar 67,1 miliar dolar AS disalurkan untuk sektor kelapa sawit dan pulp and paper, yang dikaitkan dengan deforestasi dan pengeringan lahan gambut, memperparah risiko kebakaran dan banjir.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15296,"sourceId":"6820288f699a18d9d394cfcce8cca862","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/21/201326478/dilema-cuaca-ekstrem-sumbar-dikepung-kabut-asap-diintai-banjir-bandang","title":"Dilema Cuaca Ekstrem Sumbar: Dikepung Kabut Asap, Diintai Banjir Bandang","author":"Rahmat Panji , Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" PADANG, KOMPAS.com — Masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) kini dihadapkan pada dilema ancaman bencana ganda akibat perubahan cuaca ekstrem, Rabu (21/10/2026). Saat cuaca panas dan kering melanda, kawasan Sumbar dikepung kabut asap pekat yang fluktuatif selama tiga bulan terakhir. Sebaliknya, ketika hujan deras mulai turun, ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor siap mengintai. Menanggapi ancaman ganda tersebut, Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar) Vasko Ruseimy meminta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) memperkuat langkah mitigasi dan penanganan secara terukur.  Berdasarkan pantauan dasbor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Vasko menyebutkan bahwa tidak terdeteksi adanya titik api (hotspot) di wilayah Sumbar. Kabut asap yang menyelimuti Ranah Minang saat ini dipastikan merupakan asap kiriman dari provinsi tetangga. \"Setelah kita pantau melalui dasbor BMKG, tidak terdeteksi adanya titik api di Sumbar. Kabut asap yang sekarang menyelimuti Sumbar itu berasal dari provinsi tetangga,\" kata Vasko. Meski demikian, Vasko menegaskan kewaspadaan tidak boleh kendur, terutama untuk daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung, dan Solok Selatan.  Vasko secara khusus menyoroti laporan dari Bupati Dharmasraya terkait ditemukannya lahan bekas terbakar yang mendadak ditanami kelapa sawit. Ia menginstruksikan Dinas Kehutanan Sumbar untuk segera berkoordinasi dengan kepolisian guna mengusut tuntas dugaan pembakaran sengaja. \"Dinas Kehutanan saya minta segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menindaklanjuti temuan Bupati Dharmasraya mengenai lahan bekas terbakar ditanami sawit. Jangan-jangan ada oknum yang sengaja bermain di sini,\" tegas Vasko. Untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara, Pemprov Sumbar telah membentuk tim terpadu yang melibatkan BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Dinas Kesehatan, serta instansi terkait lainnya.  Tim ini bertugas memantau kondisi udara secara berkala dan menyiapkan langkah tanggap darurat bagi warga terdampak. Sementara itu, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukittinggi, Sugeng Nugroho, mengonfirmasi bahwa sebaran titik api terbanyak saat ini terdeteksi di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Pergerakan angin membawa kabut asap tersebut melintas hingga ke wilayah Sumbar. \"Sumatera Barat termasuk daerah yang berada di kawasan tersebut. Sehingga sejak 15 Oktober lalu hingga sekarang, kualitas udaranya masih parah,\" terang Sugeng.  Waspada Bencana Hidrometeorologi November–Desember Kondisi ini diprediksi bergeser seiring masuknya masa peralihan musim.  Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang periode November–Desember 2026. Perubahan pola atmosfer dan angin muson diprediksi akan meningkatkan curah hujan secara signifikan di wilayah Sumbar. Menurut Decky, tingginya intensitas hujan tidak serta-merta mengakhiri masalah, melainkan hanya memindahkan fokus ancaman. Hal ini terbukti saat hujan intensitas sedang hingga tinggi terjadi di Kota Padang, Sabtu (8/10/2026), banjir bandang menerjang tiga kecamatan.  Hal serupa juga terjadi di Tapan Pesisir Selatan, yang sampai saat ini masih dalam penanganan tanggap darurat. Ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap di musim kemarau akan berganti menjadi ancaman banjir bandang dan tanah longsor saat musim hujan tiba. Oleh karena itu, BMKG dan Pemprov Sumbar menyepakati tiga prioritas utama penanganan, Mencegah terjadinya kebakaran lahan saat cuaca kering. Serta Mempercepat respons penurunan kualitas udara dan penanganan karhutla dan Meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.","publishedDateTime":"2026-10-21T20:13:26+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T20:13:26+07:00","createdAt":"2026-10-21T21:30:10.623403+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"kualitas udara, lahan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Sumatera Barat","province":"Sumatera Barat","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-0.60867175289642,"longitude":100.43999822147,"shortDescription":"Perubahan cuaca ekstrem menyebabkan Sumatera Barat menghadapi ancaman kabut asap kiriman dan potensi banjir bandang serta tanah longsor.","description":"Masyarakat Sumatera Barat dihadapkan pada dilema bencana ganda akibat perubahan cuaca ekstrem. Kawasan ini dikepung kabut asap pekat yang merupakan asap kiriman dari provinsi tetangga, sementara ketika hujan deras turun, ancaman banjir bandang dan tanah longsor mengintai. Wakil Gubernur Sumatera Barat meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat langkah mitigasi dan penanganan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15298,"sourceId":"11a0881c8016717bad0c027936bdf7f5","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/21/212858978/jadi-jalur-vital-logistik-pascabencana-jalan-simpang-panta-bukittinggi","title":"Jadi Jalur Vital Logistik Pascabencana, Jalan Simpang Panta-Bukittinggi Diperlebar dengan TKD Tambahan Rp 10,8 Miliar","author":"Dharma Harisa, Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" AGAM, KOMPAS.com - Ruas Jalan Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, diperlebar menggunakan dana Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan 2026. Proyek senilai Rp 10,8 miliar ini menjadi bagian dari pemulihan akses logistik dan bantuan pascabencana. Jalur yang berada di Jorong Kampuang Pisang, Nagari Koto Panjang, Kecamatan IV Koto, tersebut menghubungkan wilayah Agam dengan Kota Bukittinggi. Selain itu, ruas ini juga jadi penghubung beberapa kecamatan seperti Matur, Palembayan, dan Tanjung Raya. Ruas ini menjadi jalur alternatif setelah jalan utama di Sungai Landia rusak dan terban di sejumlah titik akibat bencana hidrometeorologi. Pengawas Lapangan PT Pasindo, Rozi, mengatakan progres fisik proyek mencapai 40 persen pada Rabu (21/10/2026). Pekerjaan yang dimulai pada Agustus 2026 itu ditargetkan selesai pada pertengahan November, termasuk pengaspalan ulang.  “Awal bulan besok kita sudah mulai pengaspalan,” kata Rozi saat ditemui di lokasi, Rabu. Menurut Rozi, pekerjaan mencakup pelebaran badan jalan sepanjang 1,4 kilometer. Lebar badan jalan ditingkatkan dari semula 3,5 meter menjadi 5 meter, disertai pembangunan bahu jalan dan saluran drainase. Pemangkasan tebing menjadi salah satu tahapan yang menyita waktu karena kondisi jalan berbatasan dengan lereng dan jurang. Pekerjaan dilakukan bertahap menggunakan alat berat untuk menyediakan ruang pelebaran sekaligus menangani bagian tebing yang rawan longsor. Di sejumlah titik, pekerja memasang dinding penahan tanah beton, bronjong, pasangan batu, dan saluran drainase pracetak. Struktur tersebut ditujukan untuk menahan tanah serta mengendalikan aliran air di sekitar badan jalan. Proyek ini didukung tiga unit ekskavator dan 40 pekerja konstruksi. Alat pemadat dan truk pengangkut material juga dikerahkan untuk menyiapkan lapisan dasar jalan sebelum pengaspalan.  Jalur Alternatif Pengangkutan Bantuan Wali Nagari Koto Panjang, Yunarson, mengatakan kerusakan jalan di Sungai Landia membuat kendaraan beralih menggunakan ruas Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi. Sebelum diperlebar, badan jalan yang relatif sempit dan memiliki banyak tikungan kesulitan menampung peningkatan volume kendaraan. “Bahkan saat terjadi bencana, di sini orang lewat kalau melansir bantuan, baik ke Palembayan, Matur, atau Maninjau,” kata Yunarson. Menurut dia, pelebaran jalan penting untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar distribusi bantuan menuju sejumlah wilayah di Kabupaten Agam. Jalan tersebut juga menjadi akses pengangkutan hasil perkebunan dan hortikultura warga.  Yunarson menjelaskan, pisang merupakan salah satu sumber ekonomi utama masyarakat Nagari Koto Panjang. Karena itu, kelancaran akses menuju Kota Bukittinggi turut berpengaruh terhadap distribusi hasil kebun ke pusat pemasaran. Dia mengatakan masyarakat menyambut baik pembangunan tersebut. Bahkan, sejumlah warga bersedia menghibahkan sebagian tanah di tepi jalan untuk mendukung pelebaran. “Alhamdulillah masyarakat sangat bersyukur sudah ada pelebaran jalan, bahkan ada warga yang mau menghibahkan tanahnya,” ujar Yunarson.  Bagian dari Pemulihan Jalan dan Jembatan Agam Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Agam, Widodo Budiyanto, mengatakan dana TKD Tambahan 2026 untuk bidang Bina Marga mencapai Rp 87,8 miliar. Anggaran tersebut mencakup perbaikan 24 ruas jalan dan pembangunan atau perbaikan 17 unit jembatan di 12 kecamatan. Dari total anggaran itu, sekitar Rp 54,4 miliar dialokasikan untuk pekerjaan jalan dan Rp 33,4 miliar untuk jembatan. Pelaksanaan proyek tersebar di sejumlah wilayah yang membutuhkan pemulihan konektivitas setelah bencana. Widodo mengatakan seluruh pekerjaan di bidang Bina Marga telah melewati proses lelang dan memasuki tahap pelaksanaan fisik. Cuaca yang tidak menentu serta akses menuju sejumlah lokasi yang sempit menjadi tantangan dalam pengerjaan. Pemulihan jalan dan jembatan tersebut sejalan dengan arah Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Renduk PRRP Sumatera) 2026–2028. Program itu tidak hanya diarahkan untuk memulihkan konektivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan infrastruktur terhadap banjir, longsor, dan pergerakan tanah.  Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, sebelumnya menegaskan bahwa peningkatan kualitas jalan dan jembatan menjadi prioritas pemulihan pascabencana. Pemerintah mendorong peningkatan kondisi infrastruktur dari akses fungsional menjadi permanen agar konektivitas wilayah kembali pulih. “Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kondisi jalan dan jembatan dari fungsional menjadi permanen,” kata Tito. Tito menegaskan, percepatan perbaikan jalan dan jembatan diperlukan untuk memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat serta menjaga kelancaran distribusi logistik di wilayah terdampak bencana. Pelebaran Jalan Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi menjadi salah satu upaya daerah untuk mendukung konektivitas tersebut, terutama bagi pengangkutan bantuan dan hasil pertanian warga.","publishedDateTime":"2026-10-21T21:28:58+07:00","eventDateTime":"2026-10-21T21:28:58+07:00","createdAt":"2026-10-21T22:30:09.556717+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Tanah Longsor","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Jalan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jalan Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi, Jorong Kampuang Pisang, Nagari Koto Panjang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat","province":"Sumatera Barat","regency":"Kota Bukittinggi","district":"","village":""},"latitude":-0.30456552015245997,"longitude":100.37731663796501,"shortDescription":"Jalan Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi diperlebar untuk memulihkan akses logistik dan bantuan pascabencana setelah jalan utama di Sungai Landia rusak akibat bencana hidrometeorologi.","description":"Pemerintah Kabupaten Agam melakukan pelebaran ruas Jalan Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi sepanjang 1,4 kilometer dengan lebar menjadi 5 meter, menggunakan dana Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan 2026 senilai Rp 10,8 miliar. Proyek ini bertujuan untuk memulihkan akses logistik dan bantuan pascabencana, karena jalan utama di Sungai Landia rusak akibat bencana hidrometeorologi. Pekerjaan dimulai Agustus 2026 dan ditargetkan selesai pertengahan November 2026, meliputi pengaspalan ulang, pembangunan bahu jalan, dan saluran drainase, serta penanganan tebing yang rawan longsor dengan pemasangan dinding penahan tanah, bronjong, dan pasangan batu.","affectedPaths":["Jalan Simpang Panta-Batas Kota Bukittinggi","Jalan utama di Sungai Landia"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15299,"sourceId":"348e068a28a973d9a447e46d38a11181","url":"https://www.kompas.com/jawa-barat/read/2026/10/22/053000388/prakiraan-cuaca-jabar-22-oktober-bogor-depok-dan-bekasi-diprediksi","title":"Prakiraan Cuaca Jabar 22 Oktober, Bogor, Depok, dan Bekasi Diprediksi Hujan Ringan","author":"Ahmad Naufal Dzulfaroh","publisherName":"kompas.com","content":"KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Jawa Barat pada Kamis (22/10/2026).Tercatat, sejumlah kota besar di Jawa Barat berpotensi diguyur hujan selama 24 jam ke depan, termasuk Bogor, Depok, dan Bekasi.Sementara, cuaca di Kota dan Kabupaten Bandung diperkirakan cerah dan berawan.Lantas, mana saja wilayah di Jabar yang berpotensi hujan pada 22 Oktober 2026?10 wilayah Jabar berpotensi hujan pada 22 OktoberBerikut prakiraan cuaca BMKG untuk wilayah Jawa Barat yang berpotensi hujan pada 22 Oktober:Kabupaten Bogor (hujan ringan)Kota Bogor (hujan ringan)Kota Depok (hujan ringan)Kabupaten Bekasi (hujan ringan)Kota Bekasi (hujan ringan)Kabupaten Sukabumi (hujan ringan)Kabupaten Karawang (hujan ringan)Kabupaten Cianjur (hujan ringan)Kabupaten Purwakarta (hujan ringan)Kabupaten Subang (hujan ringan)Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia mengatakan, potensi hujan ini akibat kondisi atmosfer yang masih mendukung pertumbuhan awan konvenktif.Menurutnya, kondisi ini masih bisa terjadi meski sedang berada pada fase El Nino.\"Pada skala global, dinamika atmosfer menunjukkan indeks ENSO terpantau pada nilai +2.72 yang mengindikasikan kondisi El Nino sangat kuat,\" ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Senin (5/10/2026).Kondisi ini ditambah dengan adanya fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan tren menguatnya Monsun Australia yang berpotensi membatasi suplai uap air.Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan ancaman bencana hidrometeorologi.Bencana tersebut antara lain hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara dengan memantau kanal resmi. ","publishedDateTime":"2026-10-22T05:30:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T05:30:00+07:00","createdAt":"2026-10-22T06:30:22.213524+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Rendah","eventStatus":"selesai","damagedObject":"cuaca","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jawa Barat, meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Sukabumi","district":"","village":""},"latitude":-6.9313604505079,"longitude":106.92558233967,"shortDescription":"Prakiraan cuaca dari BMKG memprediksi hujan ringan di sebagian besar wilayah Jawa Barat pada 22 Oktober 2026 akibat kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.","description":"BMKG memprediksi cuaca di sebagian besar wilayah Jawa Barat pada Kamis, 22 Oktober 2026, akan diguyur hujan ringan selama 24 jam ke depan. Wilayah yang diprediksi hujan meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang. Sementara itu, Kota dan Kabupaten Bandung diperkirakan cerah berawan. Potensi hujan ini disebabkan oleh kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif, meskipun sedang dalam fase El Nino yang kuat.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15300,"sourceId":"a7b6f16f0eb9a5757d4b1ba3fcd422be","url":"https://denpasar.kompas.com/read/2026/10/22/063922478/kesal-kalah-judi-2-pria-bakar-mesin-perontok-padi-dan-pagar-hutan-sangeh-di","title":"Kesal Kalah Judi, 2 Pria Bakar Mesin Perontok Padi dan Pagar Hutan Sangeh di Badung","author":"Ahmad Muzakky Alhasan, Novianti Setuningsih","publisherName":"kompas.com","content":" BADUNG, KOMPAS.com – Dua pria berinisial PMDS (24) dan IKW (22) ditangkap Polisi karena diduga membakar tiga mesin perontok padi atau dores di wilayah Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. Aksi tersebut diduga dilakukan kedua pelaku untuk melampiaskan kekesalan setelah kalah berjudi sabung ayam. Keduanya juga diduga membakar ban bekas di pagar objek wisata Alas Pala Sangeh. Api sempat membakar tanaman rambat di pagar yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung tersebut. Kapolres Badung, AKBP Joseph Edward Purba, mengatakan bahwa kedua pria itu mengakui telah melakukan pembakaran di empat lokasi berbeda sepanjang Juni hingga September 2026. \"Motifnya karena sakit hati setelah kalah bermain judi sabung ayam. Kekesalan itu mereka lampiaskan dengan membakar mesin perontok padi di area persawahan,\" ujar Joseph dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).  Berdasarkan hasil penyelidikan, pembakaran pertama terjadi pada 5 Juni 2026 di lahan persawahan Subak Blahkiuh, Desa Abiansemal. Mesin perontok padi dibakar dan menyebabkan kerugian sekitar Rp 19 juta. Aksi serupa kembali terjadi pada 17 Juni 2026, di kawasan persawahan Subak Blahkiuh. Kali ini, mesin perontok padi dibakar dengan kerugian sekitar Rp 13 juta. Selanjutnya, kedua pelaku diduga membakar ban bekas di pagar sisi barat laut objek wisata Alas Pala Sangeh pada akhir September 2026. Api merembet ke pagar yang ditumbuhi tanaman rambat. Sehari setelahnya, mereka kembali membakar mesin perontok padi di kawasan Subak Mambal Munduk Kedampal, Desa Mekar Bhuwana, Abiansemal. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 5 juta. Akibat tiga pembakaran mesin perontok padi, total kerugian para korban diperkirakan mencapai Rp 37 juta. Sementara itu, pembakaran di kawasan Alas Pala Sangeh belum menimbulkan kerugian materiil yang dilaporkan.   Meski demikian, api di pagar kawasan wisata tersebut berpotensi merembet ke hutan lindung jika tidak segera diketahui dan dipadamkan. Polisi mengamankan dua sepeda motor, yakni Honda Beat hitam bernomor polisi DK 3799 FDH dan Yamaha NMAX hitam bernomor polisi DK 4977 JDM. Tiga mesin perontok padi juga diamankan sebagai barang bukti. \"Kedua pelaku disangkakan Pasal 308 KUHP tentang tindak pidana dengan sengaja menyebabkan kebakaran, ledakan, atau banjir. Ancaman pidananya penjara paling lama sembilan tahun,\" pungkas Joseph.","publishedDateTime":"2026-10-22T06:39:22+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T06:39:22+07:00","createdAt":"2026-10-22T07:00:11.559663+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Kebakaran","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Mesin perontok padi, pagar objek wisata Alas Pala Sangeh","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali","province":"Bali","regency":"Badung","district":"Abiansemal","village":"Abiansemal"},"latitude":-8.5272236674246,"longitude":115.21222412796,"shortDescription":"Dua pria membakar mesin perontok padi dan pagar objek wisata karena kesal kalah judi sabung ayam.","description":"Dua pria berinisial PMDS (24) dan IKW (22) ditangkap Polisi karena diduga membakar tiga mesin perontok padi atau dores di wilayah Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, serta membakar ban bekas di pagar objek wisata Alas Pala Sangeh. Aksi tersebut diduga dilakukan kedua pelaku untuk melampiaskan kekesalan setelah kalah berjudi sabung ayam, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp 37 juta dari pembakaran mesin perontok padi.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15301,"sourceId":"c546f891aff2707c7ae65ff0ea819508","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/22/110141078/penurunan-tanah-di-pesisir-semarang-capai-12-sentimeter-setahun-walkot","title":"Penurunan Tanah di Pesisir Semarang Capai 12 Sentimeter Setahun, Walkot Agustina Dukung Uji Coba NbS","author":"Muchamad Dafi Yusuf, Aloysius Gonsaga AE","publisherName":"kompas.com","content":" SEMARANG, KOMPAS.com - Abrasi, banjir rob, serta penurunan muka tanah masih menjadi ancaman nyata di pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah.  Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, menyebut bahwa penurunan tanah di Kota Semarang mencapai 12 sentimeter per tahun.  Untuk itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mendukung uji coba berbasis alam Nature based Solutions (NbS) merupakan langkah krusial dan presisi untuk mengantisipasi permasalahan itu.  \"Tantangan kenaikan permukaan air laut dan penurunan tanah di kawasan Pantura dialami bersama oleh wilayah pesisir, termasuk Kota Semarang,\" kata Agustina, Kamis (22/10/2026). Menurutnya, perpaduan antara penanganan fisik dan pemulihan ekologis yang diusung dalam program ini.   Kombinasi penanaman mangrove serta penggunaan struktur pemecah gelombang alami berbasis hybrid engineering sangat relevan dengan karakteristik tantangan lingkungan yang dihadapi wilayah pesisir Kota Semarang. \"Pendekatan berbasis alam melalui kombinasi penanaman mangrove dan struktur pemecah gelombang alami menjadi langkah penting yang menyinergikan infrastruktur fisik dengan pemulihan ekosistem,” ujar Agustina.  Dia menganggap, keberhasilan model NbS terletak pada kemampuannya melindungi ruang hidup nelayan dan petambak tanpa mematikan mata pencaharian mereka.  “Penanganan pesisir bukan sekadar membangun benteng fisik, melainkan bagaimana menyelamatkan ruang hidup warga dan memastikan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya nelayan dan petambak, tetap berjalan.\"  \"Program percontohan ini membuktikan bahwa pemulihan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi warga bisa berjalan seiring,” ucap Agustina. Senada dengan hal tersebut, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menambahkan bahwa Nbs menjadi angin segar bagi warga pesisir.  “Model NbS ini menjadi angin segar bagi penataan pesisir kita. Kami melihat skema percontohan ini tidak hanya kokoh secara teknis infrastruktur, tetapi juga adaptif terhadap ekosistem lokal sehingga bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga pesisir,” ungkapnya.","publishedDateTime":"2026-10-22T11:01:41+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T11:01:41+07:00","createdAt":"2026-10-22T11:30:14.734473+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Pesisir Kota Semarang","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah","province":"Jawa Tengah","regency":"Kota Semarang","district":"","village":""},"latitude":-6.9981310296822,"longitude":110.41666606362,"shortDescription":"Penurunan muka tanah di pesisir Kota Semarang yang mencapai 12 cm per tahun mendorong pemerintah kota untuk mendukung uji coba solusi berbasis alam (NbS) sebagai upaya antisipasi.","description":"Penurunan muka tanah di pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah, masih menjadi ancaman nyata dengan laju mencapai 12 sentimeter per tahun. Menanggapi hal ini, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendukung uji coba solusi berbasis alam (Nature based Solutions/NbS) sebagai langkah krusial untuk mengantisipasi permasalahan tersebut. NbS ini merupakan perpaduan antara penanganan fisik dan pemulihan ekologis, seperti penanaman mangrove dan penggunaan struktur pemecah gelombang alami, yang bertujuan melindungi ruang hidup dan mata pencaharian warga pesisir.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15302,"sourceId":"e79c34f9bc69608120d866a5a8761f4d","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/22/14011291/banjir-berulang-di-jalan-raya-keadilan-depok-warga-sebut-terjadi-selama","title":"Banjir Berulang di Jalan Raya Keadilan Depok, Warga Sebut Terjadi Selama Bertahun-tahun","author":"Isna Rifka Sri Rahayu, Tri Susanto Setiawan","publisherName":"kompas.com","content":"DEPOK, KOMPAS.com - Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat, kerap dilanda banjir yang menggenangi badan jalan hingga mengganggu aktivitas warga dan pedagang di sekitarnya.Berdasarkan cuplikan video yang beredar di media sosial, jalan tersebut tampak terendam air. Genangan diduga terjadi akibat aliran air yang terhambat tumpukan sampah di saluran hingga meluap ke badan jalan.Saat Kompas.com mendatangi Jalan Raya Keadilan pada Rabu (21/10/2026) pagi, kondisi jalan sudah kering. Namun, permukaan aspal di sejumlah titik terlihat tidak rata dan mengalami kerusakan.Selain itu, trotoar di sepanjang jalan tampak lebih tinggi dibandingkan badan jalan. Sejumlah warung dan rumah warga juga memiliki pembatas di bagian depan bangunan untuk mencegah air masuk saat banjir terjadi.Pemilik Warung Sembako Barokah, Riri Riadiansyah (50), membenarkan banjir sempat terjadi pada Rabu (21/10/2026) sore menjelang malam. Namun, genangan sudah surut pada dini hari.Ia menyebut, banjir di kawasan tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Genangan biasanya muncul pada sore hari dan baru surut menjelang pagi.\"Kalau sorenya setiap dari jam 17.00 ke atas itu udah pasti banjir. Surutnya jam 3.00 pagi,\" ujar Riri saat ditemui di warungnya yang berada di pinggir Jalan Raya Keadilan, Rabu.Menurut Riri, banjir di kawasan itu diperkirakan sudah terjadi selama dua hingga tiga tahun terakhir. Sebelumnya, genangan bahkan kerap muncul pada pagi dan siang hari sehingga tidak mengenal waktu.Namun, setelah dilakukan perbaikan saluran air, kondisi tersebut mulai membaik. Banjir pada siang hari kini lebih jarang terjadi, meski genangan pada malam hari masih berulang.Riri menduga, banjir terjadi karena saluran air mudah tersumbat sampah. Sampah berukuran besar, seperti kayu dan kasur, terkadang dibuang ke saluran sehingga menghambat aliran air.\"Antara jalan sama struktur air itu, saluran air lebih tinggi, lebih tinggi saluran air. Jadi kalau saat dia ada mampet dikit karena sampah, udah pasti tumpah,\" ungkapnya.Ia menambahkan, warga di sekitar warungnya kerap melakukan kerja bakti untuk membersihkan saluran air. Namun, banjir masih terjadi meskipun pembersihan sudah dilakukan karena sampah juga terbawa dari tempat lain.Akibat genangan tersebut, sejumlah pengendara sepeda motor kerap mengalami mogok saat melintasi jalan. Riri mengatakan, ketinggian air ketika banjir bahkan hampir mencapai lutut orang dewasa.\"Hampir sedengkul,\" jawab Riri sembari menunjukkan ketinggian air dengan tangannya.Kondisi itu juga berdampak pada bangunan di sepanjang jalan. Riri mengaku meninggikan bagian depan warungnya dan membangun pembatas agar air tidak masuk ketika kendaraan melintas dan menimbulkan gelombang.\"Kalau enggak dikasih batas, air yang pas mobil jalan ini otomatis langsung masuk ke dalam,\" katanya.Banjir Tak Menentu, Warung Sepi PembeliKeluhan serupa disampaikan karyawan Warung Soto Madura, Arif (24). Ia mengatakan, genangan masih terjadi di Jalan Raya Keadilan dalam beberapa hari terakhir.Pada Selasa (20/10/2026) malam, misalnya, air kembali menggenangi jalan sekitar pukul 20.00 WIB dan baru surut pada pagi hari.\"Baru dua hari ini sih (banjir) tiap malam. Biasanya ya sering, cuma enggak yang setiap hari kaya kemarin,\" ujar Arif saat ditemui di warungnya, Rabu.Menurut Arif, banjir di kawasan tersebut tidak selalu terjadi pada musim hujan. Saat musim kemarau pun, genangan terkadang muncul ketika volume air meningkat atau saluran tersumbat sampah.Selama bekerja di warung tersebut sekitar dua hingga tiga tahun terakhir, Arif mengaku sudah beberapa kali menyaksikan banjir. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti penyebab maupun asal sampah yang menyumbat saluran.\"Kalau biasa-biasanya ya nggak tentu, kadang kalau lagi airnya lagi di banyak, tiba-tiba banjir aja. Ya kadang musim kering juga musim kemarau gini juga banjir,\" ungkapnya.Arif mengungkapkan, warga setempat sebelumnya cukup sering membersihkan saluran, terutama ketika banjir terjadi. Mereka biasanya mengangkat sampah yang tersangkut agar aliran air kembali lancar.Meski begitu, genangan tetap berpotensi muncul sewaktu-waktu. Menurut Arif, ketinggian air di sekitar warungnya biasanya hanya sebatas mata kaki, tetapi lebih dalam di bagian jalan yang lebih rendah.Banjir juga berdampak pada aktivitas usaha di sepanjang jalan tersebut. Arif mengatakan, sebagian orang enggan mampir ke warung ketika jalan tergenang.\"Dampaknya ya orang jadi malas mampir, karena banjir kan mungkin jadi lewat sini malas,\" kata dia.Ia menambahkan, air terkadang masuk ke dalam warung ketika kendaraan melintas dan menimbulkan gelombang. Oleh karena itu, pemilik warung meninggikan bagian depan bangunan untuk mengurangi risiko air masuk, meski upaya tersebut belum sepenuhnya mencegah genangan.Pintu Air Cipayung Diduga Dibuka Terlalu TinggiSementara itu, Koordinator Lapangan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Furqon, mengatakan, banjir yang terjadi pada malam sebelumnya diduga dipicu oleh pintu air di Cipayung yang dibuka terlalu tinggi.Aliran air yang deras kemudian tertahan tumpukan sampah kayu dan material lain di saluran. Akibatnya, air meluap ke badan jalan.\"Berhubung sampah nyangkut, sampah kayu, jadi air tertahan. Dan meluber di sana,\" ujar Furqon saat ditemui di lokasi, Kamis.Furqon menduga, pintu air tersebut dibuka oleh oknum warga untuk mengalirkan air ke kolam ikan miliknya di sekitar kawasan itu. Namun, ia mengaku belum bertemu langsung dengan pihak yang diduga membuka pintu air tersebut.\"Semalam tuh kan di sana ada kolam ikan. Jadi dia butuh air. Kan kita punya pintu air di Cipayung nah itu dibuka terlalu tinggi. Orang ikannya itu tidak memikirkan dampaknya, karena dia perlu ada aliran buat hidup ikannya,\" jelasnya.Kendati demikian, petugas telah menutup pintu air tersebut pada Rabu (21/10/2026) malam sekitar pukul 23.35 WIB setelah menerima informasi mengenai banjir.Selain itu, Satgas SDA Dinas PUPR Depok langsung diterjunkan ke lokasi pada Kamis untuk membersihkan saluran air di kawasan tersebut.Meski demikian, pihaknya masih perlu menelusuri dugaan pembukaan pintu air yang terlalu tinggi agar persoalan banjir di Jalan Raya Keadilan dapat ditangani.","publishedDateTime":"2026-10-22T14:01:12+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T14:01:12+07:00","createdAt":"2026-10-22T14:30:27.757586+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"badan jalan, trotoar, warung, rumah warga","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Depok","district":"Pancoran Mas","village":"Rangkapan Jaya Baru"},"latitude":-6.3972047353156,"longitude":106.77763382582,"shortDescription":"Banjir di Jalan Raya Keadilan diduga disebabkan oleh tumpukan sampah di saluran air yang menghambat aliran, diperparah dengan pembukaan pintu air Cipayung yang terlalu tinggi oleh oknum warga.","description":"Jalan Raya Keadilan di Depok, Jawa Barat, kembali dilanda banjir pada Rabu (21/10/2026) sore menjelang malam, dengan ketinggian air hampir mencapai lutut orang dewasa. Genangan yang diduga disebabkan oleh tumpukan sampah di saluran air yang menghambat aliran, menyebabkan air meluap ke badan jalan dan mengganggu aktivitas warga serta pedagang. Banjir ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan biasanya surut menjelang pagi.","affectedPaths":["Jalan Raya Keadilan"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15303,"sourceId":"fe09760704dd967c26ba41c80102adaf","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/22/15313241/banjir-berulang-di-jalan-raya-keadilan-depok-warga-pasang-pembatas-agar","title":"Banjir Berulang di Jalan Raya Keadilan Depok, Warga Pasang Pembatas agar Air Tak Masuk Rumah","author":"Isna Rifka Sri Rahayu, Tri Susanto Setiawan","publisherName":"kompas.com","content":"DEPOK, KOMPAS.com - Sejumlah rumah dan warung di Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat, memiliki pembatas di bagian depan bangunan.Pembatas itu dipasang untuk mengantisipasi air banjir yang kerap meluap dari jalan agar tidak masuk ke dalam bangunan.Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Kamis (22/10/2026), pembatas terlihat di depan sejumlah bangunan di sepanjang jalan tersebut.Bahkan trotoar juga tampak sengaja ditinggikan.Pemilik Warung Sembako Barokah, Riri Riadiansyah (50), mengatakan, upaya tersebut diperlukan karena gelombang air dari kendaraan yang melintas bisa membuat air masuk ke dalam warung.\"Enggak (masuk ke dalam airnya). Makanya kami kasih ituan kan, pembatas. Kalau enggak dikasih batas, air yang pas mobil jalan ini otomatis langsung masuk ke dalam,\" ujar Riri saat ditemui di warungnya yang berada di pinggir Jalan Raya Keadilan, Kamis.Riri menuturkan, banjir di Jalan Raya Keadilan sudah terjadi selama bertahun-tahun.Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, genangan kerap muncul pada sore hari dan baru surut menjelang pagi.\"Sering (banjir). Kalau sorenya setiap dari jam 17.00 ke atas itu sudah pasti banjir. Surutnya jam 3.00 pagi,\" ungkapnya.Menurut Riri, ketinggian air saat banjir bahkan hampir mencapai lutut orang dewasa.Kondisi itu juga membuat sejumlah pengendara sepeda motor mengalami mogok saat melintasi jalan.Riri menduga, banjir terjadi karena aliran air di saluran tersumbat sampah.Ia menyebut, sampah berukuran besar, seperti kayu dan kasur, terkadang ditemukan di saluran air.\"Makanya setiap pinggirannya (jalan) tuh pada rusak-rusak kan? Ya warga karena sudah terbiasa, ya dianggap biasa,\" kata dia.Ia mengatakan, warga sekitar sudah beberapa kali melakukan kerja bakti untuk membersihkan saluran.Perbaikan saluran yang dilakukan belakangan ini juga membuat banjir pada pagi dan siang hari berkurang.Meski demikian, genangan pada malam hari masih terjadi.\"Malah awalnya siang-siang pun banjir. Sekarang karena sudah ada pembetulan jadi mendingan. Kalau malam saja banjirnya. Biasanya siang-siang juga banjir, pagi banjir biasanya. Sering begitu,\" tuturnya.Banjir Mengganggu Aktivitas WarungKaryawan Warung Soto Madura, Arif (24), mengatakan, genangan masih terjadi dalam beberapa hari terakhir.Pada Rabu (21/10/2026) malam, misalnya, air mulai menggenangi jalan sekitar pukul 20.00 WIB dan kondisi jalan kembali kering pada pagi hari.\"Baru dua hari ini sih tiap malam. Tapi ya sering, cuma enggak yang setiap hari,\" ujar Arif saat ditemui di warung, Kamis.Selama bekerja di warung tersebut sekitar dua hingga tiga tahun terakhir, Arif mengaku sudah beberapa kali menyaksikan banjir.Menurut dia, genangan tidak hanya terjadi saat musim hujan, tetapi terkadang juga muncul pada musim kemarau.Arif menduga, sampah yang menumpuk di selokan menjadi salah satu faktor yang menghambat aliran air.Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab maupun asal sampah tersebut.\"Ya itu saya juga nggak tahu (sebabnya apa). Nggak pernah ke sana menelusuri. Tahu-tahu banjir saja ada sampah begitu,\" ucapnya.Ia menyebut, bagian depan warungnya juga telah ditinggikan untuk mengurangi risiko air masuk.Namun, upaya itu belum sepenuhnya mencegah air menerobos ke dalam ketika kendaraan melintas dan menimbulkan gelombang.Banjir turut memengaruhi aktivitas usaha di sekitar lokasi.Arif mengatakan, pelanggan terkadang enggan mampir ketika jalan sedang tergenang.\"Dampaknya ya orang jadi malas mampir, karena banjir kan mungkin jadi lewat sini malas,\" ujarnya.PUPR Depok Sebut Pintu Air Cipayung Dibuka Terlalu TinggiKoordinator Lapangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok Bidang Sumber Daya Air (SDA), Furqon, mengatakan, banjir yang terjadi pada Selasa malam diduga dipicu oleh pintu air di Cipayung yang dibuka terlalu tinggi.Menurut Furqon, aliran air kemudian tertahan oleh tumpukan sampah kayu dan material lain di saluran sehingga meluap ke badan jalan.\"Berhubung sampah nyangkut, sampah kayu, jadi air tertahan. Dan meluber di sana,\" ujar Furqon.Furqon menduga, pintu air tersebut dibuka untuk mengalirkan air ke kolam ikan milik pengusaha di sekitar kawasan itu.Namun, ia mengaku belum bertemu langsung dengan pihak yang diduga membuka pintu air tersebut.Kendati demikian, petugas sudah melakukan penanganan pada malam hari ketika menerima laporan banjir.Pintu air tersebut telah ditutup pada Rabu malam sekitar pukul 23.35 WIB untuk mengurangi aliran air yang meluap ke jalan.","publishedDateTime":"2026-10-22T15:31:32+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T15:31:32+07:00","createdAt":"2026-10-22T16:00:11.041112+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"rumah, warung, trotoar, saluran air","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Depok","district":"Pancoran Mas","village":"Rangkapan Jaya Baru"},"latitude":-6.3972047353156,"longitude":106.77763382582,"shortDescription":"Banjir di Jalan Raya Keadilan disebabkan oleh saluran air yang tersumbat sampah dan pintu air di Cipayung yang dibuka terlalu tinggi, menyebabkan air meluap ke badan jalan.","description":"Banjir kerap meluap di Jalan Raya Keadilan, Depok, Jawa Barat, terutama pada sore hari mulai pukul 17.00 WIB dan baru surut menjelang pagi. Ketinggian air bahkan hampir mencapai lutut orang dewasa, menyebabkan sejumlah pengendara sepeda motor mogok. Warga menduga banjir disebabkan oleh saluran air yang tersumbat sampah berukuran besar seperti kayu dan kasur, serta pintu air di Cipayung yang dibuka terlalu tinggi. Akibatnya, aktivitas warga dan usaha di sekitar lokasi terganggu karena pelanggan enggan mampir saat jalan tergenang.","affectedPaths":["Jalan Raya Keadilan"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15304,"sourceId":"818ae2762c85e3a113c7da293efcea8d","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/22/154607878/3-kecamatan-terendam-banjir-di-aceh-utara-butuh-pembangunan-tanggul-sungai","title":"3 Kecamatan Terendam Banjir di Aceh Utara, Butuh Pembangunan Tanggul Sungai","author":"Masriadi , Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":"LHOKSUKON, KOMPAS.com - Hujan deras mengakibatkan tiga kecamatan terendam banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Kamis (22/10/2026).Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Utara menyebutkan desa terendam banjir yaitu Desa Alue Tho, Lawang dan Desa Hagu di Kecamatan Matang Kuli.Berikutnya di Desa Rayeuk Pange dan Desa Asan Krueng Kreh di Kecamatan Pirak Timu, dan terakhir Desa Kilometer Tujuh Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.Salah seorang warga di Desa Hagu, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Fakhruddin, kepada Kompas.com, menyebutkan banjir disebabkan meluapnya sungai di kawasan itu.Pasalnya, sungai tidak memiliki tanggul sehingga begitu air meluap langsung merendam pemukiman warga. Hingga sore ini, warga masih bertahan di rumah masing-masing. “Ketinggian air dibadan jalan 30 sentimeter. Sedangkan di pemukiman warga setengah meter hingga satu meter. Makin dekat ke bibir sungai makin dalam,” katanya.Dia berharap agar pemerintah membangun tanggul sungai sepanjang daerah aliran sungai. “Jika pun tidak mungkin, bisa menggunakan tebing alami yaitu menanami pohon bambu diseluruh sungai. Kalau tidak, kita akan tenggelam terus dalam banjir,” katanya.Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Aceh Utara M Nasir menyebutkan hingga sore ini tidak ada pengungsian. Warga masih bertahan di lokasi pengungsian.“Tim kita siaga di lokasi banjir. Jika memang harus dievakuasi, tim kita siap mengevakuasi warga,” katanya.Selain itu, dia mengimbau warga lebih siaga di daerah aliran sungai memasuki musim penghujan hingga akhir tahun. “Baiknya warga bersiap menghadapi banjir. Misalnya dengan meletakan barang-barang ke daerah lebih tinggi, curah hujan sepekan ke depan akan deras,” katanya.Dia menyebutkan timnya siaga di seluruh desa yang memiliki daerah aliran sungai. “Kami pastikan bisa melakukan evakuasi warga jika ketinggian air terus bertambah,” pungkasnya.","publishedDateTime":"2026-10-22T15:46:07+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T15:46:07+07:00","createdAt":"2026-10-22T16:30:12.639399+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"pemukiman warga","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh","province":"Aceh","regency":"Aceh Utara","district":"","village":""},"latitude":5.0892656734199,"longitude":97.2535691996905,"shortDescription":"Banjir terjadi akibat meluapnya sungai di Aceh Utara karena tidak adanya tanggul, yang menyebabkan pemukiman warga terendam air.","description":"Hujan deras mengakibatkan tiga kecamatan terendam banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pada Kamis (22/10/2026). Banjir disebabkan meluapnya sungai karena tidak adanya tanggul, merendam pemukiman warga dengan ketinggian air setengah meter hingga satu meter. Hingga sore hari, warga masih bertahan di rumah masing-masing dan tim BPBD siaga di lokasi untuk evakuasi jika diperlukan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15305,"sourceId":"2231a946ab5f24c9b4fdfd3dbd3f397d","url":"https://medan.kompas.com/read/2026/10/22/161208978/3-hari-ke-depan-sumut-berpotensi-dilanda-cuaca-ekstrim-warga-diminta-waspadai","title":"3 Hari ke Depan Sumut Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrim, Warga Diminta Waspadai Banjir Bandang dan Longsor","author":"Rahmat Utomo, Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" MEDAN, KOMPAS.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah di Sumatera Utara akan menghadapi cuaca ekstrim mulai dari 23-25 Oktober 2026. Masyarakat diminta waspada terhadap munculnya musibah banjir bandang, angin puting beliung hingga tanah longsor. Kepala Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah 1 Medan, Hendro Nugroho mengatakan fenomena cuaca ini terjadi karena adanya sirkulasi siklonik, yang terbentuk di Samudera Hindia Barat dan Aceh. Kondisi itu mengakibatkan adanya belokan angin dan konfluensi atau pertemuan massa udara di Sumatera Utara.  \"Kondisi ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat yang disertai petir dan angin kencang pada siang hingga dini hari dengan durasi lebih dari tiga jam,\" ungkap Hendro dalam keterangan tertulisnya. Selain itu, akibat fenomena cuaca ini, suhu muka laut di Sumut terpantau hangat berkisar 30 – 31 oC, lalu juga terjadi kelembaban udara yang tinggi di semua lapisan atmosfer. Faktor ini juga membar Sumut diprediksi akan menerima tambahan uap air, sehingga terjadi peningkatan pembentukan awan-awan hujan khususnya di wilayah pantai barat dan pesisir timur Sumatera Utara. \"Berdasarkan faktor tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, dan tanah longsor,\" ujar Hendro.  Adapun wilayah berpotensi mengalami cuaca ekstrim yakni Kabupaten Deli Serdang, Asahan, Serdang Bedagai, Batubara, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Nias, Nias Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba, Langkat, Mandailing Natal, Nias Barat, Nias Selatan, Pakpak Bharat dan Dairi. Kemudian Kota Medan, Binjai, Gunung Sitoli, Padang Sidempuan, Pematang Siantar, Sibolga dan Tanjung Balai. \"Masyarakat diharapkan selalu merujuk dan mengikuti informasi yang disampaikan oleh Balai Besar MKG Wilayah I Medan melalui media sosial @infobmkgsumut,\" ujar Hendro.","publishedDateTime":"2026-10-22T16:12:08+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T16:12:08+07:00","createdAt":"2026-10-22T17:00:21.796785+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"wilayah Sumatera Utara","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Asahan, Serdang Bedagai, Batubara, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Nias, Nias Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba, Langkat, Mandailing Natal, Nias Barat, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Dairi, Kota Medan, Binjai, Gunung Sitoli, Padang Sidempuan, Pematang Siantar, Sibolga dan Tanjung Balai","province":"Sumatera Utara","regency":"Kota Padang Sidempuan","district":"","village":""},"latitude":1.3844081858612,"longitude":99.276493901799,"shortDescription":"Sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat dan Aceh menyebabkan belokan angin dan konfluensi di Sumatera Utara, memicu cuaca ekstrim dan potensi bencana hidrometeorologis.","description":"BMKG memprediksi wilayah Sumatera Utara akan menghadapi cuaca ekstrim mulai dari 23-25 Oktober 2026, yang berpotensi menyebabkan banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor. Fenomena ini disebabkan oleh sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat dan Aceh, yang mengakibatkan belokan angin dan konfluensi di Sumut. Kondisi ini berpotensi menyebabkan hujan intensitas sedang hingga sangat lebat yang disertai petir dan angin kencang.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15306,"sourceId":"f8c4715f2dc50cced766bd7d87856f41","url":"https://www.kompas.com/sumatera-utara/read/2026/10/22/164204188/bmkg-peringatkan-cuaca-ekstrem-di-sumut-23-25-oktober-2026-ini","title":"BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sumut 23-25 Oktober 2026, Ini Daftar 32 Wilayah Terdampak","author":"Wahyu Wachid Anshory ","publisherName":"kompas.com","content":"  KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada 23 hingga 25 Oktober 2026.  Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, Hendro Nugroho, di Medan, Kamis (22/10/2026), mengatakan bahwa BMKG mengidentifikasi sejumlah faktor atmosfer yang mendukung terbentuknya awan hujan di Sumatera Utara. Salah satu faktor tersebut adalah terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Aceh. Fenomena ini menyebabkan belokan angin dan konfluensi atau pertemuan massa udara di wilayah Sumatera Utara.  Selain itu, kondisi atmosfer juga didukung oleh aktivitas gelombang atmosfer dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sedang memengaruhi wilayah tersebut. Dilansir dari Antara, BMKG menjelaskan, potensi cuaca ekstrem tidak hanya dipengaruhi oleh sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Aceh. Kondisi suhu permukaan laut dan kelembapan udara juga turut mendukung pembentukan awan hujan. Suhu muka laut di sekitar wilayah tersebut terpantau hangat, berkisar antara 30 hingga 31 derajat Celsius. Pada saat yang sama, kelembapan udara terpantau tinggi di seluruh lapisan atmosfer.  Suhu permukaan laut yang hangat dapat meningkatkan ketersediaan uap air di atmosfer. Ketika kondisi tersebut didukung oleh pola angin yang memicu pertemuan massa udara serta aktivitas gelombang atmosfer, proses pembentukan awan hujan dapat meningkat. Akibatnya, sejumlah wilayah di Sumatera Utara berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat. Hujan juga diperkirakan dapat disertai petir dan angin kencang, dengan durasi lebih dari tiga jam. Daerah Mana Saja yang Berpotensi Terdampak? BMKG mengidentifikasi puluhan kabupaten dan kota di Sumatera Utara yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat selama periode 23-25 Oktober 2026.  Wilayah yang masuk dalam daftar tersebut meliputi:  Kabupaten Deli Serdang Kabupaten Asahan Kabupaten Serdang Bedagai Kabupaten Batubara Kabupaten Humbang Hasundutan Kabupaten Karo Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kabupaten Labuhanbatu Kabupaten Labuhanbatu Utara Kabupaten Labuhanbatu Selatan Kabupaten Nias Kabupaten Nias Utara Kabupaten Padang Lawas Kabupaten Padang Lawas Utara Kabupaten Samosir Kabupaten Simalungun Kabupaten Tapanuli Selatan Kabupaten Tapanuli Tengah Kabupaten Tapanuli Utara Kabupaten Toba Kabupaten Langkat Kabupaten Mandailing Natal Kabupaten Nias Barat Kabupaten Nias Selatan Kabupaten Pakpak Bharat Kabupaten Dairi Kota Medan Kota Binjai Kota Gunungsitoli Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar.   Beberapa ancaman yang perlu diperhatikan antara lain:  Banjir, terutama di kawasan dataran rendah, permukiman padat, dan wilayah yang berada di sekitar aliran sungai. Banjir bandang, khususnya di daerah yang memiliki aliran sungai dari kawasan perbukitan atau pegunungan. Tanah longsor, terutama di lereng, tebing, dan kawasan dengan kondisi tanah yang rentan. Angin kencang, yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, serta gangguan perjalanan. Petir dan hujan lebat, yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat di luar ruangan.  Warga yang tinggal di daerah rawan longsor perlu memperhatikan tanda-tanda perubahan kondisi lingkungan, seperti munculnya retakan tanah, perubahan posisi pohon, atau aliran air yang tidak biasa di sekitar lereng. Sementara itu, masyarakat di daerah rawan banjir sebaiknya memantau ketinggian air dan memastikan saluran drainase di sekitar tempat tinggal tidak tersumbat.  BMKG mengimbau masyarakat agar terus mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi dan tidak mengabaikan peringatan dini yang dikeluarkan selama periode potensi cuaca ekstrem. Para kepala daerah juga diharapkan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri di wilayah masing-masing.","publishedDateTime":"2026-10-22T16:42:04+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T16:42:04+07:00","createdAt":"2026-10-22T17:30:20.697379+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Tinggi","eventStatus":"on going","damagedObject":"Permukiman, kawasan dataran rendah, wilayah sekitar aliran sungai, lereng, tebing, kawasan perbukitan/pegunungan, bangunan ringan, pohon.","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Sumatera Utara","province":"Sumatera Utara","regency":"","district":"","village":""},"latitude":2.2436881066129,"longitude":98.951070936469,"shortDescription":"Potensi cuaca ekstrem di Sumatera Utara disebabkan oleh kombinasi faktor atmosfer seperti sirkulasi siklonik, gelombang atmosfer, MJO, suhu permukaan laut hangat, dan kelembapan udara tinggi.","description":"BMKG mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem di 32 wilayah Sumatera Utara pada 23-25 Oktober 2026, yang berpotensi menyebabkan banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, petir, dan hujan lebat. Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan analisis faktor atmosfer seperti sirkulasi siklonik, belokan angin, konfluensi, aktivitas gelombang atmosfer, MJO, suhu permukaan laut yang hangat, dan kelembapan udara tinggi.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15308,"sourceId":"62664393dc74754316e8759167023132","url":"https://entertainment.kompas.com/read/2026/10/22/170756366/soroti-bencana-ekologis-nicholas-saputra-biaya-kita-gagal-menjaga-alam","title":"Soroti Bencana Ekologis, Nicholas Saputra: Biaya Kita Gagal Menjaga Alam Jarang Dihitung","author":"Rintan Puspita Sari","publisherName":"kompas.com","content":" JAKARTA, KOMPAS.com- Aktor Nicholas Saputra sampaikan pandangannya tentang bencana ekologis yang belakangan terjadi di Indonesia. Mulai dari banjir di Aceh hingga kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Nicholas membagikan foto kondisi kebakaran hutan yang diambilnya ketika mendarat di Kalimantan 18 Agustus 2026, serta foto di Tange Besi, sebulan setelah banjir bandang dan longsor. \"Keduanya adalah bencana ekologis yang sebenarnya bisa dimitigasi. Alam dan science sudah memperingatkannya,\" tulisnya di media sosial. \"Alarmnya sering berbunyi, namun tombol snooze kerap ditekan,\" sambungnya.  Dalam artikel panjang yang ditulisnya di Kompas.id, Nicholas mengingat pertemuannya dengan orang di dua daerah tersebut dan ucapan mereka yang membuatnya tersadar.  Ia mengingat pertemuannya dengan seorang pemuda di Aceh sebelum banjir bandang terjadi. \"Saya tahu apa yang dilakukannya salah dan mencoba meyakinkannya untuk berhenti. Namun, jawabannya sederhana: ”Kami lapar, Bang.” Beberapa waktu kemudian, saya mendengar bahwa ia ditangkap dan dipenjara,\" tulisnya. Atau seorang tetua di Kalimantan yang menjaga hutan turun temurun, tapi dibenturkan dengan fakta bahwa daerahnya menjadi terbelakang karena tak ada fasilitas kesehatan maupun pendidikan.  \"Masyarakat adat peladang tradisional tidak seharusnya dipaksa memilih antara mempertahankan hubungan mereka dengan alam dan memperoleh kehidupan yang lebih baik,\" tulis Nicholas. Begitu juga dengan efisiensi pembukaan lahan dengan cara membakar. Menurutnya hal itu perlu dipertanyakan 'efisien bagi siapa?' karena efek dari itu ditanggung masyarakat luas. Nicholas menyebut bahwa pembuat kebijakan sering melupakan adanya 'biaya' yang harus dibayar sebagai akibat gagal menjaga alam. Hal ini karena mereka tidak tinggal di wilayah tersebut.  \"Biaya ketika kita gagal menjaga alam jarang dihitung dengan serius, tetapi bukan berarti biaya itu tidak ada,\" tulis Nicholas.  \"Ia tetap dibayar, hanya oleh orang-orang yang tidak pernah ikut memutuskan, termasuk anak-anak yang kini harus bernapas di tengah asap,\" tulisnya.  Dua orang berbeda dari wilayah berbeda tapi memiliki persoalan yang menurutnya sama secara garis besar. \"Mereka tinggal paling dekat dengan hutan yang disebut penting bagi kepentingan nasional bahkan global, tetapi belum tentu menikmati manfaat yang sepadan,\" tulisnya. \"Ketika hutan hilang, merekalah yang lebih dulu menanggung akibatnya. Ketika banjir datang, rumah, sawah, dan jalan mereka rusak. Ketika asap menyebar, mereka ikut menghirupnya,\" imbuhnya. Nicholas memandang fakta ini sebagai sebuah 'ironi'. \"Pembangunan tidak cukup hanya berkelanjutan. Pembangunan juga harus bermartabat,\" tulisnya.   ","publishedDateTime":"2026-10-22T17:07:56+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T17:07:56+07:00","createdAt":"2026-10-22T18:00:25.944219+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"alam","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Aceh","province":"Aceh","regency":"","district":"","village":""},"latitude":4.99890422012235,"longitude":96.8047071694485,"shortDescription":"Bencana ekologis terjadi karena kegagalan dalam menjaga alam, yang seringkali disebabkan oleh faktor ekonomi masyarakat dan kurangnya perhitungan biaya jangka panjang oleh pembuat kebijakan.","description":"Nicholas Saputra menyoroti bencana ekologis yang terjadi di Indonesia, seperti banjir di Aceh dan kebakaran hutan di Kalimantan. Ia menekankan bahwa bencana ini sebenarnya bisa dimitigasi dan alam telah memberikan peringatan. Ia juga mengisahkan pertemuannya dengan masyarakat di kedua wilayah tersebut yang menghadapi dilema antara menjaga alam dan memenuhi kebutuhan hidup, serta bagaimana biaya kegagalan menjaga alam seringkali tidak dihitung serius oleh pembuat kebijakan yang tidak tinggal di wilayah terdampak.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15307,"sourceId":"932ddf85804f69d43849d41033735072","url":"https://otomotif.kompas.com/read/2026/10/22/171100215/bursa-mobil-poins-gelar-pameran-mobil-bekas-akhir-pekan-ini","title":"Bursa Mobil Poins Gelar Pameran Mobil Bekas Akhir Pekan Ini","author":"Azwar Ferdian","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa Mobil Poins akan menggelar pameran mobil bekas di Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, akhir pekan ini, Sabtu (24/10/2026) hingga Minggu (25/10/2026). Pameran bertajuk Showroom Expo ini menghadirkan lebih dari 200 unit mobil bekas dari berbagai pilihan. Selain mobil, pengunjung juga bisa melihat sejumlah motor gede (moge) yang turut ditawarkan selama acara berlangsung. Melalui pameran ini, calon konsumen memiliki kesempatan untuk melihat langsung kondisi kendaraan, membandingkan pilihan unit, hingga mencari informasi mengenai harga dan skema pembiayaan yang tersedia. Ada juga sejumlah program untuk memudahkan masyarakat yang berencana membeli kendaraan bekas. Di antaranya fasilitas persetujuan kredit langsung di lokasi atau instant approval, serta penawaran bunga pembiayaan mulai dari 0 persen, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. “Melalui acara ini, kami ingin memberikan pengalaman yang lebih mudah dan nyaman bagi masyarakat yang ingin memiliki kendaraan. Pengunjung dapat melihat berbagai pilihan unit secara langsung, sekaligus memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang tersedia selama expo berlangsung,” ujar Perwakilan Bursa Mobil Poins, Christ Ryan, dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).  Bebas Kecelakaan dan Banjir Dari sisi kondisi kendaraan, penyelenggara mengklaim seluruh unit yang ditawarkan telah dipastikan bebas dari riwayat kecelakaan dan banjir. Meski demikian, calon pembeli tetap perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum bertransaksi, mulai dari kondisi mesin, bodi, kaki-kaki, hingga kelengkapan dan keabsahan dokumen kendaraan. Khusus pembelian secara kredit, konsumen juga perlu mencermati besaran uang muka, tenor, cicilan bulanan, serta biaya tambahan yang mungkin dikenakan. Pasalnya, penawaran bunga 0 persen belum tentu berlaku untuk seluruh unit maupun pilihan tenor pembiayaan. Selain kegiatan jual beli kendaraan, Showroom Expo juga akan menghadirkan sejumlah influencer dan bintang tamu untuk meramaikan acara selama dua hari. Pameran ini berlangsung di Bursa Mobil Poins, Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada 24–25 Oktober 2026.","publishedDateTime":"2026-10-22T17:11:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T17:11:00+07:00","createdAt":"2026-10-22T18:00:25.944219+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Mobil bekas, motor gede","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Selatan","district":"Cilandak","village":"Lebak Bulus"},"latitude":-6.3044465152018,"longitude":106.78444287312,"shortDescription":"Pameran mobil bekas ini diselenggarakan oleh Bursa Mobil Poins untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin membeli kendaraan bekas.","description":"Bursa Mobil Poins akan menggelar pameran mobil bekas bertajuk Showroom Expo di Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada 24-25 Oktober 2026. Pameran ini akan menghadirkan lebih dari 200 unit mobil bekas dan sejumlah motor gede, serta menawarkan fasilitas pembiayaan seperti persetujuan kredit langsung di lokasi dan bunga mulai dari 0 persen. Seluruh unit yang ditawarkan diklaim bebas dari riwayat kecelakaan dan banjir.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15312,"sourceId":"b720d19fc0951289726e3ca1d8117d47","url":"https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/22/180000665/gurun-terkering-di-dunia-mendadak-berbunga-diselimuti-200-bunga-liar","title":"Gurun Terkering di Dunia Mendadak Berbunga, Diselimuti 200 Bunga Liar","author":"Afif Khoirul Muttaqin, Danur Lambang Pristiandaru","publisherName":"kompas.com","content":"KOMPAS.com - Gurun Atacama di Chile, yang memiliki gurun terkering di dunia, tiba-tiba berubah menjadi taman bunga raksasa pada musim semi tahun ini.Menurut The Star, Kamis (22/10/2026), gurun non-kutub terkering di Bumi yang identik dengan lanskap cokelat berbatu itu kini ditutupi jutaan bunga warna-warni. Fenomena langka yang dikenal sebagai desierto florido atau \"gurun berbunga\" ini kembali terjadi setelah Chile diguyur hujan lebat di tengah fenomena El Nino.Saat sebagian wilayah di dunia menghadapi panas ekstrem, Chile justru mengalami hujan deras sepanjang pertengahan hingga akhir 2026.Jumlah air yang luar biasa banyak itu menumbuhkan jutaan biji dan umbi yang telah \"tertidur\" puluhan tahun di bawah tanah.“Ini adalah fenomena unik, ada lebih dari 200 spesies tumbuhan. Ini peristiwa berbunga yang jelas luar biasa dan tidak biasa, sangat berbeda dari mekarnya bunga lain di dunia,” kata Jorge Carabantes, Kepala Departemen Kawasan Lindung di Perusahaan Kehutanan Nasional Chile (Conaf).Hujan terderas sejak 1950-anGurun Atacama sendiri membentang sekitar 1.600 km di antara Samudra Pasifik dan Pegunungan Andes, di sepanjang pantai utara Chile.Memang, berbunga adalah hal biasa saat transisi musim dingin ke semi. Namun tahun ini skalanya berbeda. Bukit pasir kecoklatan berubah total menjadi hamparan bunga liar yang semarak.Pemicunya adalah curah hujan rekor yang terjadi antara Juli dan Agustus. Beberapa wilayah mencatat hujan yang belum pernah terlihat sejak pengukuran dimulai pada 1950-an.“Sejak pencatatan curah hujan dimulai, angka ini paling signifikan: 160, 180, 190 milimeter di beberapa lokasi,” jelas ahli biologi Cesar Pizarro, Kepala Seksi Konservasi Keanekaragaman Hayati di Conaf Atacama.“Apa yang terjadi sekarang memiliki penyebab, dan itu disebut Super El Nino,” tambahnya.Fenomena iklim yang menyebabkan lonjakan suhu global ini memang sempat menyebabkan banjir dan kerusakan di beberapa bagian Chile. Namun di utara, badai tersebut justru memicu pertumbuhan vegetasi bersejarah seluas sekitar 17.000 kilometer persegi tahun ini.Conaf memproyeksikan, ini akan menjadi desierto florido yang paling intens dan luas sejak 1997.Rahasia benih yang tertidur 40 tahunMenurut Pizarro, hujan lebat telah mengaktifkan materi biologis gurun yang disebut plasma nutfah.Materi ini terdiri dari biji, umbi, rimpang, bahkan telur invertebrata dan reptil yang bisa bertahan bertahun-tahun.“Ada perbukitan di mana tidak ada tanaman hijau atau bunga yang terlihat selama lebih dari 30 atau 40 tahun. Plasma nutfah gurun ini dapat tetap tidak aktif selama puluhan tahun. Perbukitan tahun ini adalah contoh terbaiknya,” ujar Pizarro.Hasilnya adalah tontonan visual menakjubkan. Lebih dari 200 spesies tumbuhan mekar dengan berbagai warna dan bentuk. Ada nanuca merah dan kuning, purslane batu ungu, suspiro putih, terciopelo oranye, hingga garra de leon yang ikonik, menghiasi perbukitan, dataran, dan jurang Atacama.Fenomena ini mengubah imajinasi banyak orang tentang gurun.“Saya selalu berpikir gurun hanya akan berwarna cokelat. Itulah gambaran saya,” kata Felix Banda (51), warga kelahiran Chile yang tinggal di Australia dan baru pertama kali ke Atacama. “Saya tahu hujan turun deras, jadi saya harap melihat hijau, tapi ini lanskap yang luar biasa,” jelasnya.Diburu wisatawan hingga NovemberKeindahan langka ini menarik ratusan ribu wisatawan, baik dari dalam Chile maupun mancanegara, yang rela menjelajah area terpencil Atacama.Menurut data Sekretariat Pariwisata Nasional, wilayah Atacama diperkirakan akan menerima hampir 300.000 kunjungan menginap hingga fenomena ini berakhir pada November mendatang.Salah satunya adalah koki Franco Moya (37) yang bersama pacarnya menempuh perjalanan hampir 1.000 km dari Santa Cruz, Chile tengah, untuk merayakan ulang tahun.“Sungguh menakjubkan melihat bagaimana bunga-bunga tumbuh di tempat yang begitu kering. Ini pertama kalinya saya di sini dan itu benar-benar momen yang mengejutkan,” katanya.","publishedDateTime":"2026-10-22T18:00:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T18:00:00+07:00","createdAt":"2026-10-22T18:30:19.056729+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Gurun Atacama, lebih dari 200 spesies tumbuhan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Gurun Atacama, Chile","province":"Sumatera Barat","regency":"Lima Puluh Kota","district":"Harau","village":"Gurun"},"latitude":-0.90290107680699,"longitude":100.37580054361,"shortDescription":"Hujan lebat yang dipicu oleh fenomena El Nino menyebabkan jutaan biji dan umbi di Gurun Atacama yang telah tertidur puluhan tahun menjadi aktif dan tumbuh, menciptakan fenomena 'gurun berbunga'.","description":"Gurun Atacama di Chile, yang dikenal sebagai gurun terkering di dunia, mengalami fenomena langka 'desierto florido' atau 'gurun berbunga' pada musim semi 2026. Fenomena ini terjadi setelah gurun tersebut diguyur hujan lebat yang belum pernah terjadi sejak 1950-an akibat fenomena El Nino. Hujan tersebut memicu pertumbuhan jutaan biji dan umbi yang telah tertidur puluhan tahun di bawah tanah, menumbuhkan lebih dari 200 spesies bunga liar yang mengubah lanskap gurun menjadi taman bunga raksasa.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15313,"sourceId":"f081e060867f935e0a5a4de99c7c243c","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/22/18111821/sampah-yang-sumbat-got-hingga-bikin-banjir-jalan-keadilan-depok-akhirnya","title":"Sampah yang Sumbat Got hingga Bikin Banjir Jalan Keadilan Depok Akhirnya Dikeruk","author":"Isna Rifka Sri Rahayu, Ambaranie Nadia Kemala Movanita ","publisherName":"kompas.com","content":"  DEPOK, KOMPAS.com - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bidang Sumber Daya Air (SDA) telah mengeruk sampah yang menghambat saluran air di Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, tumpukan sampah yang dikeruk sempat terlihat menumpuk di depan SPPG Rangkapan Jaya. Sejumlah petugas Satgas SDA Dinas PUPR juga terlihat masih berupaya mengeluarkan sampah dari saluran air.  Jika diperhatikan, tumpukan sampah tersebut terdiri dari sampah plastik baik yang berupa kantorng plastik maupun plastik bekas produk. Ada pula potongan-potongan kayu berbentuk pipih dan triplek yang sepertinya bekas digunakan untuk ornamen atau furnitur, serta bilah bambu dan ranting pohon. Gundukan sampah tersebut telah diangkut oleh truk dari Dinas PUPR siang tadi. Koordinator Lapangan Bidang SDA Dinas PUPR Depok, Furqon mengatakan, sampah yang menyumbat saluran menjadi salah satu penyebab air meluap hingga menggenangi Jalan Raya Keadilan. Sampah kayu dan material lainnya menahan aliran air sehingga air meluber ke badan jalan. Terlebih pada Rabu (21/10/2026) terdapat oknum warga yang membuka pintu air di Cipayung dengan sengaja. Alhasil debit air meningkat sehingga meluber hingga ke Jalan Raya Keadilan dan membuat jalanan dibanjiri air pada Rabu malam. \"Sebenarnya karena tertahan sampah di sini, ini sedang kita bersihkan, pintu air Cipayung dibuka terlalu tinggi. Kapasitas air tidak memenuhi saluran, otomatis tersangkut sampah kayu, sampah lain-lainnya, meluberlah semalam di sini,\" ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis.  Petugas telah menutup pintu air tersebut pada Rabu malam sekitar pukul 23.35 WIB untuk mengurangi aliran air yang meluap. Kemudian pada Kamis pagi hingga siang dilakukan pengerukan sampah-sampah yang menyumbat saluran air di sepanjang jalan tersebut. Petugas Satgas SDA sebenarnya sudah rutin membersihkan saluran air di kawasan tersebut sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan. Pembersihan tambahan juga dilakukan ketika petugas menerima laporan masyarakat mengenai genangan. Namun, lantaran sampah terus berdatangan kemudian terhambat oleh jembatan yang rendah di dekat SPPG Rangkapan Jaya, maka saluran kerap terhambat. \"Ini di sini semalam, karena tertahan di sini kan dengan kayu-kayu sana. Nah di sini melubernya,\" ujarnya sembari menunjuk titik saluran air yang tembok pembatasnya sudah hilang. Selanjutnya, Dinas PUPR Bidang SDA akan membangun kembali tembok pembatas agar air dari saluran tidak langsung tumpah ke jalan ketika debit air meningkat.  Selain itu, pihaknya juga berupaya untuk memasang gembok di pintu air Cipayung agar tidak sembarangan orang bisa membuka pintu air tersebut. \"Ya karena belum digembok. Nanti kan akan digembok,\" jawabnya ketika ditanya kenapa warga ada yang bisa membuka pintu air di Cipayung.","publishedDateTime":"2026-10-22T18:11:18+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T18:11:18+07:00","createdAt":"2026-10-22T19:00:23.167158+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Saluran air, badan jalan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya, Depok, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Depok","district":"Pancoran Mas","village":"Rangkapan Jaya"},"latitude":-6.3949395119804,"longitude":106.78534807064,"shortDescription":"Banjir terjadi karena sumbatan sampah di saluran air dan pembukaan pintu air Cipayung yang disengaja, menyebabkan air meluap ke Jalan Raya Keadilan.","description":"Pada Rabu malam (21/10/2026) sekitar pukul 23.35 WIB, banjir terjadi di Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya, Depok, Jawa Barat, akibat sampah yang menyumbat saluran air dan pembukaan pintu air Cipayung yang disengaja oleh oknum warga. Tumpukan sampah yang terdiri dari plastik, kayu, dan ranting pohon menahan aliran air, menyebabkan air meluap ke badan jalan. Dinas PUPR Bidang SDA Depok mengeruk sampah tersebut pada Kamis (22/10/2026) dan berencana membangun kembali tembok pembatas saluran serta memasang gembok di pintu air Cipayung untuk mencegah kejadian serupa.","affectedPaths":["Jalan Raya Keadilan"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15314,"sourceId":"363b9583b96714df1363df01141618d3","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/22/215908578/disebut-gangguan-jiwa-asn-pembakar-kantor-dishub-babel-dituntut-7-bulan","title":"Disebut Gangguan Jiwa, ASN Pembakar Kantor Dishub Babel Dituntut 7 Bulan Penjara","author":"Heru Dahnur , Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" BANGKA, KOMPAS.com - Anoperki Sandra alias Pengki (43), aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi terdakwa kasus pembakaran kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung dituntut tujuh bulan penjara saat sidang di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Kamis (22/10/2026). Kuasa hukum terdakwa, Iwan Prahara mengatakan pihaknya akan menyiapkan nota pembelaan (pledoi) yang menerangkan bahwa terdakwa mengalami gangguan jiwa. \"Akan disampaikan pada sidang berikutnya, pledoi bahwa terdakwa ada gangguan kejiwaan, disabilitas mental,\" kata Iwan, seusai sidang, Kamis. Iwan mengatakan bahwa kondisi kejiwaan terdakwa sudah terlihat selama menjalani persidangan.  Terdakwa diketahui tidak cakap dalam menjawab pertanyaan hakim dan ngelantur. Bahkan beberapa pertanyaan yang dijawab terdakwa berada di luar konteks persidangan. \"Sudah ada surat keterangan dari rumah sakit jiwa yang menjelaskan kondisi kejiwaan terdakwa. Hakim juga mengabulkan agar diberi pengampu, terdakwa digantikan orang tuanya di persidangan,\" ujar Iwan. Iwan berharap terdakwa divonis bebas dan dikembalikan pada orang tuanya untuk menjalani pengobatan. \"Jika dipaksakan menjalani hukuman akan berbahaya bagi yang bersangkutan dan juga orang lain karena kondisi kejiwaannya,\" jelas Iwan.  Saat ini untuk keperluan persidangan, terdakwa masih ditahan di Lapas Tua Tunu, Pangkalpinang. Selama penahanan tersebut terdakwa juga menjalani pemeriksaan kejiwaan secara berkala. Dalam persidangan terdakwa dikenakan Pasal 308 Ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. \"Melakukan perbuatan yang mengakibatkan kebakaran, ledakan, atau banjir sehingga membahayakan keamanan umum bagi orang atau barang,\" ujar Jaksa Penuntut Umum, Binsar. Kasus ini bermula dari peristiwa pembakaran kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung pada 29 April 2026 sore. Dalam kejadian tersebut, dua ruangan kerja kepala dinas ludes terbakar. Pelaku juga mengancam akan membunuh kepala dinas jika tuntutannya soal kenaikan pangkat tidak dipenuhi. Setelah diamankan polisi, pelaku terlihat berbicara tidak terarah dan sempat menyinggung Covid-19 sebagai perbuatan elite global.","publishedDateTime":"2026-10-22T21:59:08+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T21:59:08+07:00","createdAt":"2026-10-22T22:30:13.2732+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Kebakaran","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung, Pangkalpinang, Bangka Belitung","province":"Kepulauan Bangka Belitung","regency":"Kota Pangkalpinang","district":"","village":""},"latitude":-2.1254817967871,"longitude":106.11308953672,"shortDescription":"Seorang ASN membakar kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung karena tuntutan kenaikan pangkat yang tidak dipenuhi. Terdakwa diduga mengalami gangguan jiwa.","description":"Anoperki Sandra (43), seorang ASN, membakar dua ruangan kerja kepala Dinas Perhubungan Bangka Belitung pada 29 April 2026 sore. Pembakaran ini diduga dipicu oleh tuntutan kenaikan pangkat yang tidak dipenuhi, bahkan pelaku mengancam akan membunuh kepala dinas. Terdakwa kini dituntut tujuh bulan penjara dan sedang menjalani pemeriksaan kejiwaan karena diduga mengalami gangguan jiwa.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15315,"sourceId":"129f3c8cd1e54fd4154afbc8d95e8c59","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/22/215908578/asn-pembakar-kantor-dishub-babel-dituntut-7-bulan-penjara-kuasa-hukum","title":"ASN Pembakar Kantor Dishub Babel Dituntut 7 Bulan Penjara, Kuasa Hukum: Terdakwa Gangguan Kejiwaan","author":"Heru Dahnur , Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" BANGKA, KOMPAS.com - Anoperki Sandra alias Pengki (43), aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi terdakwa kasus pembakaran kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung dituntut tujuh bulan penjara saat sidang di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Kamis (22/10/2026). Kuasa hukum terdakwa, Iwan Prahara mengatakan pihaknya akan menyiapkan nota pembelaan (pledoi) yang menerangkan bahwa terdakwa mengalami gangguan jiwa. \"Akan disampaikan pada sidang berikutnya, pledoi bahwa terdakwa ada gangguan kejiwaan, disabilitas mental,\" kata Iwan, seusai sidang, Kamis. Iwan mengatakan bahwa kondisi kejiwaan terdakwa sudah terlihat selama menjalani persidangan.  Terdakwa diketahui tidak cakap dalam menjawab pertanyaan hakim dan ngelantur. Bahkan beberapa pertanyaan yang dijawab terdakwa berada di luar konteks persidangan. \"Sudah ada surat keterangan dari rumah sakit jiwa yang menjelaskan kondisi kejiwaan terdakwa. Hakim juga mengabulkan agar diberi pengampu, terdakwa digantikan orang tuanya di persidangan,\" ujar Iwan. Iwan berharap terdakwa divonis bebas dan dikembalikan pada orang tuanya untuk menjalani pengobatan. \"Jika dipaksakan menjalani hukuman akan berbahaya bagi yang bersangkutan dan juga orang lain karena kondisi kejiwaannya,\" jelas Iwan.  Saat ini untuk keperluan persidangan, terdakwa masih ditahan di Lapas Tua Tunu, Pangkalpinang. Selama penahanan tersebut terdakwa juga menjalani pemeriksaan kejiwaan secara berkala. Dalam persidangan terdakwa dikenakan Pasal 308 Ayat (1) Undang Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. \"Melakukan perbuatan yang mengakibatkan kebakaran, ledakan, atau banjir sehingga membahayakan keamanan umum bagi orang atau barang,\" ujar Jaksa Penuntut Umum, Binsar. Kasus ini bermula dari peristiwa pembakaran kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung pada 29 April 2026 sore. Dalam kejadian tersebut, dua ruangan kerja kepala dinas ludes terbakar. Pelaku juga mengancam akan membunuh kepala dinas jika tuntutannya soal kenaikan pangkat tidak dipenuhi. Setelah diamankan polisi, pelaku terlihat berbicara tidak terarah dan sempat menyinggung Covid-19 sebagai perbuatan elite global.","publishedDateTime":"2026-10-22T21:59:08+07:00","eventDateTime":"2026-10-22T21:59:08+07:00","createdAt":"2026-10-23T00:30:09.783222+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Kebakaran","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung, dua ruangan kerja kepala dinas","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung, Pangkalpinang, Bangka Belitung","province":"Kepulauan Bangka Belitung","regency":"Kota Pangkalpinang","district":"","village":""},"latitude":-2.1254817967871,"longitude":106.11308953672,"shortDescription":"Seorang ASN membakar kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung karena diduga mengalami gangguan kejiwaan dan tidak puas dengan kenaikan pangkat.","description":"Seorang aparatur sipil negara (ASN) bernama Anoperki Sandra alias Pengki (43) membakar kantor Dinas Perhubungan Bangka Belitung pada 29 April 2026 sore. Pembakaran ini menyebabkan dua ruangan kerja kepala dinas ludes terbakar. Pelaku juga sempat mengancam akan membunuh kepala dinas jika tuntutannya soal kenaikan pangkat tidak dipenuhi. Terdakwa kini dituntut tujuh bulan penjara dan diduga mengalami gangguan kejiwaan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15316,"sourceId":"022741b7b50c378b3f9a11c494cc76ce","url":"https://www.kompas.com/jawa-barat/read/2026/10/23/053000788/prakiraan-cuaca-bmkg-23-oktober-mayoritas-wilayah-jabar-diguyur-hujan","title":"Prakiraan Cuaca BMKG 23 Oktober, Mayoritas Wilayah Jabar Diguyur Hujan","author":"Ahmad Naufal Dzulfaroh","publisherName":"kompas.com","content":"BANDUNG, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Jabar pada Jumat (23/10/2026).Berbeda dari hari-hari sebelumnya, sebagian besar wilayah Jawa Barat bakal diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang selama 24 jam ke depan.Bogor menjadi satu-satunya wilayah di Jabar yang diprakirakan bakal diguyur hujan dengan intensitas sedang.Lantas, mana saja wilayah Jawa Barat yang diprediksi bakal hujan pada 23 Oktober?Wilayah Jabar yang berpotensi hujan 23 OktoberBerdasarkan rilis BMKG, berikut 19 wilayah di Jabar yang berpotensi hujan hari ini, 23 Oktober:Kabupaten Bogor (hujan sedang)Kota Bogor (hujan ringan-sedang)Kota Depok (hujan ringan)Kabupaten Bekasi (hujan ringan)Kota Bekasi (hujan ringan)Kabupaten Sukabumi (hujan ringan)Kota Sukabumi (hujan ringan)Kabupaten Karawang (hujan ringan)Kabupaten Cianjur (hujan ringan)Kabupaten Bandung (hujan ringan)Kota Bandung (hujan ringan)Kabupaten Bandung Barat (hujan ringan)Kota Cimahi (hujan ringan)Kabupaten Purwakarta (hujan ringan)Kabupaten Subang (hujan ringan)Kabupaten Garut (hujan ringan)Kabupaten Indramayu (hujan ringan)Kabupaten Majalengka (hujan ringan)Kabupaten Sumedang (hujan ringan)Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Rakhmat Prasetia mengatakan, potensi hujan ini akibat kondisi atmosfer yang masih mendukung pertumbuhan awan konvenktif.Menurutnya, kondisi ini masih bisa terjadi meski sedang berada pada fase El Nino.\"Pada skala global, dinamika atmosfer menunjukkan indeks ENSO terpantau pada nilai +2.72 yang mengindikasikan kondisi El Nino sangat kuat,\" ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Senin (5/10/2026).Kondisi ini ditambah dengan adanya fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan tren menguatnya Monsun Australia yang berpotensi membatasi suplai uap air.Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan ancaman bencana hidrometeorologi.Bencana tersebut antara lain hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara dengan memantau kanal resmi.","publishedDateTime":"2026-10-23T05:30:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T05:30:00+07:00","createdAt":"2026-10-23T06:30:23.960629+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Wilayah Jawa Barat","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-6.8608353082466,"longitude":107.79875904885,"shortDescription":"Prakiraan cuaca BMKG menyebutkan sebagian besar wilayah Jawa Barat akan diguyur hujan pada 23 Oktober 2026 akibat kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.","description":"BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Barat akan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang selama 24 jam pada Jumat, 23 Oktober 2026. Bogor menjadi satu-satunya wilayah yang diprediksi mengalami hujan sedang, sementara wilayah lainnya seperti Depok, Bekasi, Sukabumi, Karawang, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Purwakarta, Subang, Garut, Indramayu, Majalengka, dan Sumedang diprediksi hujan ringan. Prakiraan ini disebabkan oleh kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif, meskipun sedang dalam fase El Nino yang kuat.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15317,"sourceId":"53624801596a0fdd9966d307b00ed539","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/23/06121051/genangan-berulang-di-jalan-raya-keadilan-depok-sore-terendam-dini-hari","title":"Genangan Berulang di Jalan Raya Keadilan Depok: Sore Terendam, Dini Hari Surut","author":"Isna Rifka Sri Rahayu, Abdul Haris Maulana","publisherName":"kompas.com","content":" DEPOK, KOMPAS.com - Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat, kerap tergenang hingga banjir meski tidak turun hujan. Berdasarkan cuplikan video yang beredar di media sosial, jalan tersebut tampak terendam air. Genangan diduga terjadi akibat saluran air yang terhambat tumpukan sampah sehingga meluap ke badan jalan. Saat Kompas.com mendatangi Jalan Raya Keadilan pada Kamis (22/10/2026) pagi, kondisi jalan sudah kering. Namun, permukaan aspal di sejumlah titik terlihat tidak rata dan rusak.  Selain itu, trotoar di sepanjang jalan tampak lebih tinggi daripada badan jalan. Sejumlah warung dan rumah warga juga dilengkapi pembatas di bagian depan bangunan untuk mencegah air masuk saat banjir terjadi. Pemilik Warung Sembako Barokah, Riri Riadiansyah (50), membenarkan bahwa banjir sempat terjadi pada Rabu (21/10/2026) sore menjelang malam. Namun, genangan air sudah surut pada dini hari. Ia mengatakan, genangan air biasanya mulai muncul pada sore hari dan baru surut pada dini hari. \"Kalau sorenya setiap dari jam 17.00 WIB ke atas itu udah pasti banjir. Surutnya jam 03.00 WIB pagi,\" ujar Riri saat ditemui di warungnya yang berada di pinggir Jalan Raya Keadilan, Rabu. Menurut Riri, genangan di jalan itu diperkirakan telah terjadi selama dua hingga tiga tahun terakhir. Sebelumnya, genangan bahkan kerap muncul pada pagi dan siang hari. Namun, setelah saluran air diperbaiki, kondisi tersebut mulai membaik. Genangan pada siang hari kini lebih jarang terjadi, meski genangan pada malam hari masih berulang. Riri menduga, genangan terjadi karena saluran air mudah tersumbat sampah. Sampah berukuran besar, seperti kayu dan kasur, terkadang dibuang ke saluran sehingga menghambat aliran air. Ia menyebut, warga sekitar sudah beberapa kali melakukan kerja bakti untuk membersihkan saluran, tetapi genangan air masih tetap muncul. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengendara sepeda motor terkadang mengalami mogok ketika melintasi jalan. Riri mengatakan, ketinggian air saat banjir bahkan hampir mencapai lutut orang dewasa.  Warga Pasang Pembatas untuk Cegah Air Masuk Genangan yang kerap muncul membuat Riri meninggikan bagian depan warungnya agar air tidak masuk ke dalam bangunan. Menurut dia, air tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga bisa menerobos ke dalam warung ketika kendaraan melintas dan menimbulkan gelombang. \"Kalau enggak dikasih batas, air yang pas mobil jalan ini otomatis langsung masuk ke dalam,\" kata Riri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Karyawan Warung Soto Madura, Arif (24). Ia bilang bagian depan warungnya juga telah ditinggikan untuk mengurangi risiko air masuk. Namun, upaya itu belum sepenuhnya mencegah air menerobos ke dalam ketika kendaraan melintas dan menimbulkan gelombang. \"Dulu kan segini nih pendek. Nah ini kan ditinggiin biar nggak masuk tapi tetap aja masuk,\" tuturnya saat ditemui di warungnya, Kamis. Sampah Kayu hingga Plastik Menumpuk Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi pada Kamis pagi, sejumlah petugas Satgas SDA masih terlihat mengangkat sampah dari saluran air di Jalan Raya Keadilan.  Sampah yang diangkat terdiri dari kantong plastik, kemasan produk, potongan kayu, tripleks, bilah bambu, hingga ranting pohon. Tumpukan sampah sempat menggunung di depan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rangkapan Jaya sebelum diangkut menggunakan truk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pada Kamis siang. Koordinator Lapangan Bidang SDA Dinas PUPR Depok, Furqon, mengatakan bahwa sampah kayu dan material lainnya menghambat aliran air hingga menyebabkan air meluap ke jalan. \"Berhubung sampah nyangkut, sampah kayu, jadi air tertahan. Dan meluber di sana,\" ujar Furqon saat ditemui di lokasi, Kamis. Pembukaan paksa pintu air Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Depok, Rizwannur Rahim, mengatakan, pihaknya menemukan adanya tindakan pembukaan paksa Pintu Air Cabang Barat. Tindakan tersebut mengakibatkan debit air yang masuk berlebihan dan tidak terkendali sehingga air meluap ke jalan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok mengungkapkan penyebab Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat, kerap dilanda banjir meski tidak sedang turun hujan. Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Depok Rizwannur Rahim mengatakan, pihaknya menemukan adanya tindakan pembukaan paksa Pintu Air Cabang Barat.  Tindakan tersebut mengakibatkan debit air yang masuk menjadi berlebih dan tidakterkendali sehingga aliran air meluap ke jalan. \"Ditemukan adanya tindakan pembukaan paksa Pintu Air Cabang Barat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,\" ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026). Rizwannur menambahkan, petugas SDA Dinas PUPR Kota Depok langsung menutup kembali Pintu Air Cabang Barat setelah melakukan pengecekan di lokasi. Selain pembukaan paksa pintu air, banjir juga dipicu oleh penumpukan sampah yang menyumbat aliran air di gorong-gorong dan jembatan sepanjang Jalan Raya Keadilan. Menurut Rizwannur, sumbatan tersebut menghambat aliran air sehingga meluap ke badan jalan ketika debit air meningkat. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim Satgas SDA Dinas PUPR Depok telah dikerahkan untuk membersihkan sampah yang menyumbat saluran. \"Tim Satgas SDA sudah dikerahkan ke lokasi agar aliran air kembali lancar,\" kata dia. Oknum Diduga Pemilik Usaha Sekitar Furqon menduga, pembukaan pintu air berkaitan dengan kebutuhan air untuk kolam ikan milik oknum pengusaha di sekitar kawasan tersebut.  Menurut dia, pintu air di dibuka terlalu tinggi sehingga debit air yang mengalir menjadi deras dan tidak tertampung oleh saluran yang ada. \"Semalam tuh kan di sana ada ikan. Ada kolam ikan dan dia butuh air. Kan kita punya pintu air tuh di Cipayung itu. Pintu air Cipayungnya dibuka terlalu tinggi. Pemilik ikannya itu tidak memikirkan dampaknya, karena dia perlu ada aliran buat hidup ikannya,\" ungkapnya. Meski demikian, Furqon mengaku belum bertemu langsung dengan pihak yang diduga membuka pintu air tersebut. \"Ya makanya ini kan baru infonya. Saya juga baru dapat nih, ini baru update.,\" kata dia. \"Teman-teman lapangan bilang ada ikan, katanya di sana. Saya juga infonya baru sekedar itu sih. Belum (bertemu dengan oknum pemilik usaha ikan),\" tambahnya.","publishedDateTime":"2026-10-23T06:12:10+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T06:12:10+07:00","createdAt":"2026-10-23T06:30:23.960629+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Jalan raya, warung, rumah warga","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Depok","district":"Pancoran Mas","village":"Rangkapan Jaya Baru"},"latitude":-6.3972047353156,"longitude":106.77763382582,"shortDescription":"Banjir di Jalan Raya Keadilan Depok disebabkan oleh penumpukan sampah di saluran air dan pembukaan paksa pintu air yang mengakibatkan debit air berlebih dan meluap ke jalan.","description":"Jalan Raya Keadilan di Depok, Jawa Barat, kerap tergenang banjir pada sore hari akibat saluran air yang tersumbat sampah dan pembukaan paksa pintu air. Genangan air bisa mencapai ketinggian hampir lutut orang dewasa dan menyebabkan kendaraan mogok. Meskipun surut pada dini hari, kondisi jalan rusak dan trotoar yang lebih tinggi dari badan jalan memperparah masalah. Warga telah melakukan berbagai upaya seperti meninggikan bangunan dan membersihkan saluran, namun banjir masih berulang.","affectedPaths":["Jalan Raya Keadilan"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15318,"sourceId":"0a741d9d70ea07f5e96a4bac649aef8b","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/23/06373061/pipa-wc-dan-atap-bocor-warga-rusun-waduk-pluit-keluhkan-kerusakan-usai","title":"Pipa WC dan Atap Bocor, Warga Rusun Waduk Pluit Keluhkan Kerusakan Usai Pemeliharaan","author":"Omarali Dharmakrisna Soedirman, Abdul Haris Maulana","publisherName":"kompas.com","content":" JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah warga Rumah Susun (Rusun) Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, mengeluhkan sejumlah kerusakan bangunan yang mereka temukan setelah pemeliharaan pada 2025. Kerusakan yang terjadi di Blok 9, 10, 11, dan 12 itu meliputi kebocoran pipa pembuangan kotoran hingga kebocoran atap yang menyebabkan air merembes ke bagian dalam bangunan. Samsudin (50), salah seorang warga, mengatakan, kebocoran pipa pembuangan terjadi pada saluran yang terhubung dari lantai 5 hingga lantai 1.  \"Karena kan dari plumbing (sistem perpipaan) itu dari setiap paralon dari (lantai) 5 sampai 1 itu hampir keseluruhannya rembes, bocor. Akhirnya sudah setelah dicat itu ya menimbulkan dampak yang lumayan enggak enak dilihat, semacam kayak jamur, lumut, gitu kan, sampai berantakan begitu. Jadi kesannya habis diperbaiki itu enggak ada, gitu lho,\" jelas dia saat ditemui Kompas.com di Rusun Waduk Pluit, Kamis (22/10/2026). Ia menilai, kondisi tersebut justru lebih parah dibandingkan sebelum pemeliharaan dilakukan. Selama tinggal di rusun sejak 2015, Samsudin mengatakan bahwa penyumbatan saluran memang pernah terjadi. Namun, masalah tersebut tidak sampai menimbulkan kebocoran dan kotoran yang berceceran seperti sekarang. \"Jadi kalau dari luar itu pasti di setiap tempat saluran air itu pasti banyak lumut, ya karena ada kebocoran, gitu. Kalau dulu enggak gitu. Kalau ini hampir rata-rata berlumut,\" kata dia. Menurut dia, kebocoran pipa juga menyebabkan kotoran manusia meluber ke bagian bawah bangunan dan menimbulkan bau tidak sedap. Bau tersebut terkadang masuk ke dalam rumah warga karena posisi saluran berada di dekat dinding hunian. \"Terus menimbulkan bau yang tidak sedap. Ya kadang-kadang baunya itu juga masuk ke dalam rumah karena kan pas di belakang rumah kan, gitu. Kalau bau lumayan bau. Namanya kotoran,\" ungkap dia.  Senada dengan Samsudin, warga lainnya, Mahmud (30), mengaku rembesan dari pipa WC mengenai dinding rumahnya. Akibatnya, bau kotoran masuk ke dalam ruangan. \"Ya, pipanya rembes dan nempel ke dinding rumah gua. Itu sih. Gua sampai engga bisa buka jendela, bau banget soalnya. Pokoknya warga yang rumahnya di pinggir tuh pada engga mau buka jendela,\" tutur dia kepada Kompas.com, Kamis. Mahmud juga mengeluhkan kotoran dari pipa yang berceceran di bagian bawah bangunan. Menurut dia, kondisi tersebut mengganggu aktivitas penghuni, terutama anak-anak yang biasa bermain di lingkungan rusun. \"Jadi yang harusnya anak-anak tuh bisa main secara bebas, dengan adanya tai berceceran otomatis kan anak-anak enggak bebas mainnya, karena pertama takut penyakit. Gitu,\" ujarnya. Selain kebocoran pipa pembuangan, warga Blok 11, Puji (40), mengeluhkan kebocoran atap yang menurutnya terjadi setelah pekerjaan pemeliharaan dilakukan. Ia mengatakan, air menggenang di bagian atas bangunan saat hujan deras. Air tersebut kemudian merembes hingga ke lantai di bawahnya.  \"Pokoknya kalau hujan gede itu sudah pada basah semua. Ini lantai 5 ini banjir gitu tuh. Apalagi dari atas ini nih, sampai ke lantai 4 kena dampaknya karena air deras kencang netesnya. Jadi pada kena sampai ke bawah,\" ucap dia saat diwawancarai Kompas.com, Kamis. Menurut Puji, warga di blok tempat tinggalnya kini merasa waswas menjelang musim hujan karena kebocoran masih berpotensi terjadi. \"Iya, karena kan masih ada yang netes-netes ke dalam rumahnya, jadi masih was-was. Apalagi di aula ini anak-anak bermain, takut kepleset, apalagi ke tangga licin,\" imbuh dia. Ia berharap, perbaikan dilakukan secara menyeluruh terhadap pipa pembuangan dan bagian bangunan rusun yang masih mengalami kerusakan. Puji mengatakan, warga hanya menginginkan kondisi rusun kembali nyaman untuk ditinggali. \"Ya harusnya diperbaiki lagilah kayak sebelumnya, jadi enggak ada komplain. Harus dibenahi lagi yang benar-benar, jangan asal ganti doang, asal jadi doang terus sudah gitu tuh,\" tambah dia. Hingga berita ini ditulis, Kompas.com telah berupaya meminta tanggapan kepada Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kelik Indriyanto.  Namun, pihak Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman belum memberikan respons.","publishedDateTime":"2026-10-23T06:37:30+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T06:37:30+07:00","createdAt":"2026-10-23T07:00:20.542177+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Bangunan Rusun Waduk Pluit (pipa WC, atap)","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Blok 9, 10, 11, dan 12, Rumah Susun (Rusun) Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Utara","district":"Penjaringan","village":"Penjaringan"},"latitude":-6.125498330826,"longitude":106.80091033331,"shortDescription":"Pemeliharaan pada tahun 2025 diduga menyebabkan kerusakan pada sistem perpipaan dan atap Rusun Waduk Pluit, mengakibatkan kebocoran dan bau tidak sedap.","description":"Sejumlah warga Rusun Waduk Pluit mengeluhkan kerusakan bangunan berupa kebocoran pipa WC dan atap yang terjadi setelah pemeliharaan pada tahun 2025. Kebocoran pipa pembuangan menyebabkan kotoran meluber dan menimbulkan bau tidak sedap, sementara kebocoran atap menyebabkan air merembes ke lantai bawah, menimbulkan kekhawatiran warga menjelang musim hujan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15319,"sourceId":"7f60ff4cd1b3e609989c53c1cc3f20a0","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/23/09490981/tebet-eco-park-ada-aturannya-pengunjung-tak-bisa-sembarangan","title":"Tebet Eco Park Ada Aturannya, Pengunjung Tak Bisa Sembarangan","author":"Muhammad Isa Bustomi","publisherName":"kompas.com","content":"  JAKARTA, KOMPAS.com - Tebet Eco Park menjadi salah satu pilihan ruang terbuka hijau di Jakarta Selatan yang bisa dikunjungi masyarakat untuk bersantai, berolahraga, hingga berpiknik bersama keluarga. Taman yang berlokasi di kawasan Tebet ini dibuka pada April 2022. Dengan luas sekitar 7 hektar, Tebet Eco Park memiliki beragam fasilitas, mulai dari area bermain anak hingga tempat bersantai yang dikelilingi pepohonan. Pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk untuk menikmati fasilitas taman ini. Masyarakat juga diperbolehkan membawa tikar serta makanan dan minuman dari luar untuk berpiknik.  Dikutip Kompas.com dari situs resmi Tebet Eco Park, Kamis (22/10/2026), taman ini memiliki sejumlah fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung. Beberapa di antaranya adalah Infinity Link Bridge, TEP Plaza, Thematic Garden, Community Lawn di sisi utara, serta Kebun Bibit Existing di sisi selatan. Infinity Link Bridge menjadi salah satu daya tarik taman karena memiliki desain jembatan yang menarik. Selain itu, terdapat sejumlah sudut taman yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto. Jam operasional Tebet Eco Park Masyarakat yang ingin berkunjung perlu memperhatikan jam operasional Tebet Eco Park. Taman ini membagi waktu kunjungan menjadi dua sesi setiap hari. Berikut jadwal operasional Tebet Eco Park:  Sesi pertama: pukul 06.00-11.00 WIB. Sesi kedua: pukul 13.00-18.00 WIB.  Dengan pembagian tersebut, pengunjung perlu menyesuaikan waktu kedatangan dengan sesi yang berlaku.  Aturan yang perlu diperhatikan pengunjung Tebet Eco Park memiliki sejumlah aturan untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung serta kelestarian fasilitas taman.  Berikut beberapa ketentuan yang harus diperhatikan selama berada di Tebet Eco Park:  Membuang sampah pada tempatnya. Berlindung di shelter saat hujan. Menuntun sepeda selama berada di area taman. Tidak berteduh di bawah pohon. Tidak meminum minuman beralkohol. Tidak memberi makan ikan sembarangan. Pengunjung harus menggunakan makanan ikan yang disediakan pengurus taman. Tidak merokok di dalam taman. Tidak membawa hewan peliharaan. Tidak berenang di sungai. Segera menuju titik kumpul saat terjadi banjir atau keadaan darurat. Tidak melakukan vandalisme. Berhati-hati terhadap risiko ranting jatuh. Menjaga dan merawat seluruh fasilitas serta area taman. Menjaga etika dan kesopanan serta tidak melakukan tindakan asusila. Tidak melompat dari Infinity Link Bridge.  Pengunjung juga diimbau mematuhi petunjuk petugas selama berada di kawasan taman. Tebet Eco Park dijaga dan diawasi selama 24 jam.  Rute menuju Tebet Eco Park dengan transportasi umum Pengunjung dapat menuju Tebet Eco Park menggunakan sejumlah moda transportasi umum, seperti KRL Commuter Line, Transjakarta, dan Mikrotrans. Berikut pilihan rute yang dapat digunakan untuk menuju taman tersebut. 1. Menggunakan KRL Commuter Line Salah satu stasiun yang dapat menjadi pilihan untuk menuju Tebet Eco Park adalah Stasiun Cawang. Dari stasiun ini, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online dengan jarak sekitar 1,1 kilometer. Tidak ada layanan Mikrotrans atau angkutan umum yang melintas langsung dari Stasiun Cawang menuju Tebet Eco Park. Alternatif lainnya adalah turun di Stasiun Kalibata, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan Mikrotrans JAK-18 dengan rute Stasiun Kalibata-Kuningan. Pengunjung dapat turun di perhentian bus yang dekat dengan Tebet Eco Park.  Bagi masyarakat yang berangkat dari Bogor, perjalanan dapat dilakukan menggunakan KRL tujuan Jakarta Kota atau Tanah Abang, kemudian turun di Stasiun Cawang atau Stasiun Tebet. Sementara itu, penumpang dari Bekasi dapat naik KRL menuju Stasiun Manggarai, kemudian berganti kereta tujuan Bogor untuk turun di Stasiun Cawang atau Stasiun Tebet. Adapun penumpang dari Tangerang dapat naik KRL menuju Stasiun Duri, melanjutkan perjalanan ke Stasiun Manggarai, kemudian berganti kereta tujuan Bogor dan turun di Stasiun Cawang atau Stasiun Tebet. 2. Menggunakan Transjakarta Pengunjung yang menggunakan Transjakarta dapat turun di Halte Tebet BUMD. Dari halte tersebut, jarak menuju Tebet Eco Park sekitar 1 kilometer atau dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit. Pengunjung juga bisa melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online. Halte Tebet BUMD dilayani sejumlah rute Transjakarta, yaitu:  Koridor 9: Pinang Ranti-Pluit. Koridor 9A: PGC 2-Pluit. Koridor 9C: Pinang Ranti-Kota. Koridor M7: Kampung Rambutan-Harmoni.  Bagi masyarakat yang berangkat dari Jakarta Timur, perjalanan dapat dilakukan menggunakan rute M7 dengan tujuan Harmoni. Sementara itu, masyarakat dari Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara dapat menyesuaikan perjalanan dengan rute koridor 9, 9A, atau 9C. 3. Menggunakan Mikrotrans Pilihan lainnya adalah menggunakan Mikrotrans JAK-18 dengan rute Stasiun Kalibata-Kuningan. Pengunjung dapat turun di salah satu perhentian yang dekat dengan Tebet Eco Park, yakni:  Jalan Tebet Timur III. Taman Hutan Tebet. Simpang Tebet Barat IX 1. Simpang Tebet Barat IX 2.   Dari perhentian tersebut, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju taman dengan berjalan kaki. Dengan fasilitas yang beragam, tiket masuk gratis, serta pilihan transportasi umum, Tebet Eco Park dapat menjadi alternatif tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman di Jakarta Selatan.","publishedDateTime":"2026-10-23T09:49:09+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T09:49:09+07:00","createdAt":"2026-10-23T10:30:23.935974+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Rendah","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Tebet Eco Park","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Tebet Eco Park, Jakarta Selatan","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Selatan","district":"Tebet","village":""},"latitude":-6.2286373381922,"longitude":106.85146762106,"shortDescription":"Tebet Eco Park adalah taman kota yang menyediakan fasilitas rekreasi dan ruang terbuka hijau bagi masyarakat Jakarta Selatan.","description":"Tebet Eco Park, sebuah ruang terbuka hijau di Jakarta Selatan yang dibuka pada April 2022, menawarkan berbagai fasilitas seperti Infinity Link Bridge, TEP Plaza, Thematic Garden, Community Lawn, dan Kebun Bibit Existing. Taman seluas 7 hektar ini dapat dikunjungi secara gratis pada dua sesi, yaitu pukul 06.00-11.00 WIB dan 13.00-18.00 WIB. Pengunjung diimbau untuk mematuhi aturan yang berlaku demi menjaga kebersihan, keamanan, dan kelestarian taman, serta tersedia berbagai pilihan transportasi umum untuk mencapai lokasi.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":["KRL Commuter Line","Transjakarta","Mikrotrans"],"alternativeRoutes":["Dari Stasiun Cawang, naik ojek online.","Dari Stasiun Kalibata, naik Mikrotrans JAK-18 rute Stasiun Kalibata-Kuningan, turun di perhentian dekat Tebet Eco Park.","Dari Halte Tebet BUMD (dilayani Koridor 9, 9A, 9C, M7), jalan kaki atau naik ojek online.","Dari Mikrotrans JAK-18 rute Stasiun Kalibata-Kuningan, turun di perhentian Jalan Tebet Timur III, Taman Hutan Tebet, Simpang Tebet Barat IX 1, atau Simpang Tebet Barat IX 2, lalu jalan kaki."]},{"id":15321,"sourceId":"39572dd81e01d966c2bc9b6257378149","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/23/112720778/puji-pameran-merti-kayon-bupati-blora-dorong-inventarisasi-pohon-tua-dan","title":"Puji Pameran Merti Kayon, Bupati Blora Dorong Inventarisasi Pohon Tua dan Sumber Air di Tiap Desa","author":"Aria, Aloysius Gonsaga AE","publisherName":"kompas.com","content":" BLORA, KOMPAS.com - Pameran foto pohon bernarasi yang diinisiasi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blora mendapat apresiasi pemerintah kabupaten (Pemkab) Blora. Bupati Blora, Arief Rohman memberikan apresiasi terkait kegiatan pameran foto pohon bernarasi yang dipamerkan di Blora Creative Space (BCS) selama beberapa hari mendatang. Pameran foto bernarasi yang diberi judul Merti Kayon Blora 2026 dengan tema 'Merawat Pohon Kehidupan, Menjaga Warisan Alam', memamerkan narasi dan foto tentang pohon-pohon yang ada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang usianya lebih dari 100 tahun. \"Jadi saya apresiasi ya kegiatan ini,\" ucap dia saat pembukaan pameran pada Kamis (22/10/2026) malam. Arief menjelaskan inventarisasi pohon-pohon besar dan tua yang diinisiasi oleh Lesbumi PCNU Blora harus dapat dikembangkan lebih banyak lagi.  Tiap desa pasti punya pohon besar Ia meyakini tiap desa pasti mempunyai pohon besar yang di sekitarnya terdapat sumber mata air atau sendang. \"Kita kembali coba menginventarisir masing-masing desa dulu pasti ada sendang (sumber air) dan ada pohon-pohon besarnya,\" ujar dia. Menurutnya, inventarisasi 38 pohon besar yang kemudian dipamerkan dalam bentuk foto pohon bernarasi masih kurang banyak. Sebab, wilayah Blora memiliki 295 desa dan kelurahan. \"Kalau perlu nanti diinventarisir. Di desa itu masih ada pohon yang besar enggak gitu. Ya minimal ya total di Blora ini 295 desa kelurahan. Ya semoga masing-masing desa masih punya pohon besar gitu kan,\" jelas dia. \"Intinya malam hari ini kami ucapkan terima kasih ya adanya kegiatan Merti Kayon ini. Semoga ini menjadi langkah bersama kita untuk menjaga alam kita, menjaga bumi kita, menjaga menjaga lingkungan kita,\" imbuh dia.  Prihatin dengan kondisi hutan Dalam kesempatan tersebut, Arief juga merasa prihatin dengan kondisi hutan yang ada di wilayahnya. Meski hampir separuh wilayah Blora merupakan hutan, tetapi sudah banyak pohon di hutan yang ditebang. \"Saya sudah dapat laporan ini kira-kira kalau hujannya lebat ini mungkin ada beberapa daerah yang akan banjir, karena pemotongan pohon-pohon yang ada ini luar biasa, ini bentuk keprihatinan kita,\" kata dia. Tak sedikit dari pohon-pohon besar yang di sekitarnya banyak sumber air, kemudian ditebang sehingga beberapa sumber air tersebut kemudian hilang. Menurutnya, gerakan bersama untuk kembali menanam pohon merupakan tanggung jawab semua pihak. \"Saya pengin kita menanam kembali agar wilayah kita ini bisa lestari kembali. Jadi ini gerakan tidak bisa sendiri sendiri nanti harus bersama-sama,\" terang dia.","publishedDateTime":"2026-10-23T11:27:20+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T11:27:20+07:00","createdAt":"2026-10-23T12:00:27.89637+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"hutan, pohon, sumber air","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kabupaten Blora, Jawa Tengah","province":"Jawa Tengah","regency":"Blora","district":"Kota Blora","village":""},"latitude":-6.96504227031505,"longitude":111.42776276839,"shortDescription":"Penebangan pohon di hutan Blora yang masif dikhawatirkan menyebabkan banjir dan hilangnya sumber mata air.","description":"Bupati Blora, Arief Rohman, menyatakan keprihatinan terhadap kondisi hutan di wilayahnya yang banyak ditebang, yang berpotensi menyebabkan banjir saat hujan lebat. Ia juga menyoroti penebangan pohon besar di sekitar sumber air yang menyebabkan hilangnya mata air. Bupati mendorong gerakan bersama untuk menanam kembali pohon demi kelestarian alam dan lingkungan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15320,"sourceId":"fd512618c067e1b4d41b1be706a5a345","url":"https://surabaya.kompas.com/read/2026/10/23/112833778/antisipasi-banjir-rob-di-pesisir-jatim-pemprov-lakukan-mitigasi","title":"Antisipasi Banjir Rob di Pesisir Jatim, Pemprov Lakukan Mitigasi","author":"Izzatun Najibah, Novianti Setuningsih","publisherName":"kompas.com","content":" SURABAYA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) berkoordinasi dengan pihak terkait melakukan mitigasi terjadinya banjir rob yang berpotensi akan melanda kawasan pesisir Jatim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tanjung Perak memprediksi banjir rob atau pasang air maksimum akan terjadi pada 26-29 Oktober 2026. “Fase bulan purnama memengaruhi kondisi pasang surut di bulan Oktober 2026, tepatnya tanggal 26 sampai 29 Oktober 2026, yang berpotensi menyebabkan pasang maksimum dengan ketinggian dapat mencapai 130 sampai 140 cm dari rata-rata ketinggian muka air laut,” tulis keterangan BMKG Tanjung Perak, dikutip Jumat (23/10/2026). Wilayah pemukiman di pesisir Jawa Timur akan mengalami banjir atau air pasang. Banjir ini diakibatkan oleh terjadinya pasang air laut yang lebih tinggi dari ketinggian daratan. “Ya, selalu kita koordinasi dengan BMKG, BNPB, dan Basarnas ya, terhadap mitigasi untuk masyarakat yang ada di wilayah terkena rob,” kata Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim, Adhy Karyono, Jumat.   Selain berdampak ke pemukiman, banjir rob menimbulkan gangguan transportasi. Nelayan lebih sulit melaut, aktivitas petani garam dan perikanan darat terganggu, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan atau pesisir terdampak. “Dan juga masyarakat nelayan yang melaut. seperti biasa, kita melakukan apa, antisipasi dan kalau terjadi sesuatu, maka aktivasi sistem secara cepat kita lakukan, seperti itu,” ujar Adhy. Berikut wilayah pesisir Jatim yang berpotensi terdampak banjir rob:  Surabaya Barat (termasuk Gresik, Lamongan dan Tuban) tanggal 26-29 Oktober 2026 pukul 22.00-23.00 WIB, pasang maksimum mencapai 140 cm Surabaya Pelabuhan (termasuk Surabaya Utara, Benowo, Kalianak, Krembangan) tanggal 27-29 Oktober 2026 pukul 23.00-24.00 WIB, pasang maksimum mencapai 130 cm Surabaya Timur (termasuk Sidoarjo, Pasuruan, Madura) tanggal 27-28 Oktober 2026 pukul 23.00 WIB, pasang maksimum mencapai 130 cm.  ","publishedDateTime":"2026-10-23T11:28:33+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T11:28:33+07:00","createdAt":"2026-10-23T12:00:27.89637+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir Rob","severity":"Sedang","eventStatus":"on going","damagedObject":"Pemukiman, aktivitas nelayan, petani garam, perikanan darat, pelabuhan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Pesisir Jawa Timur, termasuk Surabaya Barat (Gresik, Lamongan, Tuban), Surabaya Pelabuhan (Surabaya Utara, Benowo, Kalianak, Krembangan), dan Surabaya Timur (Sidoarjo, Pasuruan, Madura)","province":"Jawa Timur","regency":"Kota Surabaya","district":"Krembangan","village":""},"latitude":-7.235752065719299,"longitude":112.72678808728,"shortDescription":"Banjir rob berpotensi melanda pesisir Jatim akibat pasang air laut maksimum yang dipicu oleh fase bulan purnama.","description":"Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkoordinasi dengan BMKG, BNPB, dan Basarnas melakukan mitigasi potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi pada 26-29 Oktober 2026. Banjir rob ini disebabkan oleh fase bulan purnama yang memengaruhi pasang air laut maksimum hingga 140 cm, berpotensi melanda wilayah pesisir Jatim, mengganggu pemukiman, aktivitas nelayan, petani garam, perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15322,"sourceId":"79d70740ec47f597ac484e68ee27443a","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/23/13255331/penyebab-jalan-raya-keadilan-depok-banjir-meski-tak-hujan-pintu-air","title":"Penyebab Jalan Raya Keadilan Depok Banjir meski Tak Hujan: Pintu Air Dibuka Paksa","author":"Isna Rifka Sri Rahayu, Abdul Haris Maulana","publisherName":"kompas.com","content":" DEPOK, KOMPAS.com - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok mengungkapkan penyebab Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat, kerap tergenang banjir meski tidak sedang turun hujan. Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Depok Rizwannur Rahim mengatakan, genangan terjadi akibat pembukaan paksa Pintu Air Cabang Barat. Tindakan tersebut menyebabkan debit air yang masuk ke saluran menjadi berlebih dan tidak terkendali hingga meluap ke jalan.  \"Ditemukan adanya tindakan pembukaan paksa Pintu Air Cabang Barat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,\" ujarnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (22/10/2026). Kendati demikian, Dinas PUPR Kota Depok melalui bidang SDA langsung menutup kembali Pintu Air Cabang Barat setelah melakukan pengecekan langsung di lokasi. Selain pembukaan paksa pintu air, Rizwannur menambahkan, genangan juga dipicu oleh penumpukan sampah yang menyumbat aliran air di gorong-gorong dan jembatan sepanjang Jalan Raya Keadilan. Menurut dia, sumbatan tersebut menghambat aliran air sehingga air meluap ke badan jalan ketika debit air meningkat. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim Satuan Tugas (Satgas) SDA Dinas PUPR Kota Depok telah dikerahkan untuk membersihkan sampah yang menyumbat saluran air. \"Tim Satgas SDA sudah dikerahkan ke lokasi agar aliran air kembali lancar,\" kata dia.  Sebelumnya diberitakan, Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat, kerap dilanda banjir yang menggenangi badan jalan hingga mengganggu aktivitas warga dan pedagang di sekitarnya. Berdasarkan cuplikan video yang beredar di media sosial, jalan tersebut tampak terendam air. Genangan diduga terjadi akibat aliran air yang terhambat tumpukan sampah di saluran hingga meluap ke badan jalan. Saat Kompas.com mendatangi Jalan Raya Keadilan pada Kamis (22/10/2026) pagi, kondisi jalan sudah kering. Namun, permukaan aspal di sejumlah titik terlihat tidak rata dan mengalami kerusakan. Selain itu, trotoar di sepanjang jalan tampak lebih tinggi dibandingkan badan jalan. Sejumlah warung dan rumah warga juga memiliki pembatas di bagian depan bangunan untuk mencegah air masuk saat banjir terjadi. Pemilik Warung Sembako Barokah, Riri Riadiansyah (50), membenarkan banjir sempat terjadi pada Rabu (21/10/2026) sore menjelang malam. Namun, genangan sudah surut pada dini hari. Ia menyebut, banjir di kawasan tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Genangan biasanya muncul pada sore hari dan baru surut menjelang pagi.  \"Kalau sorenya setiap dari jam 17.00 ke atas itu udah pasti banjir. Surutnya jam 3.00 pagi,\" ujar Riri saat ditemui di warungnya yang berada di pinggir Jalan Raya Keadilan, Rabu. Menurut Riri, banjir di kawasan itu diperkirakan sudah terjadi selama dua hingga tiga tahun terakhir. Sebelumnya, genangan bahkan kerap muncul pada pagi dan siang hari sehingga tidak mengenal waktu. Namun, setelah dilakukan perbaikan saluran air, kondisi tersebut mulai membaik. Banjir pada siang hari kini lebih jarang terjadi, meski genangan pada malam hari masih berulang. Riri menduga, banjir terjadi karena saluran air mudah tersumbat sampah. Sampah berukuran besar, seperti kayu dan kasur, terkadang dibuang ke saluran sehingga menghambat aliran air. \"Antara jalan sama struktur air itu, saluran air lebih tinggi, lebih tinggi saluran air. Jadi kalau saat dia ada mampet dikit karena sampah, udah pasti tumpah,\" ungkapnya.","publishedDateTime":"2026-10-23T13:25:53+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T13:25:53+07:00","createdAt":"2026-10-23T14:00:26.73993+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Jalan Raya Keadilan","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Jalan Raya Keadilan, Rangkapan Jaya Baru, Depok, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Kota Depok","district":"Pancoran Mas","village":"Rangkapan Jaya Baru"},"latitude":-6.3972047353156,"longitude":106.77763382582,"shortDescription":"Banjir di Jalan Raya Keadilan disebabkan oleh pembukaan paksa pintu air dan penumpukan sampah di saluran air yang menghambat aliran.","description":"Jalan Raya Keadilan di Depok, Jawa Barat, kerap tergenang banjir meskipun tidak hujan, disebabkan oleh pembukaan paksa Pintu Air Cabang Barat yang menyebabkan debit air berlebih dan meluap ke jalan, serta diperparah oleh penumpukan sampah yang menyumbat saluran air di gorong-gorong dan jembatan. Banjir yang terjadi sejak sore hari ini biasanya baru surut menjelang pagi, mengganggu aktivitas warga dan pedagang.","affectedPaths":["Jalan Raya Keadilan"],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15324,"sourceId":"74782bb8b8600aa0aadf3b22cfb55a2b","url":"https://megapolitan.kompas.com/read/2026/10/23/13481371/pipa-dan-atap-bocor-hingga-tangga-retak-warga-rusun-waduk-pluit-jakut","title":"Pipa dan Atap Bocor hingga Tangga Retak, Warga Rusun Waduk Pluit Jakut Minta Perbaikan","author":"Omarali Dharmakrisna Soedirman, Abdul Haris Maulana","publisherName":"kompas.com","content":" JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah warga Rumah Susun (Rusun) Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, meminta agar kerusakan bangunan yang mereka duga muncul setelah pemeliharaan pada 2025 segera diperbaiki. Kerusakan yang dikeluhkan meliputi kebocoran pipa pembuangan, rembesan air, hingga tangga yang retak. Mahmud (30), salah seorang warga rusun, berharap pengelola kembali melakukan perawatan terhadap bangunan, terutama pada pipa saluran pembuangan dan tangga yang mengalami kerusakan. “Gua minta sih untuk ke depannya untuk pengelola minta dirawat lagi gedungnya gitu lho. Pertama kayak pipa septic tank, terus kayak tanggalah, tangga tuh yang retak-retak tuh minta diperbaruilah. Gitu aja sih,” ucap dia saat ditemui Kompas.com, Kamis (22/10/2026).  Mahmud mengatakan, kebocoran pipa pembuangan membuat kotoran berceceran dan menimbulkan bau tidak sedap yang masuk ke dalam rumahnya. “Ya, pipanya rembes dan nempel ke dinding rumah gua. Itu sih. Gua sampai engga bisa buka jendela, bau banget soalnya. Pokoknya warga yang rumahnya di pinggir tuh pada engga mau buka jendela,” ujarnya. Sementara itu, Samsudin (50), warga lainnya, mengatakan kebocoran terjadi pada banyak pipa yang terhubung dari lantai lima hingga lantai satu. Ia menduga, perbedaan ukuran pipa pada bagian atas dan bawah saluran menjadi salah satu penyebab masalah tersebut. \"Kita enggak tahu ya, karena mungkin paralonnya di bawah kurang besar atau mungkin pengaturannya kurang bagaimana gitu, ya kan. Sering sekali mampet, Pak. Mampet dan akhirnya meresahkan masyarakat,\" jelas Samsudin. Samsudin mengatakan, warga telah berulang kali melaporkan kerusakan tersebut kepada pengelola dan teknisi. Namun, menurut dia, tindak lanjut atas laporan tersebut masih membutuhkan waktu lama. “Bahkan kita sudah melaporkan, gitu kan. Sudah melaporkan semuanya, ternyata tindak lanjutnya lama, gitu. Memang akan dikerjakan, tapi enggak enggak secepat itulah,” kata dia. Ia meminta agar kondisi saluran pembuangan diperiksa kembali untuk memastikan masalah kebocoran dan bau tidak sedap tidak terus mengganggu penghuni rusun.  “Kalau kita lihat, enggak cocok ya, di atasnya gede di bawah eh di atasnya gede di bawahnya kecil gitu kan, kayak gitu. Tolong di dihitung kembali gitu lho,” ujarnya. Kerusakan Pipa Pembuangan Untuk diketahui, sejumlah warga Rusun Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, mengeluhkan berbagai kerusakan yang mereka temukan setelah pemeliharaan bangunan pada 2025. Kerusakan yang terjadi di Blok 9, 10, 11, dan 12 itu meliputi kebocoran pipa pembuangan kotoran hingga kebocoran atap yang menyebabkan air merembes ke bagian bangunan. Samsudin (50), salah seorang warga, mengatakan masalah pada pipa pembuangan terjadi pada saluran yang terhubung dari lantai lima hingga lantai satu. \"Karena kan dari plumbing itu dari setiap paralon dari 5 sampai 1 itu hampir keseluruhannya rembes, bocor. Akhirnya sudah setelah dicat itu ya menimbulkan dampak yang lumayan enggak enak dilihat, semacam kayak jamur, lumut, gitu kan, sampai berantakan begitu. Jadi kesannya habis diperbaiki itu enggak ada, gitu lho,\" jelas dia saat ditemui Kompas.com pada Kamis (22/10/2026). Ia menilai kondisi tersebut lebih parah dibandingkan sebelum pemeliharaan dilakukan. Selama tinggal di rusun sejak 2015, Samsudin mengatakan penyumbatan saluran pembuangan memang pernah terjadi. Namun, masalah tersebut tidak sampai menimbulkan kebocoran dan membuat kotoran berceceran seperti yang terjadi sekarang.  \"Jadi kalau dari luar itu pasti di setiap tempat saluran air itu pasti banyak lumut, ya karena ada kebocoran, gitu. Kalau dulu enggak gitu. Kalau ini hampir rata-rata berlumut,\" kata dia. Menurut Samsudin, kebocoran pipa juga menyebabkan kotoran manusia meluber ke bagian bawah bangunan dan menimbulkan bau tidak sedap. Bau tersebut terkadang masuk ke dalam rumah warga karena saluran pembuangan berada di dekat dinding hunian. \"Terus menimbulkan bau yang tidak sedap. Ya kadang-kadang baunya itu juga masuk ke dalam rumah karena kan pas di belakang rumah kan, gitu. Kalau bau lumayan bau. Namanya kotoran,\" ungkap dia. Senada dengan Samsudin, Mahmud (30), warga lainnya, mengaku rembesan dari pipa WC mengenai dinding rumahnya hingga bau kotoran masuk ke dalam ruangan. \"Ya, pipanya rembes dan nempel ke dinding rumah gua. Itu sih. Gua sampai engga bisa buka jendela, bau banget soalnya. Pokoknya warga yang rumahnya di pinggir tuh pada engga mau buka jendela,\" tutur dia. Mahmud juga mengeluhkan kotoran dari pipa yang berceceran di bagian bawah bangunan. Menurut dia, kondisi tersebut mengganggu aktivitas penghuni, terutama anak-anak yang biasa bermain di lingkungan rusun. \"Jadi yang harusnya anak-anak tuh bisa main secara bebas, dengan adanya tai berceceran otomatis kan anak-anak enggak bebas mainnya, karena pertama takut penyakit. Gitu,\" ujarnya. Atap Rusun Juga Bocor Selain masalah pipa pembuangan, Puji (40), warga Blok 11, mengeluhkan kebocoran atap yang menurutnya terjadi setelah pekerjaan pemeliharaan dilakukan.  Ia mengatakan, air menggenang di bagian atas bangunan saat hujan deras. Air tersebut kemudian merembes ke lantai di bawahnya. \"Pokoknya kalau hujan gede itu sudah pada basah semua. Ini lantai 5 ini banjir gitu tuh. Apalagi dari atas ini nih, sampai ke lantai 4 kena dampaknya karena air deras kencang netesnya. Jadi pada kena sampai ke bawah,\" ucap dia. Menurut Puji, warga di blok tempat tinggalnya kini merasa waswas menjelang musim hujan karena kebocoran masih berpotensi terjadi. \"Iya, karena kan masih ada yang netes-netes ke dalam rumahnya, jadi masih was-was. Apalagi di aula ini anak-anak bermain, takut kepleset, apalagi ke tangga licin,\" imbuh dia. Puji berharap perbaikan dilakukan secara menyeluruh terhadap pipa pembuangan dan bagian bangunan rusun yang masih mengalami kerusakan. Ia mengatakan, warga hanya menginginkan kondisi rusun kembali nyaman untuk ditinggali. \"Ya harusnya diperbaiki lagilah kayak sebelumnya, jadi enggak ada komplain. Harus dibenahi lagi yang benar-benar, jangan asal ganti doang, asal jadi doang terus sudah gitu tuh,\" tambah dia.  Hingga berita ini ditulis, Kompas.com telah berupaya meminta tanggapan kepada Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, Kelik Indriyanto. Namun, pihak Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman belum memberikan respons.","publishedDateTime":"2026-10-23T13:48:13+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T13:48:13+07:00","createdAt":"2026-10-23T14:30:16.311523+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Sedang","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Bangunan Rusun Waduk Pluit (pipa pembuangan, atap, tangga)","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Rusun Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, DKI Jakarta","province":"DKI Jakarta","regency":"Kota Jakarta Utara","district":"Penjaringan","village":"Penjaringan"},"latitude":-6.125498330826,"longitude":106.80091033331,"shortDescription":"Kerusakan bangunan di Rusun Waduk Pluit diduga terjadi setelah pemeliharaan pada tahun 2025, meliputi kebocoran pipa dan atap serta retaknya tangga.","description":"Sejumlah warga Rusun Waduk Pluit di Jakarta Utara mengeluhkan berbagai kerusakan bangunan yang terjadi setelah pemeliharaan pada tahun 2025. Kerusakan tersebut meliputi kebocoran pipa pembuangan yang menyebabkan bau tidak sedap dan kotoran berceceran, rembesan air ke dinding rumah, serta retaknya tangga. Selain itu, beberapa atap rusun juga dilaporkan bocor, terutama saat hujan deras, menyebabkan genangan air yang merembes ke lantai di bawahnya. Warga telah berulang kali melaporkan masalah ini kepada pengelola namun tindak lanjutnya dinilai lambat.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15323,"sourceId":"d78657837de797ae74b46c0b294f1cae","url":"https://nasional.kompas.com/read/2026/10/23/13553501/jembatan-krueng-tingkeum-ditargetkan-pulih-desember-infrastruktur-sungai","title":"Jembatan Krueng Tingkeum Ditargetkan Pulih Desember, Infrastruktur Sungai Peusangan Diperkuat","author":"Tsabita Naja, DWN","publisherName":"kompas.com","content":"  KOMPAS.com - Pemulihan infrastruktur di kawasan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh, terus dipercepat. Setelah jembatan duplikasi selesai dibangun, pekerjaan tahap kedua kini difokuskan pada pemulihan jembatan eksisting serta pengamanan aliran Sungai Peusangan untuk menjaga konektivitas dan keselamatan permukiman warga. Pekerjaan jembatan eksisting telah memasuki pemasangan tiang pancang pada pilar tengah atau P2 disertai penyiapan tapak konstruksi. Penambahan satu segmen jembatan tersebut ditargetkan selesai dan kembali beroperasi secara normal pada Desember 2026. Project Manager Jembatan Krueng Tingkeum dari PT Adhi Karya, Sutrisno, mengatakan bahwa pekerjaan konstruksi bawah dipercepat agar kapasitas layanan jembatan kembali pulih dan arus transportasi tidak hanya bergantung pada jembatan duplikasi.  “Jembatan duplikasi sudah selesai. Kami sekarang mengerjakan jembatan eksisting yang terdampak banjir. Pekerjaannya berupa penambahan satu segmen dan saat ini sedang dilakukan pemancangan untuk pilar P2 atau pilar tengah,” kata Sutrisno dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (23/10/2026). Bentang dari abutment menuju pilar dirancang sepanjang 50 meter dengan kemampuan menahan beban kendaraan lebih dari 30 ton. Ketika jembatan eksisting selesai, kedua jembatan akan memperkuat kelancaran pergerakan orang dan distribusi logistik pada jalur strategis Aceh–Sumatera Utara (Sumut). Pemulihan konektivitas tersebut berjalan beriringan dengan pengamanan aliran Sungai Peusangan.  Batu boulder dipasang pada tiga segmen sepanjang 350 meter, 250 meter, dan 850 meter atau total sekitar 1,45 kilometer (km) untuk mengurangi gerusan sekaligus memperkuat perlindungan permukiman di tepi sungai. Staf Khusus Balai Wilayah Sungai Sumatera I Aceh Jamaluddin mengatakan, penanganan diprioritaskan pada kawasan yang terdampak paling berat. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari paket penanganan sedimentasi sungai yang didanai APBN 2026 senilai Rp 50 miliar. “Daerah yang kami pasang batu boulder adalah kawasan yang paling terdampak. Insyaallah sekitar 45 hari lagi pekerjaan ini sudah selesai,” ungkap Jamaluddin. Kebutuhan perlindungan sungai dinilai penting setelah banjir membawa arus deras dan endapan lumpur hingga mendekati dua meter di Desa Ujong Blang dan sejumlah desa sekitarnya.  Di Ujong Blang, empat rumah warga hilang tersapu banjir, dua rumah rusak berat, dan 12 rumah lainnya harus direlokasi. Selain itu, lahan pertanian seluas 25 hektar (ha) juga terendam. Kepala Desa Ujong Blang Aris Sandi menyampaikan bahwa pengamanan tepi sungai mulai memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama ketika hujan turun dan debit Sungai Peusangan meningkat. “Alhamdulillah dengan program ini, masyarakat kami bisa merasa tenteram dan nyaman karena saat terjadi hujan tidak waswas lagi,” ujar Aris.","publishedDateTime":"2026-10-23T13:55:35+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T13:55:35+07:00","createdAt":"2026-10-23T14:30:16.311523+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Tinggi","eventStatus":"on going","damagedObject":"Jembatan Krueng Tingkeum, Sungai Peusangan, permukiman warga, lahan pertanian","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh","province":"Aceh","regency":"Bireuen","district":"","village":""},"latitude":5.1962395076921,"longitude":96.706067395045,"shortDescription":"Banjir yang membawa arus deras dan endapan lumpur menyebabkan kerusakan infrastruktur dan permukiman di kawasan Krueng Tingkeum, Kabupaten Bireuen, Aceh.","description":"Banjir yang melanda kawasan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh, menyebabkan kerusakan pada jembatan eksisting dan aliran Sungai Peusangan. Pekerjaan pemulihan jembatan eksisting sedang dilakukan dengan pemasangan tiang pancang dan ditargetkan selesai Desember 2026, sementara pengamanan aliran Sungai Peusangan dengan pemasangan batu boulder sepanjang 1,45 km ditargetkan selesai dalam 45 hari. Banjir tersebut juga mengakibatkan empat rumah warga hilang, dua rusak berat, 12 harus direlokasi, dan 25 hektar lahan pertanian terendam di Desa Ujong Blang dan sekitarnya.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15326,"sourceId":"36c29ba043abfcd7c6d023593b23e305","url":"https://travel.kompas.com/read/2026/10/23/160000127/5-tempat-wisata-di-purwakarta-lengkap-dengan-jam-buka-dan-harga-tiket-masuk","title":"5 Tempat Wisata di Purwakarta Lengkap dengan Jam Buka dan Harga Tiket Masuk","author":"Ella Triana","publisherName":"kompas.com","content":"  KOMPAS.com - Berlibur ke Purwakarta, Jawa Barat, kurang lengkap rasanya tanpa berkunjung ke sejumlah tempat wisata berikut. Ada destinasi wisata gratis untuk rekomendasi berlibur hemat.  Tidak hanya itu, wisatawan juga bisa datang ke sejumlah tempat wisata alam seperti waduk, taman wisata alam, hingga gunung.  Jika kamu sedang mencari rekomendasi tempat wisata di Purwakarta, berikut beberapa destinasi yang bisa masuk dalam daftar kunjungan.  5 rekomendasi tempat wisata di Purwarkata  1. Taman Air Mancur Sri Baduga Taman Air Mancur Sri Baduga bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati pertunjukan air mancur di tengah kota Purwakarta. Destinasi ini berada di kawasan Situ Buleud, Negeri Kidul, Purwakarta. Sesuai namanya, daya tarik utama tempat ini adalah pertunjukan air mancur yang dilengkapi permainan cahaya dan menjadi salah satu ikon wisata Purwakarta. Wisatawan yang ingin berkunjung disarankan datang lebih awal agar bisa mendapatkan tempat yang nyaman, terutama saat akhir pekan atau musim liburan. 2. Waduk Jatiluhur  Liburan ke Purwakarta rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Waduk Jatiluhur. Berlokasi di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, waduk ini merupakan salah satu destinasi wisata alam yang populer di Jawa Barat. Waduk Jatiluhur mulai beroperasi pada 1965 dan dikenal sebagai salah satu waduk terbesar di Indonesia. Selain menjadi tempat wisata, waduk ini memiliki sejumlah fungsi penting, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, irigasi, penyedia bahan baku air minum, budidaya perikanan hingga pengendalian banjir. Wisatawan bisa menikmati pemandangan waduk dengan menyewa perahu motor untuk berkeliling dan melihat lanskap perairan dari dekat. Jika ingin liburan yang lebih santai, kamu juga bisa duduk di tepi waduk sambil menikmati suasana alam dan angin sepoi-sepoi. Harga tiket mulai sekitar Rp10.000-Rp20.000 per orang, belum termasuk biaya parkir dan wahana atau aktivitas tambahan seperti naik perahu. Sementara itu, untuk jam buka wisata umumnya sekitar 08.00-17.00 WIB.   3. Taman Wisata Batu Apung Alam Hijau Taman Wisata Batu Apung Alam Hijau bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga di Purwakarta. Tempat wisata ini berlokasi di Wanasari, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Suasananya yang asri membuat destinasi ini cocok untuk wisatawan yang ingin bersantai sekaligus menikmati waktu bersama keluarga. Selain berfoto di berbagai spot yang instagramable, pengunjung juga bisa mengajak anak bermain air di kolam renang yang dilengkapi berbagai wahana permainan. Harga tiketnya sendiri ini mulai dari Rp 30.000-Rp 40.000 per orang. Tempat wisata buka setiap hari mulai pukul 08.00-20.00 WIB. 4. Bukit Katumbiri Jika ingin mencari tempat wisata di Purwakarta dengan suasana lebih tenang, Bukit Katumbiri bisa menjadi alternatif. Destinasi ini berada di Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta. Kawasan perbukitan ini menawarkan suasana hijau dengan pepohonan yang rindang dan udara yang lebih sejuk. Wisatawan juga bisa menemukan sejumlah spot untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan alam. Salah satunya adalah gardu pandang yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama pepohonan dari ketinggian. Bagi pengunjung yang ingin datang, harga tiketnya mulai dari Rp10.000-Rp15.000 per orang. Sementara itu, tempat wisata buka setiap hari mulai pukul 07.00-17.00 WIB. 5. Panjat Tebing Via Ferrata Gunung Parang Bagi wisatawan yang menyukai aktivitas menantang, Via Ferrata Gunung Parang bisa menjadi pilihan. Aktivitas ini memungkinkan pengunjung memanjat tebing dengan bantuan tangga besi yang dipasang di sepanjang jalur. Jalur Via Ferrata Gunung Parang dapat diakses melalui Kampung Cihuni atau Kampung Cirangkong, Desa Pesanggrahan, Kabupaten Purwakarta. Tersedia beberapa pilihan ketinggian jalur, mulai dari 100 meter, 300 meter, 500 meter hingga 700 meter. Bagi pemula atau wisatawan yang belum terbiasa dengan aktivitas panjat tebing, jalur 100 meter dapat menjadi pilihan. Meski jaraknya lebih pendek, wisatawan tetap bisa mendapatkan pengalaman memanjat tebing sekaligus menikmati pemandangan alam Purwakarta dari ketinggian. Harga tiket masuk mulai sekitar Rp 150.000-Rp 300.000 per orang, tergantung ketinggian jalur dan paket aktivitas yang dipilih. Sementara itu, untuk jam masuknya, umumnya sekitar 08.00-16.00 WIB dan aktivitas dilakukan dengan pendamping atau pemandu. Bagi kamu yang tertarik untuk berkunjung, bisa melakukan reservasi sesuai dengan paket trip yang diinginkan melalui whatsapp di instagram resmi @parangviaferrata. ","publishedDateTime":"2026-10-23T16:00:00+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T16:00:00+07:00","createdAt":"2026-10-23T16:30:23.489331+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Others","severity":"Rendah","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Tempat wisata","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Purwakarta, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Purwakarta","district":"Purwakarta","village":""},"latitude":-6.5429125508885,"longitude":107.446124419345,"shortDescription":"Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi dan rekomendasi tempat wisata di Purwakarta bagi para wisatawan yang mencari destinasi liburan.","description":"Artikel ini memberikan rekomendasi lima tempat wisata di Purwakarta, Jawa Barat, yang menawarkan berbagai macam atraksi mulai dari pertunjukan air mancur, waduk, taman wisata alam, perbukitan, hingga aktivitas panjat tebing. Setiap destinasi dilengkapi dengan informasi mengenai daya tarik utama, lokasi, jam buka, dan perkiraan harga tiket masuk, serta beberapa di antaranya juga menyertakan informasi mengenai fungsi penting objek wisata tersebut.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15327,"sourceId":"e016a0d0409d2c5baced4b1207685de1","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/23/162731678/puluhan-hektare-sawah-rusak-karena-banjir-kini-panen-perdana-di-aceh-utara","title":"Puluhan Hektare Sawah Rusak Karena Banjir Kini Panen Perdana di Aceh Utara","author":"Masriadi , Ihsanuddin","publisherName":"kompas.com","content":"  LHOKSUKON, KOMPAS.com - Karung-karung gabah ditumpuk di tepi jalan beton yang membelah persawahan Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (23/10/2026). Para pekerja mengumpulkan hasil panen sebelum membawanya ke rumah masing-masing petani. Di kejauhan, mesin pemanen kombinasi atau combine harvester bergerak di antara tanaman padi yang menguning. Mesin itu memotong batang sekaligus merontokkan padi. Gabah kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dipindahkan ke sisi jalan. Hari itu menjadi panen perdana setelah banjir merendam persawahan pada akhir 2025. Sebelas bulan setelah bencana, lahan yang sempat tertutup endapan lumpur kembali menghasilkan gabah. Bagi M. Nur (56), panen tersebut mengakhiri masa ketika memiliki sawah tidak lagi menjamin ketersediaan beras untuk kebutuhan keluarganya. Petani Ulee Madon yang menggarap satu hektare sawah itu terpaksa membeli beras setelah banjir membuatnya kehilangan satu musim tanam. “Membeli beras karena satu kali tidak turun ke sawah karena banjir,” kata M. Nur.  Selama sekitar enam bulan, ia tidak dapat menggarap lahannya. Lumpur yang menyumbat saluran pengairan membuat kegiatan bertani terhenti. Sawah masih ada, tetapi belum bisa ditanami. Perbaikan irigasi kemudian membuka kesempatan bagi petani untuk kembali mengolah tanah. Air mulai menjangkau persawahan, penanaman dilanjutkan, dan kini tanaman padi memasuki masa panen. “Kita sebagai masyarakat sudah kembali menggarap seperti semula karena irigasi sudah ada,” ujarnya. M. Nur menyebut satu hektare sawahnya biasanya menghasilkan sekitar tujuh ton gabah. Hasil panen kali ini menjadi tanda bahwa ia kembali bisa mengusahakan lahannya setelah kehilangan satu musim tanam akibat banjir. Pengalaman serupa dialami Azmi Syafruddin (51). Selama kurang lebih enam bulan, ia juga tidak bisa turun ke sawah. Endapan lumpur menghambat pekerjaan di lahan seluas sekitar setengah hektare yang digarapnya. “Waktu pertama kali habis banjir kemarin, kami tidak bisa ke sawah karena banyak lumpur,” tutur Azmi. Pembersihan saluran irigasi memungkinkan petani kembali menanam. Menurut dia, pengairan ke lahannya kini sudah normal. Sawah yang digarapnya biasanya menghasilkan sedikitnya tiga ton gabah dalam sekali panen. “Iya, kali ini panen perdana sehabis banjir,” katanya. 85 hektare sawah kembali normal Keuchik Gampong Ulee Madon, Zulfikri Idris, menjelaskan banjir meninggalkan endapan lumpur dengan ketebalan rata-rata sekitar 60 sentimeter di persawahan desa. Kondisi itu membuat lahan memerlukan penanganan sebelum kembali diolah. Dari total 105 hektare persawahan di desa tersebut, sekitar 85 hektare telah kembali normal. Pemulihan dilakukan melalui pembenahan saluran, pembangunan sarana pengairan, serta bantuan pengolahan tanah. Untuk pembajakan, sekitar 75 hektare sawah memperoleh bantuan dari Kementerian Pertanian dengan nilai Rp 900.000 per hektare. “Para petani sangat bersyukur dengan bantuan itu,” ujar Zulfikri. “Alhamdulillah, hari ini sudah kita panen perdana, kata Zulfikri.  Ia memperkirakan produktivitas pada musim panen ini dapat mencapai tujuh hingga 7,5 ton per hektare. Angka tersebut masih berupa target, sementara gabah terus dikumpulkan dari petak-petak yang sedang dipanen. Meski sebagian besar sawah mulai pulih, keterbatasan peralatan masih menjadi kendala. Zulfikri mengatakan petani membutuhkan tambahan traktor roda empat dan mesin panen. Panen yang berlangsung hampir bersamaan di sejumlah wilayah Aceh Utara membuat petani kesulitan menyewa mesin dari luar desa. “Untuk mencari combine itu sendiri, untuk menyewa dari pihak luar, agak sulit karena panennya berbarengan,” katanya. Sebagian lahan Ulee Madon juga belum dapat ditanami. Menurut Zulfikri, sawah yang masih tertimbun lumpur membutuhkan pembersihan atau peninggian saluran agar air kembali dapat masuk. Pemulihan sawah di Aceh belum seluruhnya selesai Pemulihan persawahan Ulee Madon berlangsung di tengah upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir di Sumatra, termasuk Aceh. Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, pemulihan sawah dan jaringan pengairan ditempatkan sebagai bagian dari pemulihan mata pencaharian masyarakat. Dokumen rencana aksi sektor ekonomi mencantumkan rehabilitasi 27.483 hektare sawah rusak ringan dan 13.425 hektare sawah rusak sedang di Aceh, atau total 40.908 hektare. Angka tersebut merupakan rencana penanganan, bukan luas pekerjaan yang telah selesai. Penanganannya mencakup rehabilitasi lahan dan irigasi, penyediaan benih serta sarana produksi, dan pendampingan teknis kepada petani maupun kelompok tani untuk mempercepat pemulihan musim tanam. Dokumen itu juga memuat pelibatan petani melalui kegiatan padat karya, dukungan asuransi pertanian, dan penguatan penyuluhan. Pada tahap rekonstruksi, kebijakan diarahkan pada penataan kawasan pertanian berdasarkan risiko bencana serta penerapan pertanian yang adaptif terhadap iklim. Untuk mendukung infrastruktur pertanian di Aceh, rencana aksi mencakup pembangunan atau revitalisasi jaringan irigasi sepanjang 423,21 kilometer dengan kebutuhan anggaran Rp 846,42 miliar. Selain itu, direncanakan pembangunan atau revitalisasi jalan pertanian sepanjang 412,78 kilometer dengan anggaran Rp 1.444,73 miliar. Sementara itu, Laporan Harian Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra tertanggal 22 Oktober 2026 mencatat 57.171 hektare sawah terdampak di 19 kabupaten/kota di Aceh. Dari total tersebut, 27.483 hektare masuk kategori rusak ringan, 13.405 hektare rusak sedang, dan 16.283 hektare rusak berat. Dalam tabel progres pemulihan, target penanganan sawah di Aceh tercatat 31.464 hektare. Dari target itu, 28.706 hektare atau 91,23 persen telah masuk proses konstruksi, sedangkan 21.412 hektare atau sekitar 68 persen telah selesai konstruksi. Laporan tersebut menjelaskan bahwa data proses dan penyelesaian pemulihan bersifat kumulatif. Karena itu, kedua angka tersebut tidak dijumlahkan.  Dibandingkan dengan target penanganan, masih ada 10.052 hektare sawah yang belum tercatat selesai konstruksi. Namun, status selesai konstruksi belum disertai rincian luas sawah yang sudah ditanami kembali atau memasuki masa panen. Target 31.464 hektare dalam laporan harian juga memiliki cakupan berbeda dari angka 40.908 hektare dalam rencana induk. Dengan demikian, kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai ukuran keberhasilan pemulihan. Laporan tersebut belum merinci luas kerusakan, target rehabilitasi, maupun penyelesaian pekerjaan khusus untuk Kabupaten Aceh Utara. Karena itu, capaian 21.412 hektare yang selesai konstruksi merupakan angka tingkat Provinsi Aceh dan belum dapat digunakan untuk menunjukkan besaran penanganan di Aceh Utara. Anggaran daerah belum menunjukkan belanja khusus pemulihan sawah Dari sisi pendanaan daerah, dokumen realisasi tambahan transfer ke daerah (TKD) per 16 Oktober 2026 mencatat total Rp 1.652.080.314.000 untuk Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota. Seluruh dana tersebut tercatat telah diterima di rekening kas umum daerah (RKUD). Sementara itu, rekap gabungan TKD dan bantuan keuangan mencantumkan anggaran serta penerimaan sebesar Rp 1.961.434.768.200. Pada tingkat Pemerintah Aceh, anggaran yang tercantum mencapai Rp 824.818.999.000 dan seluruhnya telah diterima di RKUD. Untuk Kabupaten Aceh Utara, dokumen mencatat anggaran Rp 33.440.454.000 yang juga telah diterima seluruhnya di RKUD pada tanggal pembaruan tersebut. Namun, penerimaan dana di RKUD menunjukkan uang telah masuk ke kas daerah, bukan berarti seluruhnya telah dibelanjakan. Dokumen TKD tersebut juga belum merinci realisasi belanja, pembagian anggaran menurut sektor, maupun nilai yang digunakan khusus untuk rehabilitasi persawahan. Dengan demikian, dana Rp 33,44 miliar yang tercatat untuk Aceh Utara belum dapat disebut sebagai anggaran pemulihan sawah. Pemerintah pusat dorong pemulihan berlanjut pada 2027 Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala Satgas Nasional PRR menekankan agar kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi tetap dilanjutkan meskipun sebagian pelaksanaannya harus bergeser ke tahun berikutnya. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers seusai rapat koordinasi Satgas PRR Pascabencana Sumatra di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026). Tito menjelaskan, sebagian kementerian dan lembaga belum dapat mengeksekusi seluruh rencana anggaran hingga akhir 2026 karena keterbatasan waktu. Ia berharap anggaran untuk kegiatan yang belum terlaksana dapat dialihkan ke 2027. “Kegiatannya nggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat. Ini clear kok kegiatan-kegiatannya, ya. Apa yang akan dikerjakan, target-target detailnya semua ada di tiap-tiap K/L,” ujar Tito. Bagi petani Ulee Madon, pemulihan tersebut kini terlihat dari sawah yang kembali ditanami dan gabah yang mulai memenuhi karung-karung di tepi jalan. Namun, sebagian lahan masih membutuhkan penanganan, sementara tambahan mesin pertanian diperlukan agar panen dapat berlangsung lebih lancar. Sebelas bulan setelah banjir, panen perdana telah dimulai. Pemulihan belum sepenuhnya selesai, tetapi petani kembali memiliki kesempatan untuk mengolah sawah dan memenuhi kebutuhan pangan dari hasil panen mereka sendiri.","publishedDateTime":"2026-10-23T16:27:31+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T16:27:31+07:00","createdAt":"2026-10-23T17:00:19.944477+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Tinggi","eventStatus":"selesai","damagedObject":"Sawah","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh","province":"Aceh","regency":"Aceh Utara","district":"Muara Batu","village":"Ulee Madon"},"latitude":5.2558487705745,"longitude":96.960619637782,"shortDescription":"Banjir menyebabkan endapan lumpur di persawahan Desa Ulee Madon, Aceh Utara, yang menghentikan aktivitas pertanian selama enam bulan. Setelah perbaikan irigasi, petani dapat kembali menggarap lahan dan melakukan panen perdana.","description":"Banjir yang merendam persawahan di Desa Ulee Madon, Aceh Utara pada akhir 2025 menyebabkan lumpur mengendap setebal 60 cm dan menghentikan aktivitas pertanian selama enam bulan. Akibatnya, puluhan hektare sawah rusak dan petani kehilangan satu musim tanam. Setelah perbaikan irigasi dan pembersihan lumpur, petani kini dapat kembali menggarap lahan mereka dan melakukan panen perdana pada Oktober 2026, meskipun sebagian lahan masih memerlukan penanganan lebih lanjut dan ada kendala keterbatasan alat panen.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15328,"sourceId":"8e9120a2fe8a73054eb110288d263ee7","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/23/165941178/menata-kembali-sumatera-gerak-nyata-pemulihan-pascabencana-2025","title":"Menata Kembali Sumatera: Gerak Nyata Pemulihan Pascabencana 2025","author":"Rahmat Panji , Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" PADANG, KOMPAS.com – Bencana alam menjadi tantangan krusial pada masa pemerintah. Langkah preventif hingga mitigasi disadari hanya mampu meminimalkan dampak, bukan menghentikan paparan bencana secara mutlak. Demi menjaga keberlangsungan hidup masyarakat, upaya pemulihan pascabencana ditempatkan sebagai prioritas utama. Memasuki dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, paradigma pemulihan tak lagi berfokus sebatas fisik atau bangunan rusak, melainkan mengemban misi yang lebih fundamental mengembalikan hak atas kehidupan yang layak bagi para penyintas. Komitmen tersebut diuji ketika bencana hidrometeorologi masif menerjang kawasan Sumatera pada November 2025. Bencana melanda 53 kabupaten/kota di tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya signifikan. Sebanyak 1.207 jiwa meninggal dunia, 184.000 unit rumah rusak, dan jutaan warga terpaksa mengungsi pada awal Desember 2025.  Bagi pemerintah, angka-angka tersebut bukanlah statistik semata, melainkan panggilan darurat. \"Percayalah bahwa pemerintah akan bekerja sangat keras, berbuat habis-habisan untuk membantu Bapak dan Ibu. Kami sudah siapkan rencana, semua jembatan diperbaiki, jalan longsor ditembus, listrik dihidupkan. Kalau masih ada kekurangan, akan kita atasi bersama,\" tegas Presiden Prabowo Subianto saat meninjau langsung lokasi bencana di Sumatera. Sebagai langkah konkret, Presiden menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 2026 pada 8 Januari 2026. Keppres ini menjadi dasar pembentukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) yang diketuai Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Satgas PRR menerapkan pendekatan Quick Win berbasis pemantauan real-time (dasbor pemulihan). Data terintegrasi ini menjadi acuan kementerian, lembaga, pemda, TNI, Polri, hingga relawan untuk mengeksekusi pemulihan secara presisi.  Pendidikan dan Kesehatan Kembali Pulih Dampak gerak cepat ini mulai dirasakan langsung di lapangan. Di sektor pendidikan, Sri Annisa Maulida, siswi SMPN 4 Karang Baru, Aceh Tamiang, kini dapat kembali belajar dengan tenang. \"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak, Ibu, dan Kepala Sekolah yang telah mengusahakan yang terbaik pascabanjir. Kami sudah mendapatkan meja dan bangku untuk belajar, sehingga kami nyaman lagi,\" tutur Annisa. Selain perbaikan fasilitas fisik, para siswa mendapatkan pendampingan psikososial (trauma healing) untuk memulihkan kondisi psikologis mereka.  Hingga 9 Oktober 2026, pemerintah mencatat perbaikan telah rampung di 4.922 sekolah terdampak. Kini, tidak ada lagi siswa yang harus belajar di bawah tenda darurat. Kondisi serupa terjadi di sektor kesehatan. Sebanyak 87 RSUD dan 867 Puskesmas terdampak telah beroperasi penuh. Begitu pula dengan 2.522 Puskesmas Pembantu (Pustu) yang mayoritas selesai diperbaiki, sementara enam Pustu sisanya dalam tahap relokasi atau pembangunan ulang akibat rusak berat.  Menyalakan Roda Ekonomi Warga Pemulihan mengusung semangat \"Transformasi Pascabencana: Dari Pemulihan Menuju Kebangkitan\". Di sektor pertanian, intervensi pemerintah membangkitkan kembali asa para petani. Ketua Kelompok Tani Muaro Kandang Sadato Sumatera Barat, Hurhusni, merasa optimis untuk kembali menggarap lahannya. \"Irigasi sudah lancar. Kemarin kami menerima bantuan benih, pupuk bersubsidi, dan mesin bajak. Sekarang kami semangat lagi ke sawah untuk mencari nafkah,\" ungkapnya.  Sebagai negara agraris, pemulihan lahan pertanian menjadi kunci ketahanan pangan. Hingga kini, rehabilitasi telah menyentuh 29.024 hektar atau 55,2 persen dari total 52.624 hektar lahan terdampak. Untuk menjaga daya beli warga, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan stimulan ekonomi hingga mencapai 95,75 persen. Dana Jaminan Hidup (Jadup) pun telah menyasar 136.996 keluarga dengan total nilai Rp 674,8 miliar. Langkah ini diperkuat dengan pemetaan dan penanganan bagi 197.703 debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terdampak, serta pembukaan kembali 198 dari 201 pasar rakyat yang sempat lumpuh.  Dari Tenda Pengungsian ke Hunian Layak Sektor pemukiman mencatatkan progres signifikan. Yuli, warga Kecamatan Meureudeu, Pidie Jaya, Aceh, mengenang masa-masa sulit saat harus berdesakan di tenda pengungsian yang berdebu di tepi jalan. \"Kalau di pengungsian dulu kami tinggal dekat jalan, banyak debu,\" kenangnya. Kini, sebanyak 20.770 unit Hunian Sementara (Huntara) dari target 20.803 unit telah berdiri (99,84 persen), dengan 20.728 unit di antaranya sudah ditempati. Kehadiran Huntara memastikan tidak ada lagi penyintas yang terlunta-lunta. Pemerintah juga menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada 26.761 Kepala Keluarga (KK). Sambil warga menata hidup di Huntara, pembangunan Hunian Tetap (Huntap) terus berjalan, di mana 2.085 unit dari target 57.027 unit telah selesai dibangun.  Di sisi aksesibilitas, sinergi Kementerian/Lembaga, TNI, dan Polri menjadi tulang punggung pemulihan konektivitas. TNI AD menuntaskan pembangunan 447 jembatan (75 bailey, 241 armco, dan 131 jembatan perintis), sementara Polri menyelesaikan 117 jembatan perintis. Per Oktober 2026, seluruh jalan nasional yang terdampak banjir bandang di tiga provinsi telah fungsional 100 persen. Perbaikan jalan daerah mencapai 94 persen dan jembatan daerah 69 persen. Selain itu, pembersihan lumpur setinggi dua meter di 702 titik ruang publik telah dirampungkan.  Tantangan Bencana Berulang dan Komitmen Ratusan Triliun Kasatgas PRR Tito Karnavian menegaskan, keberhasilan ini adalah buah gotong royong pusat dan daerah, didukung Belanja Tidak Terduga (BTT), Transfer ke Daerah (TKD), serta alokasi dari 33 kementerian/lembaga. \"Proses pemulihan dilakukan secara bertahap. Pada 2026 anggaran yang dikucurkan mencapai Rp 38,9 triliun, tahun 2027 sebesar Rp 32,9 triliun, dan tahun 2028 sebagai tahap akhir sebesar Rp 28,2 triliun. Total pemerintah menyiapkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai Rp 101 triliun,\" terang Tito, Rabu (21/10/2026). Meski demikian, ancaman bencana berulang masih membayangi Sumatera Barat dan Aceh. Situasi ini menjadi tantangan terberat di lapangan karena sejumlah infrastruktur yang baru diperbaiki kerap rusak kembali. \"Jembatan yang sudah kami bangun hanyut lagi, jalan yang dibersihkan tertimbun longsor lagi, begitu juga tumpukan lumpur. Itulah tingkat kesulitan yang kami hadapi, bencana susulan terus terjadi,\" imbuhnya.  Rencana Induk Tiga Tahun hingga 2028 Untuk memastikan penanganan jangka panjang yang terstruktur, pemerintah mengesahkan Rencana Induk Percepatan Pemulihan Pascabencana (Renduk P3RP) Sumatera melalui SK Menko PMK No. 25 Tahun 2026. Program berdurasi tiga tahun (hingga 2028) ini memfokuskan intervensi intensif pada 11 kabupaten/kota—7 di antaranya di Aceh—dengan pendekatan inklusif pentahelix. Ketua Tim Media Poskonas Satgas PRR sekaligus Staf Khusus Mendagri Bidang Politik dan Media, Kastorius Sinaga, menilai pemulihan di Sumatera merupakan ujian nyata kepemimpinan nasional.  \"Bencana adalah ujian paling terbuka untuk mengukur kapasitas kelembagaan, komitmen pemerintah, kualitas kepemimpinan, dan janji Presiden kepada rakyat. Dalam waktu kurang dari setahun, Sumatera membuktikan satu hal bangkit cepat bersama,\" tegas Kastorius. Ia menambahkan, penanganan di Sumatera berjalan sejajar dengan penanganan bencana lain di Indonesia, seperti pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penanganan dampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). \"Membangun infrastruktur berarti membangun kembali ruang kehidupan. Karena transformasi pada akhirnya bukan tentang apa yang dibangun, melainkan tentang kehidupan yang kembali berjalan,\" katanya. ","publishedDateTime":"2026-10-23T16:59:41+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T16:59:41+07:00","createdAt":"2026-10-23T17:30:11.268377+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Tinggi","eventStatus":"selesai","damagedObject":"rumah, sekolah, RSUD, Puskesmas, lahan pertanian, pasar rakyat, jembatan, jalan","victim":"1.207 jiwa meninggal dunia","location":{"full_address":"Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat)","province":"Sumatera Barat","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-0.60867175289642,"longitude":100.43999822147,"shortDescription":"Bencana hidrometeorologi masif menerjang kawasan Sumatera pada November 2025, menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa.","description":"Bencana hidrometeorologi masif menerjang kawasan Sumatera pada November 2025, melanda 53 kabupaten/kota di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya sangat signifikan, menyebabkan 1.207 jiwa meninggal dunia, 184.000 unit rumah rusak, dan jutaan warga terpaksa mengungsi pada awal Desember 2025. Pemerintah membentuk Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) untuk melakukan pemulihan fisik, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan permukiman.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15329,"sourceId":"b1e3aa65eb82d9268c0d15a564a97913","url":"https://bandung.kompas.com/read/2026/10/23/175357378/potensi-longsor-dan-banjir-bandang-di-kabupaten-bandung-25-kecamatan-masuk","title":"Potensi Longsor dan Banjir Bandang di Kabupaten Bandung, 25 Kecamatan Masuk Kategori Menengah-Tinggi","author":"M. Elgana Mubarokah, Novita Rahmawati","publisherName":"kompas.com","content":" BANDUNG, KOMPAS.com - Sebanyak 25 kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masuk dalam kategori potensi gerakan tanah atau tanah longsor menengah hingga tinggi sepanjang November 2026. Hal tersebut merujuk pada dokumen Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah atau Tanah Longsor dan Banjir Bandang Seluruh Provinsi di Indonesia Periode November 2026 yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi. Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa peta prakiraan potensi tersebut disusun melalui metode tumpang susun atau overlay antara peta zona kerentanan gerakan tanah milik Badan Geologi dan peta prakiraan curah hujan bulanan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta dilengkapi dengan tabel wilayah potensi.  \"Peta prakiraan potensi terjadi gerakan tanah itu merupakan hasil overlay atau tumpang susun antara peta zona kerentanan gerakan tanah dari Badan Geologi dengan peta prakiraan curah hujan bulanan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Selain itu, dilengkapi dengan tabel wilayah potensi terjadi gerakan tanah,\" ujar Siti Sumilah melalui keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026). Ia menuturkan, peta potensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kebijakan sebagai langkah awal mitigasi bencana guna meningkatkan kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Kendati demikian, peta potensi tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah setiap bulannya karena sangat bergantung pada dinamika prakiraan curah hujan bulanan.  Berdasarkan dokumen tersebut, 25 kecamatan di Kabupaten Bandung yang masuk dalam zona potensi menengah hingga tinggi meliputi Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cangkuang, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Cimaung, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Kutawaringin, Majalaya, Margaasih, Nagreg, Pacet, Pemeungpeuk, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, Rancabali, dan Soreang. Selain ancaman longsor, sejumlah wilayah di antaranya juga diidentifikasi memiliki potensi terhadap kejadian banjir bandang serta aliran bahan rombakan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Arjasari, Banjaran, Cangkuang, Cimaung, Cimenyan, Ibun, Kertasari, Majalaya, Pasirjambu, Rancabali, dan Soreang.  Menanggapi potensi tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat di wilayah-wilayah rawan untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat terjadi hujan deras dengan durasi yang lama.  Warga diingatkan untuk menghindari tindakan yang dapat memicu longsor, seperti memotong lereng terlalu tegak atau beraktivitas di bawah dan di atas lereng yang curam. Masyarakat juga diminta untuk mengenali sejumlah tanda-tanda awal terjadinya pergerakan tanah di sekitar tempat tinggal mereka. \"Bentuk kesiapsiagaan lainnya, mewaspadai tanda-tanda awal terjadi gerakan tanah, di antaranya, munculnya mata air baru atau mata air menjadi keruh secara tiba-tiba, pembendungan alami sungai karena longsoran, munculnya retakan pada tanah tiang listrik atau pohon miring ke arah lereng. Apabila melihat tanda-tanda gerakan tanah tersebut, segera berkoordinasi dengan instansi terkait,\" kata Siti Sumilah.  Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung langsung merespons data dari Badan Geologi tersebut dengan menyebarkan surat peringatan dini ke seluruh wilayah kecamatan serta kepada tiap-tiap kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dalam surat edaran tersebut, BPBD turut melampirkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Provinsi Jawa Barat periode November 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, mengatakan bahwa pihaknya secara rutin menyampaikan imbauan dan peringatan dini ke tiap-tiap wilayah setiap bulannya sebagai langkah mitigasi.  Pihaknya mengimbau warga yang bermukim di kawasan perbukitan, kaki gunung, tebing, maupun lereng untuk senantiasa waspada terhadap ancaman pergerakan tanah.  Sementara itu, warga yang tinggal di bantaran sungai diminta untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra tatkala hujan lebat turun dalam durasi yang panjang. \"Dalam hal pencegahan, sesuai kewenangan BPBD, hanya menyerukan imbauan kewaspadaan dan membangun kesiapsiagaan,\" ucap Diki.","publishedDateTime":"2026-10-23T17:53:57+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T17:53:57+07:00","createdAt":"2026-10-23T19:21:50.626982+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Tanah Longsor","severity":"Tinggi","eventStatus":"on going","damagedObject":"25 kecamatan di Kabupaten Bandung","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Kabupaten Bandung, Jawa Barat","province":"Jawa Barat","regency":"Bandung","district":"","village":""},"latitude":-7.0349030065194,"longitude":107.66770606889,"shortDescription":"Potensi tanah longsor dan banjir bandang di Kabupaten Bandung disebabkan oleh kombinasi peta kerentanan gerakan tanah dan prakiraan curah hujan bulanan yang tinggi.","description":"Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merilis prakiraan potensi gerakan tanah atau tanah longsor menengah hingga tinggi di 25 kecamatan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sepanjang November 2026. Peta prakiraan ini disusun melalui overlay peta kerentanan gerakan tanah dan peta prakiraan curah hujan bulanan BMKG. Peta ini bersifat dinamis dan bertujuan sebagai langkah awal mitigasi bencana serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. BPBD Kabupaten Bandung telah menyebarkan surat peringatan dini ke seluruh wilayah kecamatan dan OPD.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]},{"id":15330,"sourceId":"049aa6ade4ddf5fe32bae3213058b70c","url":"https://regional.kompas.com/read/2026/10/23/210313978/gangguan-cuaca-aktif-bersamaan-bmkg-imbau-waspadai-cuaca-ekstrem-di-sumbar","title":"Gangguan Cuaca Aktif Bersamaan, BMKG Imbau Waspadai Cuaca Ekstrem di Sumbar","author":"Rahmat Panji , Icha Rastika","publisherName":"kompas.com","content":"PADANG, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem yang mungkin melanda wilayah Sumatera Barat (Sumbar) pada 23 hingga 25 Oktober 2026.Peringatan cuaca ekstrem serupa dari BMKG beberapa waktu lalu (8 Oktober) turut disertai bencana banjir bandang di Kota Padang dan Pesisir Selatan.Potensi cuaca ekstrem kali ini diperkirakan terjadi karena dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan secara intensif di sejumlah daerah di Sumatera Barat.Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan menyampaikan bahwa berdasarkan analisis dinamika atmosfer, terdeteksi beberapa gangguan cuaca yang aktif bersamaan.Di antaranya yaitu aktifnya Madden Julian Oscillation (MJO) secara spasial, Gelombang Kelvin, Sirkulasi Siklonik, Daerah Pertemuan Arus (Konvergensi), serta Shearline (belokan angin).\"Selain itu, anomali Suhu Muka Laut perairan barat Sumatera Barat yang bernilai positif turut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang intensif di beberapa wilayah Sumatera Barat,\" ujar Decky dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2026).Imbauan Kewaspadaan Bencana HidrometeorologiMenyikapi potensi cuaca ekstrem tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.Bencana tersebut meliputi banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.Masyarakat diminta memberikan perhatian khusus pada daerah-daerah yang masuk dalam daftar wilayah peringatan dini level siaga maupun waspada.Daerah yang berada di level siaga antara lain Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Kota Padang, Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Solok, Solok Selatan dan Dharmasraya.Sementara itu, di level waspada, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Sawahlunto dan Sijunjung dan sekitarnya.BMKG mengimbau warga untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca sebelum beraktivitas di luar rumah serta mengenali titik-titik rawan bencana di sekitar tempat tinggal.“Apabila terjadi hujan berintensitas tinggi dengan durasi lama, kenaikan debit air sungai, atau tanda-tanda jatuhan material longsor, kami minta masyarakat segera mencari lokasi aman,” ujarnya.Selain itu, warga diharapkan selalu melaporkan kejadian bencana dan mengikuti arahan dari petugas penanggulangan bencana setempat.","publishedDateTime":"2026-10-23T21:03:13+07:00","eventDateTime":"2026-10-23T21:03:13+07:00","createdAt":"2026-10-23T22:30:11.902137+07:00","category":"Bencana Alam","subcategory":"Banjir","severity":"Tinggi","eventStatus":"on going","damagedObject":"wilayah Sumatera Barat","victim":"tidak ada","location":{"full_address":"Sumatera Barat","province":"Sumatera Barat","regency":"","district":"","village":""},"latitude":-0.60867175289642,"longitude":100.43999822147,"shortDescription":"Potensi cuaca ekstrem di Sumatera Barat disebabkan oleh aktifnya beberapa gangguan cuaca seperti MJO, Gelombang Kelvin, Sirkulasi Siklonik, Konvergensi, dan Shearline, serta anomali Suhu Muka Laut yang positif.","description":"BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Sumatera Barat pada 23-25 Oktober 2026 akibat dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan intensif. Peringatan ini menyusul bencana banjir bandang yang terjadi sebelumnya di Kota Padang dan Pesisir Selatan. Masyarakat diimbau waspada terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, terutama di daerah yang masuk level siaga dan waspada.","affectedPaths":[],"affectedPublicTransport":[],"alternativeRoutes":[]}]}}
